
Oleh Airlangga Pribadi, staf pengajar ilmu politik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga, Surabaya.
Apa kunci dari kekuatan pertahanan Iran menghadapi serangan brutal dari kaum imperialis sehingga mampu bertahan sedemikian lama?
Bandingkan dengan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang hanya 300 menit. Bagaimana perang yang diprediksi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hanya berkisar 3 hari, menjelma menjadi perlawanan keras?
Bahkan perlawanan itu sampai mengancam ketahanan AS yang mengarah pada dipermalukannya AS dengan zionis dalam ancaman kekalahan perang.
Ada yang memberi pendapat kemenangan Iran tidak bisa dilepaskan dari kekuatan spiritual masyarakat Iran yang terbangun setelah Revolusi Iran dan teologi kesyahidan.
Poin di atas penting dan tidak bisa diabaikan. Namun demikian, saya kurang puas dengan penjelasan semata-mata spiritual. Jawabannya saya temukan ketika saya membaca karya Kevan Harris, yakni A Social Revolution: Politics of Welfare In Iran.
Yang saya temukan adalah spiritual kesyahidan bertemu dengan perbaikan kondisi material. Spiritualitas syahadah berjumpa dengan perubahan dan perbaikan konkret hajat hidup orang banyak.
Inilah yang membuat spiritualitas di Iran bukan spiritualitas omon-omon, tapi spiritualitas yang berjejak. Apa maksudnya setelah menghadapi turbulensi sosial-politik semenjak era revolusi, dan menghadapi perang dan invasi dari Irak?
Berjejak pada Keadaan di Bumi

Bersamaan dengan blokade ekonomi, negara Iran mengelola desain welfare state yang menghubungkan teologi langit dan kenyataan historis-material.
Dibangunlah institusi-institusi publik distribusi seperti Imam Khomeini Relief Foundation, Foundation of Martyrdom dan institusi-institusi sejenis untuk menaikkan kesejahteraan rakyat di wilayah rural, mengelola kesehatan dan pendidikan rakyat serta mengurus kehidupan para keluarga korban perang.
Teologi langit berjejak pada keadaan di bumi manusia.
Selanjutnya kalau kita membaca riwayat revolusi Iran, yang menggugat imperialisme budaya, salah satu tema penting di dalamnya adalah menarasikan emansipasi dalam konteks peran keperempuanan.
Kita akan melihat bagaimana intelektual Islam seperti Ali Syari’ati menulis karya berjudul Fatima is Fatima. Syaikh Murtadho Muthahari menulis dan memberi kuliah soal 'Hak Wanita dalam Islam'.
Mereka memberi kuliah materi-materi tersebut dalam kuliah di Husyainiyah Al-Irsyad. Kesadaran-kesadaran teologis-ideologis tadi tidak hilang bahkan mewujud menjadi kebijakan yang mematerial di Republik Islam Iran.
Kita menyaksikan secara konkret dari narasi emansipasi menjadi kebijakan yang membebaskan. Angka literasi perempuan di Iran sekarang sudah 99%.
Angka partisipasi perempuan di pendidikan Iran dalam keadilan gender menjadi mayoritas (70% mahasiswi adalah perempuan) dan capaian-capaian progresif lainnya.
Baca Juga: Ketika Tuhan Dijadikan Dalih Agresi Militer (1)
Iran berhasil memberikan alternatif tentang apa itu emansipasi perempuan. Semua akan berproses dalam dinamika dan dialektika yang berlangsung dalam kenyataan di internal sosial-politik negerinya.
Maknanya, di Iran, teologi kesyahidan bukanlah menjadi candu yang melenakan atau pelipur lara.
Teologi kesyahidan menjadi sumber-sumber kemajuan Iran yang akan diperjuangkan sekuat tenaga bahkan sampai pada nyawa dari rakyat Iran karena capaian-capaian konkretnya?
Saya jadi ingat orasi Bung Karno tentang kuliah Tauhid soal kita mempercayai Tuhan karena haqqul yaqin!
Itulah yang kita saksikan dari keberanian mental dan spiritual melawan agresi kaum fasis dan imperialis. Itulah energi mereka yang membuat mereka mampu bertahan dari kekuatan agresor dari kaum imperialis!***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.