
Oleh Muhammad Fawaid, seorang akademisi pemerhati sosial dan ekonomi, dosen di Institut Sains dan Teknologi NU (STINUBA) Denpasar, yang juga Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali. Kini aktif menciptakan konten melalui akun Tiktok @m..fawaid.al.
Seruput kopi dulu, Bli…
Sebab, berita ini bukan buat menakut-nakuti, tapi buat bikin kita melek mata, terutama yang belanja kebutuhan bayi sambil ngantuk karena begadang ganti popok.
Badan Pengawasan Obat dan Makanaan (BPOM) baru saja memerintahkan Nestlé menghentikan distribusi sementara susu formula bayi tertentu di Indonesia.
Bukan karena gosip WhatsApp grup keluarga, tapi karena peringatan keamanan pangan global dari sistem internasional yang namanya saja sudah bikin serius: EURASFF dan INFOSAN.
Kedengarannya, seperti nama robot di film sci-fi, tapi dampaknya nyata.
Masalahnya ada pada potensi cemaran toksin cereulide, racun yang diproduksi bakteri Bacillus cereus. Racun ini bandel. Diseduh air panas? Dia santai. Direbus? Dia tetap eksis. Ibarat mantan toksik: sudah diputus, masih nongol di hidup kita.
Produk yang diminta dihentikan adalah S-26 Promil Gold pHPro 1 usia 0–6 bulan, dengan nomor bets tertentu.
BPOM sudah uji sampel, hasilnya tidak terdeteksi. Tapi tetap ditarik. Kenapa? Karena konsumennya bayi, makhluk kecil yang daya tahannya belum bisa diajak kompromi.
Di sinilah kita belajar satu hal penting: produk ditarik bukan berarti panik, tapi karena kehati-hatian.
Pencegahan Menjadi yang Utama

Bayangkan kalau semua keputusan di negeri ini pakai prinsip yang sama. Baru potensi masalah saja sudah dicegah. Bukan nunggu viral dulu, baru klarifikasi sambil senyum kaku.
Yang bikin kita perlu senyum miris, banyak dari kita belanja produk bayi cuma lihat tiga hal: merek terkenal, diskon gede, kalengnya lucu.
Nomor bets? “Ah itu tulisan kecil, nanti saja.”
Izin edar? “Yang penting ada label.”
Padahal, di balik tulisan kecil itulah nasib kesehatan manusia mini dipertaruhkan.
BPOM sudah jelas:
Produk dengan nomor bets tertentu dihentikan
Produk Nestlé lainnya aman
Tidak ada laporan bayi sakit di Indonesia
Penarikan dilakukan sukarela di bawah pengawasan
Artinya negara sedang bekerja, bukan sedang drama.
Dan lucunya, produk ini ditarik di 49 negara. Dari Eropa sampai Afrika. Dari Amerika sampai Asia. Kalau ini film, judulnya mungkin: “Satu Racun Kecil Keliling Dunia.”
Baca Juga: Mengenal Redenominasi: Ketika Nol-Nol di Uang Kita Mulai Ingin Pensiun
Moral ceritanya sederhana tapi penting, jadi konsumen itu jangan cuma pintar membandingkan harga, tapi juga rajin membaca detil. Baca label. Cek nomor izin edar. Perhatikan nomor bets.
Dan kalau ada pengumuman resmi, jangan sok paling tenang sambil bilang, “Ah biasa.”
Karena, untuk urusan bayi, biasa itu terlalu berisiko. Kehati-hatian bukan berarti lebay. Dan tertawa membaca berita bukan berarti menyepelekan.
Justru, dengan sedikit jenaka dan banyak kesadaran, semoga kita semua lebih waras saat belanja: bukan cuma beli yang terkenal, tapi juga yang terjamin.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance