Oleh Endang Aminudin Aziz, The 100 Most Influential People in AI 2024 versi Majalah TIME, kini bertugas sebagai Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).

Orang tatar Priangan Timur sangat akrab dengan merek dodol khas Garut Picnic. Penganan ini sering dijadikan bekal dalam perjalanan atau sebagai buah tangan.

Istilah piknik juga dekat dengan pemahaman “orang yang melakukan perjalanan ke luar wilayahnya sendiri”.

Namun, hal ini sedikit berbeda dengan istilah picnic bagi kebanyakan orang Australia misalnya, yang memaknai picnic sebagai acara meriung untuk makan-makan atau menikmati kudapan sambil bersantai di luar rumah.

Bahkan, botram di halaman belakang rumah atau di taman sebelah rumah pun sering disebut piknik.

Membaca judul buku PhD Piknik karya Tatang Muttaqin, pembaca akan tersaji kepada makna kata yang kedua, yakni perjalanan ke luar wilayah tempat tinggal untuk tujuan wisata. Namun, wisata yang digambarkan Tatang bukanlah wisata biasa.

Pertama, pelancongan Tatang itu dilakukan di sela-sela kesibukannya sebagai seorang mahasiswa program doktoral (PhD) yang sudah pasti memiliki tugas akademik sangat bertumpuk.

Kedua, piknik sang mahasiswa PhD ini bukan hanya dilakukan sendirian atau dengan sang istri, tetapi sering juga bersama ketiga anaknya, yang tentu saja memiliki implikasi riweuh dengan akomodasi dan berbiaya besar.

Ketiga, wisata yang Tatang lakukan bukan hanya ke kota-kota di sekitar tempat kuliahnya, yakni Groningen, tetapi sampai melintasi batas negara dan bahkan benua.

Tidak tanggung-tanggung, ada 15 kota di negeri Belanda, 15 kota di Eropa Utara yang meliputi 5 negara, 14 kota di 7 negara wilayah Mediterania dan Eropa Timur, 4 kota di UK, 11 negara di Asia, 12 kota di Amerika Utara.

Plus, perjalanan ibadah haji 21 hari ke Makkah dan Madinah. Pembaca dapat membayangkan betapa banyak dan panjangnya perjalanan piknik yang Tatang lakukan walaupun sibuk menulis disertasi.

Beneran Kuliah Apa Melancong?

Tatang Muttaqin

Mungkin timbul kesan dan pertanyaan apakah Tatang ini benar-benar kuliah atau hanya—dan lebih mementingkan—jalan-jalan selama tugas belajar di Groningen itu?

Akan tetapi, bagaimanapun, dugaan dia lebih banyak jalan-jalan daripada belajar dapat dengan mudah dibantah, sebab Tatang berhasil menuntaskan studinya dengan baik, menyandang gelar doktor, dan berkiprah dengan sangat baik sambil berprestasi moncer pascastudi doktoralnya.

Siapapun yang sedang menempuh pendidikan doktoral akan dikaitkan dengan adanya tekanan jiwa (stress) yang luar biasa agar bisa menulis disertasi/tesis doktoralnya dengan fokus.

Kehidupan mahasiswa program doktoral sudah pasti sangat didikte dari jadwal membaca jurnal dan buku rujukan, aktivitas di lab, diskusi akademik, bimbingan dengan supervisor, merevisi naskah, dan sejumlah kegiatan akademik lainnya.

Namun, hal itu berbeda dengan pengalaman Tatang, anak kampung dari kaki Gunung Papandayan Garut. Baginya, kuliah pada jenjang PhD adalah saat-saat ketika dia bisa berkelana ke berbagai penjuru dunia.

Dalam bahasanya, piknik ini adalah “perpaduan antara akademik dan rekreasi, serius meneliti tetapi tetap menikmati hidup, berpikir keras tetapi juga berkelana bersama keluarga”.

Sebab, bagi Tatang, melancong sambil tetap fokus menulis disertasi adalah “perjalanan [yang] bukan sekedar menambah gelar, melainkan menambah makna”.

Bermula dari Cita-Cita Jadi Montir

sepeda

Pemaknaan yang Tatang lakukan tampak begitu mendalam. Perjalanan Tatang kecil begitu akrab dengan sepeda BMX-nya, sehingga kemudian bercita-cita menjadi montir sepeda.

Namun, kenyataannya berbalik di mana Tatang justru memegang kunci pengembangan kualifikasi kompetensi para pekerja bidang vokasi, termasuk montir sepeda.

Kini Tatang menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen VPKPLK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Dalam posisinya itu, Tatang tampak begitu memaknai pentingnya keterampilan vokasional bagi penguatan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Sejauh tertentu, Tatang begitu menghayati keistimewaan keterampilan vokasional yang diwakili oleh pengamatannya kepada kepiawaian seorang montir sepeda di kampung halamannya dulu.

Dalam setiap perjalanan ke tempat-tempat yang disinggahinya, Tatang tidak merasa cukup hanya untuk melihat betapa indah dan menakjubkannya sebuah kota dengan segala macam fenomenanya.

Tatang mencoba mengulik makna yang diberikan melalui pancaran fenomena kota-kota itu.

Dia menilik sampai sedetil mungkin, memberikan paparan kepada para pembaca, sehingga buku ini nyaris bisa menjadi pedoman awal bagi para calon pelancong ke wilayah yang sudah Tatang singgahi.

Tatang layaknya menjadi agen sebuah biro perjalanan yang sedang mempromosikan sebuah tujuan wisata.

Pentingnya Makna Keluarga

Tatang MuttaqinTatang memaknai keluarga dengan penuh arti. Baginya, keluarga merupakan tempat membina rasa cinta, saling memahami, dan saling belajar, bahkan belajar kepada anak sekalipun.

Hal ini Tatang buktikan dengan kebiasaannya bercengkerama bersama istri dan ketiga anaknya yang sedang tumbuh dewasa.

Namun, pemaknaan terdalam Tatang tentang hakikat keluarga sangat tampak pada waktu melakukan perjalanan ibadah haji yang tidak pernah diduganya.

Serangkaian kejadian selama ibadah haji menggambarkan secara jelas bagaimana Tatang memaknai pentingnya komunikasi verbal dan nonverbal harus mewujud dalam praktik, sebagaimana dia pernah pelajari ketika berada di bangku kuliah sarjananya di Universitas Padjadjaran.

Hubungan dan kecintaan Tatang kepada sang Ibu juga tidak lupa dia gambarkan dengan sepenuh cinta.

Buku yang memuat delapan bab dengan tebal 300 halaman termasuk Prolog dan Epilog ini sangat bermakna sebagai bagian untuk merefleksi diri. Dua bagian yang menjadi Prolog dan Epilog bisa dilihat sebagai intisari dari buku yang cukup tebal ini.

Narasi yang Tatang bangun memberikan semangat kepada siapapun yang sedang atau akan melakoni studi doktoral agar tidak takut menghadapi bayang-bayang kesibukan tugas-tugas akademik dan angkernya supervisor.

Semuanya bisa dihadapi dengan santai walaupun tidak berarti bisa sambil berleha-leha. Kerja keras dan kerja cerdas dengan tetap fokus pada lokus pekerjaan menggarap disertasi bisa menjadi pedoman sukses studi doktoral.

Baca Juga: Polisi Sita Buku Sebagai Alat Bukti: Sudah Seputus Asa itu Mengriminalisasi Pendemo?

Namun demikian, sebagai sebuah buku berisi catatan perjalanan pribadi, buku ini terasa belum lengkap mengingat dua hal.

Pertama, di luar detil-detil keterangan untuk setiap tempat yang dia kunjungi, tampaknya Tatang lupa atau terlewat untuk memasukkan gambar-gambar untuk memberikan ilustrasi lebih utuh tentang tempat itu.

Bagaimanapun, gambar yang sesuai akan memberikan cerita sangat banyak kepada para pembaca selain narasi dalam kata-kata.

Namun demikian, dalam hemat Tatang, para pembaca kayaknya harus memahami bahwa Tatang tidak sedang berperan menjadi pegawai agen perjalanan yang sedang “jual kecap” mengenai tujuan wisata.

Kedua, Tatang seperti lupa untuk berbagi informasi tentang titimangsa atau waktu kejadian kunjungan ke tempat-tempat itu. Informasi tanggal, musim, atau lamanya perjalanan di suatu tempat tidak banyak diungkap.

Padahal, catatan itu sangat bermakna dalam memahami konteks sebagaimana dinarasikan dalam buku itu. Apakah itu sebuah cara Tatang untuk menyembunyikan keterangan itu? Tentu hanya Tatang yang mengetahui maksudnya.

Sukses, Kang Tatang.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.