
Oleh Imam B. Prasodjo, sosiolog dan dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Peraih gelar M.A. dari Kansas State University dan gelar Ph.D. dari Brown University di Rhode Island, Amerika Serikat ini mendirikan Yayasan Nurani Dunia dan aktif berbagi pemikirannya di Facebook.
Kita kasih nama saja kegiatan ini sebagai "pembelajaran melekat" (embedded learning). Apa itu pembelajaran melekat?
Penjelasannya dapat terlihat dari contoh sederhana yang kini sedang dilakukan oleh para instruktur komunitas perajin tas "Dowa Bag" asal Yogya di Kampung Ilmu, Desa Cisarua, Tegalwaru, Purwakarta.
Saya menyaksikan dengan seksama bagaimana proses pembelajaran melekat itu dilakukan, yang nampaknya dapat menjadi salah satu contoh baik (best practice) bagaimana penularan keterampilan dilakukan.
Sebenarnya kegiatan ini dilakukan tanpa sengaja. Inisiatif bermula dari kunjungan kelompok penjelajah mobil off-road alumni Universitas Gajah Mada (UGM). Mereka tengah melakukan kegiatan tahunan bernama Kagama 4x4 Jatiluhur Xplore.
Dalam rombongan petualang ini, rupanya ada seorang enterpreneur handal, penggagas dan pemilik perusahaan tas terkemuka Indonesia bermerek "Dowa Bag" (produksi PT Dowa Hanandy Utama). Namanya Delia Murwihartini.
Selama berkemah di Kampung Ilmu, rombongan ini tak hanya menikmati keindahan alam Gunung Bongkok, Sungai Citarum dan Waduk Jatiluhur, namun juga berinteraksi dengan warga sekitar lokasi berkemah.
Relawan Kampung Ilmu yang mendampingi rombongan ini selama berkemah, segera melihat jiwa kemanusiaan Ibu Delia. Nampaknya beliau tergugah untuk melakukan perubahan saat berinteraksi dengan ibu ibu di kampung ini.
Kondisi warga, khususnya para ibu di sini, memang masih dalam keterbatasan, baik pendidikan maupun ekonomi.
Dowa Bag Kerahkan Para Pengrajin

Nah, entah apa yang menggerakkan hati Bu Delia bahwa ia akan kembali ke Kampung Ilmu dengan membawa pasukan untuk melaksanakan program pemberdayaan untuk membantu warga di sini, terutama ibu ibu.
Dengan bekal pengalaman yang dimiliki, Bu Delia pun membawa tim merajut, praktisi pembuat tas Dowa Bag langsung dari Yogyakarta. Nah tanpa banyak diskusi, Bu Delia pun datang bersama para pengrajin andalannya, berjumlah sekitar 40 orang.
Dengan rendah hati, Bu Delia mengatakan, "Kami mengirimkan para pengrajin dari Yogya untuk belajar berkebun, berternak dan mengembangkan beragam keterampilan kehidupan di sini".
Sejatinya, yang saya saksikan, warga Kampung Ilmulah yang mendapatkan keterampilan, khususnya dalam merajut untuk dijadikan tas bernilai jual tinggi.
Saat para pengrajut asal Yogya mulai bekerja, mereka memberi pelatihan secara keroyokan dengan cekatan. Mereka bekerja tanpa formalitas.
Warga Kampung Ilmu yang berdatangan secara berkelompok, juga tak terlihat canggung, walau awalnya mereka agak kaku karena harus mendengarkan penjelasan sejarah berdirinya komunitas perajut tas ini.
Namun acara "kuliah" semacam ini dirasakan penting sekedar untuk memberikan dasar pengetahuan bahwa semua yang sekarang dicapai oleh Dowa Bag, semua bermula dari usaha kecil dan sederhana.
Semua usaha, bila langkah ditekuni, keberhasilan pasti akan dicapai juga.
Motivasi Mendapatkan Penghasilan

Pelatihan inti pun dimulai dengan didahukui pemberian pemahaman tata cara teknis merajut (learning to know) yang langsung ditindak-lanjuti dengan praktik (learning to do).
Bahan bahan praktik, peralatan dan bahkan contoh rajutan tas indah disediakan dan diperagakan. Untuk menambah semangat, film pendek memperlihatkan tas "Dowa Bag" yang dipamerkan dan dijual di banyak negara diputar.
Para peserta pelatihan nampak antusias, tak hanya karena akan mendapatkan ilmu ketrampilan baru, namun juga potensi mendapatkan sumber penghasilan baru.
Mereka mulai yakin dapat melakukannya karena para instruktur yang hadir adalah para pelaku pengrajin aktif yang sehari hari mereka memang bekerja sebagai perajut Dowa Bag.
Mungkin anda mulai jelas apa yang saya maksud dengan "pembelajaran melekat"? Namun, langkah kegiatan berikut ini adalah kunci penjelasan istilah ini.
Rupanya, Bu Delia tak hanya memfasilitasi para instruktur perajut untuk sekali datang dan kemudian pergi, namun Bu Delia meneruskan proses pendampingan jarak jauh.
Setelah para instruktur kembali ke ke tempat asalnya, Yogyakarta, mereka melalui jaringan telepon dan whatsap (WA) Group terus berkomunikasi dan mendampingi.
Beruntunglah kita hidup dalam era jejaring digital yang menjadikan hal ini dimungkinkan. Proses dan hasil rajutan dapat difoto dan dikirim. Bahkan secara "live" mereka dapat berkomunikasi melalui "video call".
Transfer Nilai Etos Kerja

Namun, yang luar biasa dari pembelajaran melekat ini adalah, para pendamping itu terus menerus "menempel" untuk membimbing dan bahkan kembali lagi ke Kampung Ilmu.
Contohnya, pada Sabtu (21/2/2026). Beberapa pengrajin dari Yogya rupanya datang kembali ke Kampung Ilmu untuk memberikan dampingan langsung (tatap muka).
Melalui cara seperti ini, pastilah hubungan batin antar instruktur dan peserta didik terjalin. Pelatihan dengan pendekatan semacam ini tentu tak hanya sekedar "transfer pengetahuan dan keterampilan tapi juga transfer nilai etos kerja dan motivasi.
Namun, proses pembelajaran nampaknya belum selesai. Langkah berikutnya yang diharapkan adalah tumbuhnya proses belajar untuk mempraktikkan ketrampilan ini (learning to implement) dalam kehidupan sehari hari.
Kita pun dapat bayangkan, bila proses ini berhasil, pada tahun mendatang, akan ada kelompok warga Kampung Ilmu yang menjelma menjadi kelompok warga perajut tas berkualitas ekspor.
Untuk sampai tahap itu, ada tahap paling sulit yang harus dilalui, yaitu belajar mengorganisasikan diri (learning to organize) sebagai komunitas perajut yang dilengkapi dengan etos kerja dan kemampuan manajemen yang baik.
Dengan demikian, kesimpulannya, pembelajaran melekat, meliputi empat tahap penting, yaitu: 1) learning to know, 2) learning to do, 3) learning to implement in every day life, dan 4) learning to organize for a sustainable activities.
Baca Juga: One Village Many Products
Saya semakin yakin terhadap metode "pembelajaran melekat" ini saat saya mendapat kabar bahwa puluhan peserta dari pelatihan ini, beberapa produknya telah memenuhi kriteria "layak jual" dan akan dibeli langsung oleh Dowa Bag.
Dowa Bag langsung berperan sebagai "off taker" yang menampung seluruh produk para perajut baru dari Kampung Ilmu Purwakarta. Ia berjanji akan terus mengirimkan bahan bahan untuk merajut untuk diproduksi secara terus menerus.
Berat benang yang dikirim ditimbang dan harus sama dengan berat tas hasil rajutan yang akan dibeli.
Para peserta lain yang produknya belum memenuhi standar "layak jual" akan terus didampingi, baik oleh instruktur ahli asal Yogya, maupun oleh peserta lain yang telah mumpuni.
Kini, saya jadi membayangkan. Seandainya uang triliunan dari APBN dialokasikan untuk pembelajaran melekat seperti ini, niscaya rakyat Indonesia yang memang nenek-moyangnya dikenal terampil, pasti akan bangkit kembali.
Yang bangkit tidak saja keterampilan, tapi juga kreativitas dan pendapatan keluarga. Semoga saja praktik semacam ini terus dikembangkan.
Semoga "champion" handal seperti Bu Delia dan para "instruktur otentik" dari para perajut Dowa Bag dapat terus tumbuh menjadi bagian penggerak ekonomi rakyat bawah. Semoga!***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.