
Oleh Moksen Idris Sirfefa, tokoh intelektual dari Papua, yang pernah menjadi bagian Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) periode 1995-1997 & 1997-1999. Aktivis yang akrab disapa Ochen ini kini menjadi anggota Dewan Pakar Majelis Nasional Korps Alumni HMI (KAHMI).
Tokoh-tokoh mistis seperti Khidir yang membocorkan perahu yang ditumpanginya bersama Musa, adalah sebetulnya berada pada hâl (keadaan) kegilaan pada Tuhannya (gila Ilahi).
Atau Sultan Nuku di Tidore yang memasukkan salah satu pengikutnya yang khianat ke moncong meriam dan ditembakkan membuat tubuh sang pengkhianat hancur menyebar ke empat penjuru mata angin.
Demikian juga Syekh Siti Jenar dan Al-Hallaj yang ucapan dan tindakannya dianggap nyeleneh: "Manunggaling Kawula Gusti," atau "Ana Al-Haqq."
Sultan Nuku bahkan digambarkan suka minum arak, humoris, tapi ia setia pada satu istri. Istrinya, Geboca, adalah penasehat utamanya yang setia.
Beliau pasti menerima hâl melampaui (beyond) syariat, yang dalam tradisi mistik Tidore, arak berubah menjadi madu. Sisi "kontroversial" ini selalu membuat penilaian orang pada sosok-sosok gila itu menyalahi kepatutan.
Beban taklif tidak berlaku atas orang-orang tersebut, karena mereka tidak memiliki akal yang bisa menerima dan memahaminya. Kisah cinta Qays yang tergila-gila pada Layla membuatnya lupa mandi dan makan, mengelana kemana-mana mencari Layla.
Pakaiannya yang lusuh dan badanya kurus kerontang tak dipedulikannya. Ia menjadi pria majnûn yang rela mencium cakar anjing-anjing yang lewat di jalan yang pernah dilewati Layla.
Juga kisah Syekh Syan'an dalam kisah klasik versi Attar yang jatuh cinta pada seorang gadis Kristen, meninggalkan segala yang berhubungan dengan Islam. Ia rela menggembala babi-babi milik sang kekasih.
Ambillah Kebajikan yang Muncul
"Kau lihat mereka memandang kepadamu padahal mereka tidaklah bisa melihat, maka ambillah kebajikan yang muncul dari mereka". Kalimat tersebut diambil dari penggalan ayat Qs Al-A'raf (198-199): وَتَرٰٮهُمْ يَنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ وَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ. خُذِ الْعَفْوَ.
Ibn 'Arabi menafsirkannya sebagai isyarat dengan makna yang berbeda dari konteks ayat.
Selain berarti maaf dan ampunan, kata al-'afwu juga berarti kebajikan atau apa yang terbaik dari sesuatu, yakni sebagian kecil dari beragam hikmah dan nasihat yang dihujamkan ke jiwa mereka oleh Tuhan (wârid), terucap lewat lisan-lisan mereka.
Di dunia tasawuf, terdapat level (maqâm) dan keadaan (hâl/ahwâl), dimana semua penempuh jalan spiritual (sâlik) mengalaminya.
Contoh maqâm seperti sabar, tawakal, menjaga diri dari maksiat (wará), hidup pas-pasan (faqîr), menerima apa adanya (qana'ah), menolak kemewahan (zuhd), rela terhadap keadaan (ridhá), cinta (mahabbah), dan mengenal Tuhan (ma'rifah).
Contoh hâl/ahwâl seperti merasa selalu diawasi (murâqabah), takut (khauf), selalu berharap (rajá), rindu (syawq), tenang dan intim (uns), tenang (thuma'nînah), penyaksian (musyâhadah), keyakinan teguh (yaqîn) yang semuanya mengarah pada Tuhan.
Di bagian lain, saya telah memasukkan mabuk (sukr, sakira), menangis (buká) sebagai hal bagi orang-orang yang menikmati jalan spiritual ini. Tetapi yang lebih revolusioner adalah bodoh (bahlûl/bahâlil) dan gila (majnûn/majânin).
