Oleh Imam B. Prasodjo, sosiolog dan dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Peraih gelar M.A. dari Kansas State University dan gelar Ph.D. dari Brown University di Rhode Island, Amerika Serikat ini mendirikan Yayasan Nurani Dunia dan aktif berbagi pemikirannya di Facebook.

Betul. Gagasan ini bukan "One Village One Product (OVOP)", Satu Desa, Satu Produk, yang konon dulu pernah dimulai di Jepang (1979) dan diadopsi di Indonesia sejak 2007.

Namun, gagasannya adalah upaya menciptakan beragam sumber ekonomi desa yang dikembangkan dengan mendorong tumbuhnya banyak jenis usaha ekonomi dengan dukungan pengetahuan, ketrampilan dan inovasi (One Village, Many Products).

Gagasan pengembangan One Village One Product (OVOP) yang dulu dikembangkan (meniru Jepang dan Thailand?) memang ada juga dasar logikanya.

Tujuannya adalah mendorong pengembangan potensi desa dengan fokus pada usaha utama untuk menghasilkan satu produk unggulan khas yang berkelas yang dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan keunikan budaya (comparative advantage) untuk dapat berkompetisi di pasar domestik dan global.

Impian bagus, walau agak terlalu muluk untuk diterapkan di Indonesia.

Bila pendekatan ini diberlakukan di desa-desa Indonesia yang warganya sebagian besar masih berada dalam keterbatasan, baik kualitas sumber daya manusia (SDM) maupun struktur sosial ekonominya (seperti keterbatasan modal, pengetahuan dan ketrampilan, dan minimnya lembaga lembaga inovasi dll), menurut saya, agak kurang pas.

Bagaimana berharap dapat mengembangkan satu produk unggulan di desa untuk dapat bersaing di pasar domestik maupun global bila warga desa tak memiliki dukungan pendampingan, inovasi, modal, dan bahkan masih terbatas akses pasarnya.

Jangan Sampai Membuat Ekonomi Desa Jadi Rentan

Peternakan

Saya malah terpikir, jangan-jangan upaya yang hanya terfokus pada pengembangan satu produk dalam satu desa, akan berakibat ekonomi desa menjadi rentan, penuh risiko.

Bila desa hanya memiliki satu produk unggulan sebagai sumber ekonomi, apa jadinya bila terjadi gangguan mata rantai pasokan bahan produksi yang dikembangkan?

Dan, apa jadinya bila terjadi disrupsi pada pasar? Apalagi jaman sekarang, teknologi berkembang begitu cepat, sering menciptakan ketidakstabilan.

Oleh karena itu, menurut saya, dalam satu desa, bahkan dalam satu keluarga, harus dikembangkan beragam sumber ekonomi yang dapat menghidupi kehidupan mereka. Desa dan tiap keluarga di dalamnya tidak boleh tergantung pada satu sumber ekonomi saja.

Jadi, pendekatan yang lebih tepat, menurut saya adalah "One Village Many Products, And One Family Many Sources of Income" (Satu Desa Banyak Produk, dan Satu Keluarga Banyak Sumber Pandapatan). Bukan begitu?

Nah, dengan pemikiran ini, saat ini di Kampung Ilmu, Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat, tengah dirintis beragam sentra pembelajaran sumber sumber ekonomi desa.

Masyarakat desa dari berbagai elemen, diharapkan akan berpartisi aktif dalam berbagai kegiatan dalam sentra sentra pembelajaran dan pemberdayaan.

Baca Juga: Inspirasi Delia Murwihartini, antara "Dowa Bags" dan Keterampilan Berkebun

Ada tempat pembelajaran pembibitan dan pengembangan kebun organik, ada sentra peternakan ayam petelur, sentra budidaya ikan, sentra produksi pakan ternak

Ada dapur pengolahan makanan bergizi, dan juga ada sentra pengembangan teknologi digital. Semua sentra pembelajaran ini terus dikembangkan sebagai wadah pembelajaran dan pemberdayaan yang dikembangkan berdasarkan 4 pilar pendekatan:

  1. Learning to know (Belajar Mengerti dan Memahami Tentang Banyak Hal yang Menjadi Tema Pembelajaran)

  2. Learning to do (Belajar dengan Praktik Langsung Apa yang Dipelajari dalam Skala Kecil)

  3. Learning to implement (Belajar Mengaplikasikan Pengetahuan dan Ketrampilan yang Telah Dipelajari dalam Kehidupan Nyata di Tengah Masyarakat)

  4. Learning to organize (Belajar Mengorganisasikan Usaha yang Telah Diterapkan dalam Masyarakat agar Terbangun Sistem Kerja Berkelanjutan dan Berdampak Positif pada Kehidupan Masyarakat).

Atas dasar itulah beragam kegiatan partisipatif dan integratif akan terus dicoba dikembangkan.

Harapannya, dengan pendekatan ini, akan tumbuh individu individu warga desa yang multi talenta, multi tasking, multi kreativitas dalam menciptakan usaha usaha baru untuk dirinya dan untuk lingkungannya, serta akhirnya memiliki beragam sumber ekonomi keluarga.

Pada desa semacam ini, diharapkan akan muncul beragam kelompok aktif dan dinamis, penuh inisiatif dalam mendorong perubahan. Mungkin inilah yang mungkin oleh Amitai Etzioni disebut Komunitas Responsif (Responsive Community).***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.