Jakarta, TheStance – Sejumlah negara di Asia melakukan sejumlah kebijakan di dalam negeri mereka untuk mengatasi dampak kenaikan biaya minyak dan gas global yang disebabkan perang AS-Israel dengan Iran.
Bahkan, beberapa negara memilih 'mengencangkan ikat pinggang' untuk menjaga terhindari krisis.
Seperti diketahui, pada pekan ini, harga minyak mentah melonjak di atas US$100 per barel akibat kekhawatiran potensi kekurangan pasokan energi dari Timur Tengah karena perang yang mungkin berkepanjangan.
Ditunjuknya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru akhir pekan lalu membuat sejumlah kalangan memprediksi faksi garis keras masih memegang kendali negara, dan menunjukkan sikap perlawanan Iran terhadap AS dan Israel.
Negara-negara Asia Timur terkena dampak yang sangat parah akibat konflik ini. Tak mengherankan, mengingat pasokan energi mereka selama ini sangat bergantung dari rute laut strategis Selat Hormuz, yang menjadi jalur minyak global.
Namun, hal berbeda ditunjukan sejumlah pejabat di Indonesia yang tenang-tenang saja merespons gejolak harga minyak dan gas. Belum ada pengumuman tentang langkah yang menonjol dari pemerintah Indonesia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM), Bahlil Lahaladia memastikan persediaan minyak dan gas untuk masyarakat aman sampai lebaran.
Menurutnya, Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan BBM hingga 25 hari. Stok BBM Indonesia sebetulnya tercatat masih dibawah standar International Energy Agency (IEA), yakni 90 hari cadangan minyak mentah atau produk BBM.
Pemerintah merencanakan membangun kapasitas penyimpanan lebih besar agar stok BBM mencapai 3 bulan. Bahlil pun menjamin harga bahan bakar bersubsidi tidak akan naik, setidaknya sampai Hari Raya Idul Fitri 2026.
"Problemnya, kita sekarang bukan di stok. Stok, enggak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di masalah harga," kata Bahlil, dalam keterangan resmi di situs Kementerian ESDM, Senin, 9 Maret 2026.
Kompak Potong Gaji Hingga Berlakukan WFH

Dirangkum TheStance, berikut negara-negara di Asia yang mulai mengeluarkan kebijakan baru sebagai respon atas kenaikan harga minyak dunia sebagai dampak terjadinya perang Iran dan AS-Israel.
Kebijakan yang dilakukan mulai dari pengurangan jam masuk ke kantor hingga efisiensi bahan bakar.
1. Pakistan Tutup Sekolah dan Kampus
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan pada Senin, 9 Maret 2026. Mulai pekan depan, seluruh sekolah di Pakistan akan tutup selama dua minggu, berdampak pada sekitar 40 juta siswa.
Perguruan tinggi dan universitas beralih ke kuliah daring selama periode yang sama. Kantor pemerintah, kecuali perbankan, hanya akan beroperasi empat hari dalam sepekan, dengan separuh pegawai negeri bekerja dari rumah.
Jatah bahan bakar untuk kendaraan dinas dipangkas setengahnya selama dua bulan, dengan pengecualian hanya berlaku untuk ambulans dan bus umum. Pembelian kendaraan dinas baru juga ditangguhkan hingga Juni 2026.
Sementara itu di kalangan pejabat, para menteri kabinet dan penasehat pemerintah sepakat untuk melepas gaji dan tunjangan mereka. Selain itu, anggota DPR juga dipotong gajinya.
Akibat dari kenaikan harga minyak dunia, Pakistan telah menaikkan harga bensin dan solar sebesar 55 rupee (sekitar Rp3.316) per liter, kenaikan terbesar dalam sejarah negara itu.
Alasannya, karena hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung pada impor, inflasi di Pakistan sangat rentan terhadap fluktuasi harga bahan bakar global.
2. Thailand Terapkan WFH Bagi PNS

Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan para pegawai negeri untuk bekerja dari rumah mulai Selasa 10 Maret 2026, kecuali bagi mereka yang harus melayani masyarakat secara langsung.
Langkah lain yang diwajibkan antara lain mengatur suhu pendingin ruangan di kisaran 26-27 derajat Celsius, mengenakan kemeja lengan pendek, mematikan lampu dan peralatan listrik saat tak digunakan, hingga menghindari penggunaan lift.
Perjalanan dinas ke luar negeri juga ditangguhkan. Pemerintah turut mengimbau masyarakat untuk melakukan carpooling guna mengurangi konsumsi bahan bakar.
Thailand saat ini memiliki cadangan energi untuk sekitar 95 hari ke depan. Sebanyak 68% kebutuhan energinya dipasok dari gas alam, dan negara itu tengah mencari pasokan LNG tambahan dari Amerika Serikat, Australia, dan Afrika Selatan.
3. Filipina Berlakukan WFH
Presiden Ferdinand Marcos Jr, pada Jumat 6 Maret 2026, mengumumkan rencana menerapkan kerja 4 hari seminggu bagi sebagian besar kantor pemerintah. Ketentuan ini tidak berlaku untuk layanan kritis seperti pemadam kebakaran dan rumah sakit.
Marcos menjelaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menghemat energi dan menekan konsumsi bahan bakar, seiring naiknya harga minyak global setelah konflik memanas di kawasan penghasil energi itu.
Tak hanya itu, pemerintah juga meminta lembaga-lembaga negara menekan konsumsi bahan bakar serta listrik. Caranya mulai dari pengaturan suhu pendingin ruangan, pembatasan penggunaan energi di kantor, hingga penerapan pola kerja lebih fleksibel.
4. Bangladesh Tutup Universitas demi Hemat Listrik
Pemerintah Bangladesh memutuskan untuk menutup seluruh universitas negeri dan swasta sebagai bagian dari langkah darurat penghematan energi, dengan mempercepat libur Idulfitri.
Kampus-kampus universitas dinilai menyedot listrik dalam jumlah besar untuk asrama, ruang kelas, laboratorium, dan pendingin ruangan. Penutupan ini juga diharapkan mengurangi kemacetan lalu lintas yang selama ini memboroskan bahan bakar.
Sekolah pemerintah dan swasta di Bangladesh sendiri sudah tutup sejak awal Ramadan, sehingga hampir seluruh institusi pendidikan di negara itu kini libur. Termasuk sekolah dengan kurikulum asing dan pusat bimbingan belajar swasta.
Untuk diketahui, Bangladesh bergantung pada impor untuk 95% kebutuhan energinya. Pemerintah sudah memberlakukan pembatasan harian pembelian bahan bakar sejak Jumat, 6 Maret 2026, menyusul aksi panic buying dan penimbunan.
Krisis gas yang parah bahkan memaksa empat dari lima pabrik pupuk milik negara menghentikan operasinya, dengan pasokan gas yang ada dialihkan ke pembangkit listrik demi menghindari pemadaman massal.
5. Vietnam Hapus Tarif Impor Bahan Bakar

Di Vietnam, Kementerian Perdagangan meminta pelaku usaha mendorong karyawan mereka untuk bekerja dari rumah guna menghemat konsumsi bahan bakar. Pemerintah juga menyerukan agar masyarakat tak menimbun atau berspekulasi soal BBM.
Vietnam termasuk negara yang paling terdampak oleh gangguan pasokan akibat perang Iran, mengingat ketergantungannya yang tinggi pada impor energi dari Timur Tengah.
Sejak akhir bulan lalu, harga bensin di Vietnam naik 32%, solar 56%, dan minyak tanah melonjak hingga 80%. Antrean panjang kendaraan juga terlihat di berbagai SPBU di Hanoi.
Sebagai respons darurat, Vietnam pada Senin, 9 Maret 2026, memutuskan menghapus tarif impor bahan bakar, berlaku hingga akhir April.
Selain itu, Perdana Menteri Pham Minh Chinh juga menghubungi langsung para pemimpin Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk mengamankan pasokan bahan bakar dan minyak mentah bagi negaranya.
6. Korea Selatan Terapkan Batas Harga BBM
Pemerintah Korea Selatan (Korsel)menyatakan akan menetapkan batas harga bahan bakar (price cap) di dalam negeri.
Dengan kata lain, harga BBM di SPBU tidak boleh melebihi angka tertentu meskipun harga minyak dunia sedang melonjak. Konsekuensinya pemerintah akan menanggung biaya sebagian.
Dalam rapat kabinet darurat, Presiden Korsel Lee Jae Myung mengatakan konflik Iran telah menimbulkan "beban yang signifikan" bagi perekonomian negara, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.
Korsel siap mengambil langkah tambahan dan memperluas program stabilisasi pasar keuangan senilai 100 triliun won (Rp1.130 triliun) jika diperlukan.
Kementerian Perdagangan Korsel juga mengingatkan pemasok minyak bahwa setiap upaya untuk memanfaatkan krisis akan ditindak tegas, seraya menyerukan penetapan harga yang "transparan dan adil" setelah harga BBM naik beberapa hari terakhir.
Meski demikian, Korea Selatan masih memiliki cadangan minyak strategis yang cukup besar, yakni setara dengan sekitar 208 hari konsumsi, sesuai standar International Energy Agency (IEA).
Baca Juga: Hormuz, Selat yang Bakal Menjadi Penentu Arah Ekonomi Dunia
7. Myanmar Batasi penggunaan Kendaraan Pribadi
Pemerintah militer Myanmar membatasi penggunaan kendaraan pribadi mulai Sabtu 7 Maret 2026 untuk menghemat BBM karena gangguan pada jalur pelayaran Timur Tengah yang mengancam pasokan energi negara itu.
Dikutip dari Bloomberg, mobil dan motor pribadi kecuali kendaraan listrik (EV) hanya akan diizinkan di jalan setiap dua hari sekali berdasarkan nomor plat kendaraan.
Nomor plat genap diperbolehkan berada di jalan pada tanggal genap, dan nomor plat ganjil diperbolehkan berada di jalan pada tanggal ganjil.
Myanmar diketahui sangat bergantung pada impor bahan bakar, sehingga rentan terhadap gangguan rute pasokan minyak global karena ketegangan di Timur Tengah mengancam pengiriman.
Myanmar memiliki cadangan sekitar 60 juta galon bensin dan hampir 70 juta galon cadangan solar yang cukup untuk konsumsi nasional sekitar 40 hari. Konsumsi harian BBM sekitar 3,2 juta galon.
Namun, kekurangan BBM mulai muncul di beberapa bagian. Antrean panjang juga terlihat di SPBU termasuk Mandalay, sekitar 245 kilometer di utara ibu kota Naypyidaw, sementara pasokan di Shan menipis setelah impor Thailand dihentikan.
8. Jepang Bersiap Lepas Cadangan Minyak

Berbeda dengan negara-negara Asia Tenggara yang fokus pada penghematan, Jepang memilih memperkuat sisi antisipasi pasokan. Langkah ini sejalan dengan tingginya ketergantungan Negeri Sakura terhadap impor energi dari Timur Tengah.
Jepang mulai mengambil langkah antisipatif di tengah lonjakan harga energi akibat perang Iran melawan AS-Israel.
Pemerintah Jepang dilaporkan telah meminta salah satu fasilitas cadangan minyak nasional, yakni Shibushi National Petroleum Stockpiling Base di Prefektur Kagoshima, untuk bersiap jika sewaktu-waktu perlu melepas stok minyak ke pasar domestik.
Jepang memiliki cadangan minyak yang sangat aman, bertahan hingga 254 hari (sekitar 8,5 bulan) berdasarkan data Maret 2026, untuk menghadapi potensi krisis energi akibat ketegangan di Timur Tengah.
Stok ini terdiri dari cadangan strategis pemerintah, stok komersial, dan cadangan bersama. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance