Jakarta, TheStance – Nama Reda Gaudiamo selama ini dikenal sebagai musisi. Bersama rekannya, mendiang Ari Malibu, perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 62 tahun silam itu terkenal lewat musikalisasi sejumlah puisi Sapardi Djoko Damono, Emha Ainun Nadjib, dan lainnya.
Kini, seiring kesuksesan film Na Willa yang tayang di bioskop sejak Rabu 18 Maret 2026, nama Reda Gaudiamo kembali menjadi sorotan publik. Kali ini bukan untuk urusan musik dan puisi, melainkan berkat karya buku novelnya Na Willa: Serial Catatan Kemarin yang diadaptasi menjadi film oleh sutradara Ryan Adriandhy bersama tim Visinema.
Melalui tulisan, Reda sering menghadirkan kisah sederhana yang memotret kehidupan sehari-hari anak-anak dengan jujur dan penuh kehangatan. Lewat Na Willa yang pertama kali terbit tahun 2012, Reda menunjukkan sisi lain dari kreativitasnya sebagai penulis cerita anak yang peka terhadap detail kehidupan kecil yang sering terlewat.
Terinspirasi Kisah Nyata Masa Kecil

Cerita Na Willa sendiri diangkat dari kisah nyata kehidupan Reda Gaudiamo saat tumbuh di Surabaya pada era 1960-an.
Melalui Na Willa, Reda membawa potongan memori masa kecilnya di gang kecil kawasan Krembangan, Surabaya, ke layar lebar. Kisah tersebut bukan sekadar fiksi, melainkan refleksi dari kehidupan nyata yang pernah ia jalani bersama teman-temannya, termasuk sosok Farida.
Dalam berbagai kesempatan, Reda menegaskan bahwa karakter dalam film tersebut merupakan representasi dari orang-orang nyata dalam hidupnya.
Na Willa sendiri merupakan representasi dari Reda Gaudiamo, gadis kecil 6 tahun yang ceria dan penuh imajinasi. Sementara sosok Pak dan Mak terinspirasi dari orang tuanya yang memiliki latar belakang suku berbeda. Ia bahkan menyebut nama-nama sahabat kecilnya seperti Farida, Dul, dan Bud sebagai bagian penting dari cerita yang ia bangun.
Sementara itu, karakter Mbok Tun, juga diangkat dari sosok nyata asisten rumah tangga keluarga Na Willa yang berasal dari Tuban. Dalam kisah aslinya, sosok tersebut digambarkan tidak bisa membaca dan menulis, serupa dengan karakter yang ditampilkan dalam cerita.
Kehidupan masa kecil di Surabaya menjadi fondasi kuat dalam karya Reda. Ia tumbuh di lingkungan yang beragam, penuh interaksi lintas budaya dan latar belakang, yang kemudian membentuk cara pandangnya dalam melihat dunia, sesuatu yang juga terasa kental dalam film Na Willa.
Dalam wawancara di siniar Maple Media, Reda mengungkapkan latar belakang menulis cerita Na Willa berangkat dari kecemasannya sebagai orang tua saat anaknya mengalami perlakuan diskriminasi ras dan agama saat hendak bermain bersama anak-anak lainnya.
"Dan mencemaskan kenapa ide itu datang dari orang tua. Saya tidak percaya anak-anak bisa memikirkannya sendiri. Pasti mereka tidak punya pengalaman tentang itu. Tidak juga punya pengetahuan tentang itu,"
"Jadi kalau sampai mereka mencetuskan kalimat bahwa 'Kamu agamanya lain sama aku, jadi aku gak mau main sama kamu'. Itu bukan karya mereka, itu bukan pemikiran mereka," tegas Reda.
Lewat karya novel yang sangat hangat dan menggembirakan, sebenarnya Reda menyelipkan dan melibatkan isu-isu penting di masyarakat: soal diskriminasi ras yang sering terjadi, toleransi beragama, pilihan perempuan untuk menikah atau tidak menikah, hingga bullying di sekolah.
Sudut Pandang Anak-anak

Salah satu kekuatan utama Na Willa terletak pada sudut pandangnya yang sangat dekat dengan dunia anak-anak. Cerita disampaikan melalui cara pandang Na Willa yang polos, jujur, rasa ingin tahu yang tinggi dan tentunya penuh imajinasi. Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele oleh orang dewasa, justru terlihat luar biasa di matanya.
Justru dari situlah, cerita Na Willa terasa sangat relate.
Lewat Na Willa, Reda ingin menghadirkan petualangan yang menyenangkan bagi anak-anak. Sementara bagi orang dewasa, Na Willa bisa menjadi pengingat bahwa di dalam diri setiap orang, masih ada sisi anak-anak yang pernah memandang dunia dengan penuh rasa takjub.
Misalnya, kisah ketika Na Willa ingin menikah. Bukan karena ia paham konsep pernikahan, tetapi hanya karena ia melihat Mbak Tin, kakak temannya, yang menjadi pengantin. Dengan logika anak-anak yang khas, ia berdoa agar bisa cepat besar dan lebih tinggi dari Mak agar bisa segera menjadi pengantin.
Keluguannya bukan hanya lucu, tetapi juga menyentuh dan mengajak orang dewasa untuk melihat dunia dari cara pikir anak-anak yang unik.
Lebih dari Sekadar Proyek Film

Reda mengaku pada awalnya tidak pernah menyangka bahwa tulisan-tulisannya akan dinikmati dalam berbagai format, mulai dari buku hingga film layar lebar.
"Ketika menulis Na Willa, saya tidak pernah berpikir dia akan jadi (film). Bahkan jadi buku pun tidak. Karena saya hanya menulis apa yang saya ingin sampaikan terus saya siarkan lewat blog saya,” kata Reda.
Saat bertemu dengan produser Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari, serta sutradara Ryan Adriandhy, Reda mengaku memiliki kesan mendalam dan langsung memberikan lampu hijau kepada rumah produksi Visinema untuk mengeksekusi karyanya tersebut.
Ia meyakini keputusan tersebut lahir karena adanya koneksi emosional yang kuat antara dirinya dengan ketiga sineas tersebut. Meski diakuinya, banyak rumah produksi lain yang juga tertarik mengadaptasi buku Na Willa.
“Itu yang membuat saya percaya bahwa Na Willa berada di tangan yang tepat,” ungkap Reda.
Reda menilai Anggia, Novia, dan Ryan tidak sekadar menganggap Na Willa sebagai proyek profesional semata, melainkan sebuah karya yang dikerjakan dengan penuh kasih sayang.
Karena itulah, ia memberikan kepercayaan penuh kepada Visinema untuk mengadaptasi buku Na Willa menjadi film tanpa memberikan batasan ketat.
“Disayang dengan sangat sangat sangat luar biasa oleh Anggia, oleh Ryan, oleh Novia dan oleh Visinema. Jadi, ini luar biasa rasanya melihat huruf yang saya susun menjadi hidup, punya warna, punya suara, punya gerak. Buat saya itu udah... It's beyond the expectation,” jelas Reda.
Kepercayaan yang diberikan Reda pun dijawab Visinema dengan proses dan hasil produksi film yang menakjubkan.
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada pendekatan visual yang unik. Sutradara Ryan Adriandhy menghadirkan Surabaya era 1960-an melalui sudut pandang anak berusia enam tahun, menjadikannya terasa segar dan penuh imajinasi.
Dengan format live action, ekspresi karakter, interaksi antar tokoh, sampai detail kecil dalam kehidupan sehari-hari jadi lebih mudah dirasakan oleh penonton. Hasilnya, film ini terasa lebih personal, seolah kita ikut masuk ke dunia Na Willa, bukan sekadar menontonnya dari jauh.
Tidak hanya itu, proses dan lokasi syuting juga dibuat ramah anak, mulai dari bebas asap rokok sampai disediakan area bermain seperti playground. Tujuannya jelas, yaitu memastikan anak-anak tetap nyaman, happy, dan bisa tampil maksimal di depan kamera.
Bahkan, selama proses syuting, disediakan waktu khusus untuk tidur siang bagi para pemain dan kru. Setelah makan siang, seluruh tim diwajibkan istirahat sekitar 30 menit untuk recharge energi, terutama karena film ini melibatkan banyak aktor cilik.
"Energi aktor anak itu berlebih dibanding orang dewasa. Justru karena itu mereka perlu istirahat. Jadi aku bisa jamin ini satu-satunya produksi film di Indonesia yang ada break tidur siangnya,” ujarnya.
Film Tembus 1 Juta Penonton

Setelah tayang 16 hari tayang dibioskop sejak tayang perdana pada 18 Maret 2026, jumlah penonton Film Na Willa berhasil menembus angka 1 juta penonton di bioskop Indonesia.
Pencapaian ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi sutradara Ryan Adriandhy. Bagi pria yang tahun lalu sukses membawa film animasi Jumbo menembus 10 juta penonton itu, satu juta penonton Na Willa tetap terasa istimewa.
"Alhamdulillah 1.000.000++ penonton! Terima kasih banyak, penonton Indonesia," tulis Ryan melalui akun X pribadinya.
Ryan juga memastikan bahwa kisah Na Willa akan berlanjut. Ia menyebutkan bahwa sekuel film tersebut kini tengah dalam tahap pengembangan naskah.
“Film yang sekarang masih tayang adalah awal. Dunia Na Willa masih akan berkembang di film kedua,” ujarnya. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance