
Oleh Jalal, seorang konsultan, penasihat dan "provokator" keberlanjutan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun. Kini aktif sebagai Penasihat Senior Green Network Asia.
Di Washington, dinamikanya berbeda tapi tujuan akhirnya berdampingan dengan cara menakjubkan. Kini banyak orang baru menyadari setelah melihat foto mutakhir Donald Trump dikerubungi pemuka Kristen yang mendoakan kemenangan di Iran.
Amerika Serikat (AS) memiliki sekitar 100 juta penganut Kristen evangelikal.
Sebagian besar dari mereka tumbuh dengan Alkitab yang dianotasi oleh C.I. Scofield, yang dipopulerkan oleh buku Hal Lindsey The Late Great Planet Earth (1970) dan kemudian oleh seri fiksi Left Behind yang terjual lebih dari 65 juta eksemplar.
Inti semua bacaan ini adalah satu sistem teologi bernama dispensasionalisme: keyakinan bahwa sejarah manusia bergerak menuju klimaks apokaliptik yang telah ditetapkan Tuhan.
Bahwa, pengembalian kaum Yahudi ke tanah Israel adalah tanda-tanda Akhir Zaman, bahwa Perang Armageddon di lembah Yizreel di Israel akan mendahului Kedatangan Kedua Yesus Kristus.
Dalam kerangka ini, mendukung ekspansi Israel bukanlah pilihan geopolitik, melainkan kewajiban teologis. Setiap meter persegi tanah yang kembali ke tangan Israel adalah pemenuhan nubuat.
Setiap ketegangan di Timur Tengah adalah tanda bahwa janji Tuhan sedang bekerja. Dan konflik besar dengan Iran? Itulah Perang Besar yang tertulis di Kitab Wahyu.
Pendeta Cornerstone Church (San Antonio) dan pendiri Christians United for Israel (CUFI) John Hagee menulis buku Jerusalem Countdown yang eksplisit berargumen bahwa konfrontasi militer dengan Iran telah dinubuatkan dan orang Kristen harus mendukung.
Ketika Teologi Menjadi Kebijakan Luar Negeri

Hagee yang mengeklaim punya 10 juta lebih anggota ini memimpin doa pada upacara pembukaan Kedutaan Besar AS di Yerusalem pada 14 Mei 2018.
Bukan kebetulan. Keputusan Trump memindahkan kedutaan ke Yerusalem dirayakan di gereja evangelikal sebagai pemenuhan nubuat—secara simbolis tepat pada peringatan 70 tahun berdirinya Israel, angka yang bergaung dengan nubuat Yeremia.
Ketika Trump kemudian mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan pada 2019, respons di komunitas evangelikal AS bukan sekadar dukungan politik biasa. Itu adalah sukacita eskatologis.
Tidak ada figur yang lebih menggambarkan persilangan antara teologi dan kekuasaan ini daripada Lance Wallnau, aktivis dan penulis yang pada 2016 menerbitkan God's Chaos Candidate.
Sebelum pemilu, ia menubuatkan kemenangan Trump dan menyebutnya sebagai Raja Koresh (Cyrus) versi modern: penguasa kafir yang dipilih Tuhan bukan karena kesalehan, melainkan karena keberanian politik untuk menghancurkan tatanan yang korup.
Analogi Koresh menjadi meme budaya yang menyebar ke seluruh komunitas karismatik dan Pentakostal Amerika. Ia menjawab pertanyaan paling membuat bingung bagi evangelikal:
Bagaimana bisa seorang Kristen mendukung pria yang tiga kali menikah, pemilik kasino, dengan rekam jejak moralitas bertolak belakang dari nilai-nilai Injili termasuk perselingkuhan, pemerkosaan bahkan pedofilia?
Jawabannya: Tuhan tidak memilih orang karena kesalehannya. Tuhan memilih instrumen-Nya. Yang membuat pola ini lalu melampaui sekadar teologi ‘di luar sana’ adalah ketika ia memasuki Gedung Putih.
Baca Juga: Ketika Tuhan Dijadikan Dalih Agresi Militer (1)
Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Trump, dalam wawancara dengan Christian Broadcasting Network pada Maret 2019 di Tembok Barat Yerusalem ditanya apakah Trump adalah sosok seperti Ratu Ester?
Ratu Ester diyakini diutus Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dari ancaman Iran. Pompeo menjawab: "As a Christian, I certainly believe that's possible."
Bayangkan, Menteri Luar Negeri AS dalam kapasitas resminya, sedemikian terbuka tentang kemungkinan bahwa kebijakan luar negeri presidennya digerakkan oleh rencana ilahiah!
Ini bukan retorika kampanye. Ini adalah pernyataan seorang pejabat senior negara adidaya.
Dan, saya juga menyaksikan Mike Huckabee, duta besar Amerika Serikat untuk Israel, dalam wawancara dengan Tucker Carlson beberapa minggu lalu menyatakan dukungan ideologisnya bagi ekspansi Israel ke seluruh wilayah untuk mencapai tujuan Greater Israel.
Sistem yang Imun terhadap Koreksi

Yang membuat situasi ini begitu berbahaya bukanlah sekadar bahwa kebohongan digunakan untuk membenarkan perang—yang jelas sudah sangat buruk, seperti yang kita pelajari dari Irak.
Yang lebih berbahaya adalah bahwa sebagian dari pelakunya tidak berbohong dalam pengertian konvensional. Mereka sungguh-sungguh percaya.
Ketika seorang pendeta evangelikal AS berdoa agar konflik dengan Iran meningkat karena ia yakin itu akan memercepat kedatangan Yesus Kristus, ia tidak sedang bermain politik.
Ketika menteri Israel menampilkan peta yang memasukkan Yordania sebagai bagian dari Israel karena ia percaya itu adalah janji Allah yang belum terpenuhi, ia tidak sedang berdiplomasi, melainkan menjalankan apa yang ia anggap sebagai misi suci.
Kombinasi antara dalih keamanan yang bisa dicek dan dibantah--seperti senjata nuklir Iran yang dinyatakan akan segera jadi dalam beberapa minggu sejak awal dekade 1990an--dengan keyakinan eskatologis yang tidak bisa dibantah (karena didasarkan pada iman, bukan fakta) menciptakan ekosistem ideologis yang hampir imun terhadap koreksi.
Bukti bisa dibantah. Nubuat tidak bisa.
Kita pernah melewati jalan ini sebelumnya. Irak dihancurkan atas dasar dua hal: hasil intelijen yang dipalsukan dan ambisi yang tidak diungkapkan. Tidak ada pengadilan yang meminta pertanggungjawaban siapa pun atas kejahatan perang tersebut.
Tidak ada pelajaran yang benar-benar dipetik. Para arsitek perang itu melanjutkan karier mereka, menulis memoar, dan memberikan ceramah berbayar mahal. Irak sendiri, kita tahu, tidak pernah pulih sepenuhnya.
Motif Mengerikan: untuk Perang Akhir Zaman

Dan kini, dengan aktor yang berbeda, dengan negara sasaran yang berbeda, dengan campuran agama dan geopolitik yang bahkan lebih eksplisit dan lebih dalam dari sebelumnya, narasi yang sama sedang dijalankan kembali.
Bedanya, kali ini ada satu dimensi tambahan yang membuat segalanya lebih kompleks dan lebih mengerikan: sebagian pelakunya tidak hanya menginginkan perubahan rezim atau keamanan regional.
Mereka menginginkan Akhir Zaman, dan mereka memiliki akses ke tombol-tombol kekuasaan yang bisa memulai proses yang, sekali dimulai, sulit sekali dihentikan.
Menurut saya, publik global berhak untuk mengetahui bahwa perdebatan tentang Iran sebenarnya bukan soal pengayaan uranium dan perjanjian nonproliferasi nuklir.
Ia adalah perdebatan tentang siapa yang berhak mendefinisikan ‘keamanan’, tentang seberapa jauh keyakinan agama boleh menentukan kebijakan luar negeri sebuah negara.
Dan, tentang apakah umat manusia memiliki cukup memori kolektif untuk menolak kebohongan yang sama ketika kebohongan itu datang dengan kostum yang bahkan lebih mencolok.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance