
Oleh Syaifullah, pemerhati isu pendidikan dan sosial. Pernah menjadi leader consultant Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah, dan kini aktif sebagai Principal Consultant Implementasi Knowledge Management Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Di langit yang tinggi, mata elang elektronik tak pernah berkedip,
Membidik koordinat di balik gunung yang sunyi dan senyap.
Drone meluncur tanpa suara, membelah awan dengan presisi,
Menghancurkan target ribuan mil tanpa sedikit pun deviasi.
Sebuah mahakarya sains, sebuah puncak dari akurasi,
Di mana nyawa lawan bisa dicabut hanya lewat layar eksekusi.
Dunia terpukau pada "Serangan Presisi" yang tanpa cela,
Seolah kematian bisa diatur rapi seperti angka di atas kepala.
Namun turunlah ke gang gelap, ke trotoar tempat kebenaran berjalan,
Di mana seorang aktivis melangkah sendirian di bawah rembulan.
Tak ada drone di sana, tak ada teknologi yang dipuja dunia,
Hanya ada tangan pengecut dan botol plastik berisi derita.
"Serangan Presisi" ke musuh jauh, dipuji sebagai kemenangan,
"Serangan Air Keras" ke pejuang, dilakukan sebagai pembungkaman.
Satunya menghancurkan benteng lawan dengan api yang berkobar,
Satunya melelehkan wajah kebenaran agar suaranya tak lagi terdengar.
Betapa ironisnya negeri yang kita bangun dengan susah payah:
Rudal kita sanggup mengejar bayangan di balik awan yang pecah,
Tapi hukum kita gagal mengejar pelaku penyiram cairan sampah.
Target drone jelas, koordinatnya pasti, tak pernah salah arah,
Tapi target air keras adalah nurani, agar ia layu dan menyerah.
Sains melompat ke bintang, tapi moralitas merangkak di selokan,
Antara teknologi yang mematikan dan tirani yang menyakitkan.
Rudal itu jujur dalam tugasnya untuk menghancurkan,
Tapi air keras itu dusta, senjata para penakut yang kehilangan alasan.***
Untuk menikmati berita di berbagai dunia, ikuti kanal TheStanceID di Whatsapp dan Telegram.