Oleh Imam B. Prasodjo, sosiolog dan dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Peraih gelar M.A. dari Kansas State University dan gelar Ph.D. dari Brown University di Rhode Island, Amerika Serikat ini mendirikan Yayasan Nurani Dunia dan aktif berbagi pemikirannya di Facebook.

Nama tokoh dalam PT Dowa Hanandy Utama adalah Delia Murwihartini. Orangnya bersemangat. Bila berbicara runtut, dan tak pernah kehabisan bahan.

Saya berupaya menggali asal mula Bu Delia menjadi pengusaha fashion tas buatan tangan (handmade) merk Dowa yang kini telah mendunia.

Kesimpulannya, menurut dia, "banyak kebetulan" yang ia tafsiri sebagai "anugerah Tuhan." Tanpa anugerah Tuhan, semua yang ia dapatkan, mustahil terjadi. Begitu katanya.

Ia pun berceritera saat awal sekali berjumpa (sekitar akhir tahun 1980-an) dengan seorang turis yang sedang melihat-lihat tas di sebuah toko di Yogyakarta.

Wisatawan itu dengan teliti melihat tas yang dijajakan, namun si penjual tak mau melayani dan bahkan seperti memberi tanda mengusir. Rupanya, ini gara gara si penjual toko tak mampu berbahasa Inggris.

Delia yang kebetulan saat itu berada di toko itu, menegur si penjual. "Mengapa tak dilayani?"

Akhirnya Delia yang berbicara dengan wisatawan itu. Rupanya, si turis tengah mencari tas dengan model tertentu. Ia seperti pengusaha tas yang memahami persis selera pasar di negaranya.

Di sinilah pertemuan menentukan yang kemudian memberi jalan Delia menjadi pengusaha tas terkemuka. Inilah yang ia sebut sebagai "kebetulan" atau "anugerah Tuhan".

Insting Mengambil Kesempatan

Delia Murwihartini

Untuk berhasil menjadi pengusaha, tentu saja ada faktor penentu yang melekat dalam diri Delia. Insting (instinct) dan keberanian Delia dalam mengambil kesempatan (opportunity) tentu menjadi faktor sangat penting.

Bakat terpendam sebagai "entrepreneur" yang jeli dalam melihat kesempatan dan kreativitas telah ada dalam dirinya.

Dalam pikirannya, ia pasti mampu menghubungkan keinginan pembeli asing itu dengan tangan tangan terampil pengrajin tas yang bertebaran di Yogyakarta.

Walaupun dia sebenarnya seorang sarjana ilmu komunikasi UGM yang tak memahami seluk beluk pembuatan tas, namun dia ambil kesempatan itu.

"Apa sih sulitnya mencarikan pengrajin tas di Yogya dan memesan tas dengan desain yang diminta wisatawan itu" pikirnya.

Di sinilah awal perjalanan Bu Delia Murwihartini sebagai penghubung pembeli tas berselera desain pasar mancanegara dengan para pengrajin tas di Yogyakarta.

Singkat cerita, kini dikenal tas dengan merk "Dowa Bags", produk tas bekualitas asal Yogyakarta yang pasarnya merambah ke banyak negara Eropa dan Amerika Serikat.

Menurut Bu Delia merk "Dowa" ia pilih karena dalam bahasa Sanskerta berarti "doa." Ia menyadari betul bahwa keberhasilan usaha ini adalah berkat doa para pengrajin yang diwujudkan dalam setiap rajutan tangan mereka.

Memberdayakan Perempuan

kunjunganSaya mengagumi Bu Delia dalam menjalankan usaha ini karena ia memberdayakan begitu banyak pengrajin perempuan.

Dengan kelincahan bergaul dengan siapa saja, mulai dari kalangan atas, baik pejabat, para pengusaha asing, desainer internasional, hingga para pengrajin sederhana di desa desa, ia merajut semua potensi itu.

Saat saya pertama kali bertemu dengan Bu Delia Selasa 20 Januari 2026 lalu, ia baru saja mendarat dari perjalanan panjang, berkeliling Spanyol dan Italia.

Seperti tanpa lelah, keesokan harinya, ia langsung datang ke Kampung Ilmu, Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, untuk mendampingi rombongan pegawainya, para pengrajin Yogya yang berkunjung.

Rombongan pengrajin tas Dowa Bags ini rencananya akan tinggal selama empat hari di Kampung Ilmu. Bu Delia mendorong para pengrajin untuk belajar membangun kebun organik di pekarangan rumah mereka masing masing.

Menurut Bu Delia, berkebun itu menyenangkan hati. Ia ingin para pengrajin juga memiliki keterampilan lain yang dapat membahagiakan hati.

Apalagi berkebun organik, selain dapat menjamin makanan sehat juga bisa menjadi pendorong tumbuhnya kemandirian pangan keluarga. Kebetulan, usaha ini juga dicoba dikembangkan di Kampung Ilmu Purwakarta.

Baca Juga: Where does the City of Banjarmasin Go in the Future?

Kehadiran para pengrajin tas Dowa ini juga akan berbagi keterampilan dengan warga Kampung Ilmu bagaimana merajut tas yang selama ini mereka lakukan.

Para guru dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Tegalwaru yang sekolahnya menjadi pusat kegiatan ini juga terlibat aktif.

Saya melihat cita-cita didirikannya Kampung Ilmu mulai terlihat. Sekolah formal terintegrasi dengan beragam jenis pembelajaran yang tumbuh di sekitarnya.

Kehadiran Bu Delia dengan para pengrajin ini jelas membawa berkah. Kok bisa ini terjadi? Apakah ini juga "kebetulan" yang sejatinya "anugerah Tuhan"? Nampaknya begitu!***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.