Kata majnûn adalah obyek (maf'ûl) dari kata j-n-n yang berarti menutupi, menirai dan menyembunyikan. Misalnya sahabat Ibnu 'Arabi semasa di Granada, Abû Al-Hajjâj Yûsuf Al-Gallayrî.
Si Bodoh Yang Gila

Juga salah satu sahabatnya semasa di Andalusia, Abu Hasan Ali Al-Salawi. Sahabat Ibn 'Arabi yang terakhir ini selalu tertawa setiap saat, baik ketika shalat maupun di luar shalat.
Ibnu Arabi juga mengisahkan pernah bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang bodoh dan gila ini pada beberapa kesempatan. Terdapat beberapa nama sufi era Abad Pertengahan Islam yang identik dengan status "bodoh" dan "gila" mereka.
Abû Bahlûl bin 'Amrû Al-Syayrafî Al-Hâsyimî Al-'Abâsî Al-Kûfí seorang sufi gila yang hidup di era khalifah Hârûn Al-Rasyîd (sezaman dengan Abû Nawâs).
Juga Sa'dûn Al-Majnûn alias Sa'îd, salah satu dari 'Uqalâ' Al-Majânîn yang tinggal di kota Basrah, Irak. Ia berpuasa selama 60 tahun hingga selaput otaknya mengering dan orang memanggilnya si gila.
Dengan cara hidup seperti itu, para penempuh jalan spiritual mencapai Tuhan (ma'rifah). Ketika pada level ma'rifah, kelakuan atau perbuatan seorang hamba ibarat robot yang digerakkan.
Bukan ia yang melakukan sesuatu melainkan Tuhan yang melakukannya. Kehendaknya adalah kehendak Tuhan. Niatnya mewujudkan sesuatu, maka jadilah sesuatu itu.
Tuhan punya sekelompok orang yang akalnya ditirai oleh kesibukannya mengurusi pekerjaan yang disyariatkan padanya.
Pekerjaan disini berupa ibadah mahdhah (hablun min Allâh) seperti shalat, puasa, zakat, haji maupun ibadah ghayra mahdhah/mua'malah, bisnis, urusan umum yang baik terkait kemanusiaan (hablun min al-nââs), termasuk mengurus negara.
Mereka ini tidak tahu-menahu dan tidak memiliki ilmu bahwa Tuhan memiliki "perkara-perkara yang datang (menghujam) secara tiba-tiba" (wârid) tanpa ada sebab yang mendahului, tanpa disadari tanpa memiliki ilmu serta kesiapan akan kedahsyatannya.
Akibatnya orang-orang itu kehilangan akal selayaknya orang yang hilang akal.
Baca Juga: Bahlil Orang Pande: Perspektif Tasawuf (Bagian 1)
Kemudian Tuhan menjadikan perkara yang Dia hujamkan itu senantiasa tersaksikan (syahid) bagi orang tersebut, hingga akhirnya ia hanyut dalam kecintaan pada perkara itu dan terus-menerus menghabiskan waktu bersamanya.
Mereka bertindak di luar akalnya. Akalnya tertawan dan yang tersisa hanya akal hewaninya (secara fitrah) seperti makan, minum, dan bertindak tanpa kendali dan pertimbangan. Akalnya ada tapi tak fungsional.
Mereka ini adalah "orang-orang gila yang Berakal" ('uqalâ' al-majânîn),⁹ karena mereka masih bisa mengonsumsi kebutuhan tabiatinya seperti hewan-hewan dan makhluk hidup lainnya.
Berbeda dari mereka yang hâl-nya itu berlangsung terus-menerus hingga akhir hidupnya, maka inilah di jalan spiritual dengan "kegilaan" (junûn), seperti kasus Abû 'Iqal al-Maghribi.
Tapi ada juga para majnûn yang 'dikembalikan' normal, sehingga ia terlepas dari hâl-nya dan bisa berkomunikasi dengan akal sehatnya. Ia bisa mengendalikan tindakannya dan paham tentang apa yang dikatakannya.
Kesufian Populer

Bahlil bukan seorang sufi apalagi nabi. Ia hanya seorang hamba yang sama dengan hamba Tuhan yang lain. Pasti banyak orang yang memiliki pengalaman hidup yang sama bahkan paling suram sekalipun, dibanding Bahlil.
Tuhan selalu memilih hamba-hamba-Nya (yang secara fitrah adalah khalifah), dengan derajat yang berbeda-beda untuk menguji setiap hamba tentang apa yang diperolehnya (Qs. Al-An'am : 165).
Ada yang diangkat derajatnya menjadi menteri, pejabat tinggi, pejabat rendahan, staf biasa hingga office boy untuk menguji ketaatan mereka pada pekerjaannya dan pertanggungjawaban akhirnya kepada Tuhan.
Derajat (jabatan dan harta) manusia yang berbeda-beda itu sesuai dengan hasil usahanya. Dalam hal ini, hasil tidak pernah mengingkari usaha seseorang (Qs. An-Najm : 39).
Pengalaman Bahlil yang panjang, jatuh bangunnya, sabar dalam kemiskinan (termasuk sabar menghadapi orang-orang yang menghina dan memfitnahnya), tawakal, rela atas keadaan yang menimpanya, hidup pas-pasan waktu kecil hingga remaja.
Demikian juga sikapnya yang tidak bermewah-mewahan walaupun sudah punya banyak jabatan dan harta (tidak biasa berada di ruang ber-AC terlalu lama) dan pasrah pada ketentuan apapun atasnya.
Ia rela mati-matian mempertahankan marwah negara dari rongrongan deep state. Istilah deep state sering digunakan Prabowo Subianto merujuk pada kelompok bayangan atau oknum tertentu yang nyaman dengan pola lama.
Mereka berusaha memengaruhi kebijakan negara sementara mereka tidak lagi memegang kendali formal. Kelompok ini digambarkan sebagai penghalang perubahan dan sering mengatur kekuasaan dari balik layar untuk kepentingan kelompoknya.
Semua itu adalah latihan (riyâdhah) dan perjuangan (mujâhadah) dalam makna yang lebih nyata atau juga representasi dari praktek kesufian populer.
Kesufian populer adalah hilirisasi (praktik) tasawuf agar tidak dianggap hanya milik kalangan eksklusif, milik kalangan kyai dan orang-orang yang berkecimpung dalam kehidupan spiritual Islam semata.
Kesufian populer menyasar kalangan kelas menengah kota yang setiap hari sibuk berkutat dengan pekerjaan agar kesehariannya lebih spiritual dan transenden.
Mengerjakan Sesuatu di Luar Pengetahuannya

Bahlil berkali-kali mengatakan bekerja sesuai arahan presiden, memahami yang diperintahkan dan memahami profesinya selaku pembantu presiden. Ia bekerja tekun, menghabiskan waktu bersama presiden untuk hal-hal pelik di luar pengetahuannya.
Pada posisi ini akalnya tertawan dan yang bekerja adalah instingnya. Ia pernah mengakui, mengurusi investasi dan energi adalah di luar pengetahuannya, namun hasilnya spektakuler, melampaui target.
Sebuah kegilaan ('uqalâ' al-majânîn), dalam kategori prestasi kerja.
Satu hal yang tak pernah terjadi di era kepemimpinan Partai Golkar sebelumnya yaitu ketika menghadiri HUT ke-65 Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) di Jakarta, 18 Januari 2025, ia terkesan dengan pembacaan ayat Al-Qur'an di awal acara.
Dalam sambutannya, ia meminta agar pembacaan ayat suci Al-Qur'an dijadikan tradisi di setiap acara resmi partai Golkar, baik yang diselenggarakan oleh partai maupun oleh kader Golkar di DPR.
Bayangkan, partai nasionalis sekuler sekelas Golkar, ia mampu menjadikannya sebagai partai nasionalis relijius. Bahlil dengan pesonanya selalu tampil membawakan spritualitas publik yang jarang dipunyai jajaran kabinet.
Dan jika Anda perhatikan, di setiap penampilan publiknya, frasa keislaman seperti "Bismillah", "Alhamdulillah" atau "Insya Allah" termasuk ketika menutup pembicaraan dengan "Billahit taufiq wal hidayah" (tradisi HMI), senantiasa selalu menjadi ciri khasnya.
Faktor-faktor kecil tapi menentukan ini yang membuat Bahlil berbeda di panggung politik nasional. Ia memang pandé membaca peta sosial politik Tanah Air. ***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.