
Oleh Bahruddin, pendiri atau inisiator Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) Kalibening Salatiga, yang juga merupakan penggerak Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT).
Sekurang-kurangnya yang saya ketahui ketika masih jadi calon presiden (capres) dan masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), Prabowo dengan sangat emosional mengemukakan:
“Many of our children are malnourished. We are stunting. A ten year old boy, the physical height, the physical size is equal four years old”
Saat itu dia menjawab pertanyaan dari Duta Besar (Dubes) Jepang dalam suatu acara yang digelar oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Dan sepertinya, setelah terpilih jadi presiden yang memenangi cukup satu putaran, pengejawantahan dari "dendam" Prabowo itu ya Makan Bergizi Gratis (MBG) ini.
Kerennya, ide MBG Prabowo-Gibran ini, sistemnya juga dirumuskan sedemikian apik oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yakni dengan sistem penganggaran berpusat pada BGN dengan pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dan, menggunakan model dapur umum (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG) serta pembayaran via virtual account bersama mitra.
Lalu, anggaran bahan makanan (sekali lagi: bahan makanan) ditetapkan per porsi Rp8.000 untuk Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) kelas 3.
Dan, Rp10.000 untuk SD/MI kelas 4 ke atas hingga ibu menyusui, dengan biaya operasional/insentif terpisah.
Persoalan MBG Diduga di "Kongkalikong"

Kalau pelaksanaan MBG ini disertai dengan pengawasan yang ekstra ketat sehingga staf akuntansinya tidak bisa kongkalikong dengan pedagang, dampak positifnya dipastikan akan luar biasa!
Semua akan bahagia, bahkan bisa saja disempurnakan dengan konsep subsidi silang menuju kemandirian dan tidak "mengganggu" APBN. Bagaimana bisa?
Begini, kalau kita makan soto di warung dengan harga Rp10 ribu per porsi, itu sebenarnya harga bahan mentahnya paling tinggi hanya separuhnya (Rp5.000).
Nah kalau dapur (SPPG) mau konsekuen menaati itu, tanpa kongkalikong dengan pedagang mark up harga bahan mentah, bisa dipastikan penerima manfaat akan sekilas menghitung nilainya jauh melampaui angka Rp10 ribu itu.
Terlebih... sebagaimana praktik anak-anak KBQT (Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah) Salatiga yang mengolah kacang hijau, gula merah, tepung tapioka, jahe, vanili, gula pasir, garam, dan daun pandan plus cup plastik dan tutupnya serta sendok plastik.
Total hanya seharga Rp80 ribuan, menjadi 90-an porsi (biaya bahan mentah sekitar 900-an perak) yang diolah menjadi bahan matang siap saji (bubur kacang hijau senilai sekitar Rp4.000-an alias empat kali lipat dari biayanya).
Karena pada dasarnya makanan anak itu tanggungan orang tua, yang mampu dipastikan akan sukarela ketika harus membayar Rp15.000 per porsi, misalnya. Itupun masih lebih murah Rp25.000 ketimbang jajan di warung (ilustrasi praktik anak-anak KBQT) .
Sudah begitu, jaminan tidak dimasak dengan minyak goreng bekas, tanpa bumbu monosodium glutamate (MSG) dan seterusnya.
Bagi yang kurang mampu juga akan dengan sukarela ketika diharuskan kontribusi Rp5.000 untuk satu porsi makanan yang dirasakan setara dengan harga Rp40.000 (hanya membayar seperdelapannya).
Dapur Sekolah Minimalkan Risiko Keracunan

Sungguh disayangkan akhir-akhir ini kita saksikan betapa marak penerima manfaat yang protes keras karena ulah pengelola SPPG (Mitra MBG) yang "main" di bahan mentah, diduga kuat kongkalikong dengan pedagang markup harga bahan mentah.
Di samping itu, ada problem yang justru paling substansial yakni gizi itu sendiri. Alih-alih menyehatkan, justru tidak sedikit kasus keracunan terjadi di mana-mana.
Memang makanan yang sudah dimasak atau makanan cepat saji (perishable food) itu harus selalu disimpan dalam kondisi hangat (panas) atau dingin untuk memastikan keamanan dan mencegah pertumbuhan bakteri berbahaya.
Menyimpan makanan pada suhu ruangan (danger zone) terlalu lama (1-2 jam) dapat memicu keracunan makanan.
Karena saking banyaknya porsi yang dikerjakan (sampai sekitar 3.000 porsi) kalau dari jam 02:00 sudah mulai memasak, jam 06:00 sudah ready, jam 10:00 baru terdistribusikan.
Berarti, ada makanan yang sudah "berumur" 4 jam berada di suhu ruangan, maka sangat potensial menjadi makanan beracun.
Baca Juga: MBG, Akses Fungsi Negara dan Pemberdayaan Rakyat
Ceritanya dipastikan akan lain kalau dapur MBG itu dibawa ke sekolah (school kitchen) sebagaimana usulan super cerdasnya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti.
Dengan school kitchen, amat sangat mungkin ketika harus disiapkan alat penghangat seperti chafing dish, slow cooker atau warming tray untuk menjaga agar makanan tetap hangat di suhu di atas 60°C.
Atau, di bawah 4°C untuk makanan/minuman dingin seperti salad (buah/sayur), sushi, sashimi, sandwich, puding, dan berbagai es (es buah, es cendol, es doger dst.).
Di samping makanan/minuman tetap enak, bakteri juga tidak akan berkembang biak, karena bakteri itu akan berkembang biak dengan cepat pada suhu antara 4°C - 60°C.
Lalu bagaimana urusan kemungkinan staf akuntansi kongkalikong dengan pedagang markup harga bahan mentah?
Bahan belum sampai dapur, yang bersangkutan sudah pasti ditendang ramai-ramai sekeras tendangannya Belgian martial artist Jean-Claude Van Damme!***
Untuk menikmati berita peristiwa di seluruh dunia, ikuti kanal TheStanceID di Whatsapp dan Telegram.