Oleh Pius Lustrilanang: aktivis yang terjun ke dunia politik bersama Partai Gerindra, memperoleh gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Jenderal Soedirman dalam bidang Ilmu Manajemen Pemerintahan Daerah.

Konflik Timur Tengah juga memiliki implikasi geopolitik yang signifikan bagi Rusia.

Moskwa secara resmi menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, tetapi pada saat yang sama tidak menunjukkan keinginan untuk terlibat langsung dalam konfrontasi militer dengan AS.

Salah satu dampak paling penting dari konflik ini adalah potensi pergeseran fokus strategis Barat dari Ukraina.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, negara-negara Organisasi Pakta Altantik Utara (North Alliance Treaty Organization/NATO) telah memberikan bantuan militer, ekonomi, dan kemanusiaan dalam jumlah besar kepada Kyiv.

Menurut laporan Kiel Institute for the World Economy berjudul "Ukraine Support Tracker" (2025), total bantuan Barat kepada Ukraina telah mencapai sekitar €380 miliar.

Apabila konflik Timur Tengah terus meningkat, perhatian politik dan militer Barat akan semakin terbagi antara dua kawasan konflik besar. Kondisi ini dapat memberikan ruang strategis tambahan bagi Rusia dalam menghadapi tekanan geopolitik NATO.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga berdampak langsung pada pasar energi global.

Laporan "Commodity Markets Outlook" dari Bank Dunia (2025) menunjukkan bahwa gangguan pasokan minyak akibat konflik geopolitik dapat menaikkan harga minyak global sekitar 20% hingga 30% dalam jangka pendek.

Sebagai salah satu eksportir energi terbesar di dunia, Rusia berpotensi memperoleh keuntungan ekonomi dari kenaikan harga tersebut.

China: Ketergantungan Energi dan Stabilitas Jalur Perdagangan

Rusia

Pendekatan China terhadap konflik ini sangat dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan keamanan energi. China saat ini merupakan importir minyak terbesar di dunia dan sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.

Menurut laporan "World Oil Transit Chokepoints" dari U.S. Energy Information Administration (EIA) yang diterbitkan pada 2025, sekitar 20 juta-21 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz, setara dengan sekitar 20% konsumsi minyak dunia.

Selain minyak mentah, jalur tersebut juga menjadi rute utama bagi sekitar 20% perdagangan global gas alam cair (LNG).

Data International Energy Agency (IEA) dalam Oil Market Report 2024 menunjukkan bahwa konsumsi minyak China mencapai sekitar 16,3 juta barel per hari (bph), dengan impor sekitar 11,1 juta bph. Sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah.

Ketergantungan yang tinggi terhadap impor energi menjadikan stabilitas kawasan Teluk sangat penting bagi perekonomian China.

Gangguan terhadap Selat Hormuz atau jalur perdagangan energi lain dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global. Karena itu China cenderung mengambil posisi diplomatik yang menekankan stabilitas regional dan penyelesaian konflik melalui negosiasi.

Pendekatan ini konsisten dengan strategi global China yang lebih mengutamakan ekspansi ekonomi dan diplomatik dibandingkan keterlibatan militer langsung.

Risiko Ekonomi Global

IMF

Konflik di Timur Tengah memiliki implikasi ekonomi yang jauh melampaui kawasan tersebut. Gangguan terhadap pasokan energi global dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi dunia secara keseluruhan.

Laporan "World Economic Outlook 2025" yang diterbitkan International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran 3,1% pada 2025–2026.

Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi dunia masih berada dalam kondisi yang relatif rapuh. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa konflik geopolitik di kawasan penghasil energi dapat memicu lonjakan harga energi global.

Selama krisis energi tahun 2022, misalnya, harga minyak Brent sempat melampaui US$120 per barel, sementara harga gas alam di Eropa meningkat lebih dari 300% dalam waktu singkat.

Kenaikan harga energi tak hanya mempengaruhi sektor energi, tetapi juga berdampak pada biaya transportasi, produksi industri, dan harga pangan. Karena itu konflik di Timur Tengah memiliki konsekuensi ekonomi yang luas bagi sistem internasional.

Perubahan distribusi kekuatan global dalam dua dekade terakhir mendorong munculnya kembali konsep multipolaritas dalam hubungan internasional.

Stephen M. Walt dalam artikelnya "Alliances in a Unipolar World" (2009) menjelaskan bahwa dalam sistem unipolar negara-negara lain sering memilih strategi hedging, yaitu kombinasi antara kerja sama terbatas dan penyeimbangan strategis terhadap kekuatan dominan.

Namun ketika kekuatan global mulai terdistribusi lebih merata, sistem internasional dapat bergerak menuju struktur multipolar.

Sistem Multipolar dan Ketidakpastian Strategis

multipolar

Patrick James dan Michael Brecher dalam artikel "Stability and Polarity: New Paths for Inquiry" (1988) mengingatkan bahwa sistem multipolar tidak selalu lebih stabil dibandingkan sistem unipolar atau bipolar.

Dalam beberapa kasus, keberadaan beberapa pusat kekuatan justru meningkatkan risiko salah perhitungan strategis dan konflik regional.

Konflik Iran–Israel–AS mencerminkan dinamika tersebut. Ia merupakan konflik regional yang berlangsung dalam konteks kompetisi geopolitik yang semakin kompleks antara kekuatan besar dunia.

Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memperlihatkan bagaimana konflik regional dapat mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam sistem internasional.

Iran berusaha menghadapi tekanan militer dengan strategi penangkal asimetris yang menekankan peningkatan biaya konflik bagi lawannya.

Rusia memanfaatkan konflik ini sebagai peluang geopolitik tidak langsung untuk mengurangi tekanan Barat dan memperoleh keuntungan dari pasar energi.

China, di sisi lain, berupaya menjaga stabilitas jalur perdagangan energi yang sangat penting bagi perekonomiannya.

Dengan demikian, konflik Iran–Israel–AS bukan hanya persoalan keamanan regional. Ia merupakan bagian dari proses restrukturisasi kekuasaan global yang lebih luas.

Dunia tidak lagi berada dalam struktur dominasi tunggal seperti pada awal era pasca-Perang Dingin, tetapi juga belum mencapai keseimbangan kekuatan yang stabil.

Dalam ruang transisi inilah berbagai konflik regional muncul sebagai refleksi dari perubahan besar dalam tatanan internasional.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.