The Stance – Pada dini hari 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB, bumi di wilayah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) bergetar dengan kekuatan magnitudo 7,7. Ia mengungkap setidaknya tiga problem struktural penanganan bencana di Indonesia.

Gempa dangkal yang berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 10–15 kilometer itu, dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back-Arc Thrust).

Guncangan kuat dirasakan hingga skala VII–VIII MMI di beberapa kawasan, memicu peringatan dini tsunami yang kemudian dicabut setelah gelombang yang tercatat umumnya di bawah satu meter.

Empat hari kemudian, setidaknya 70 orang dilaporkan tewas dan ratusan hingga lebih dari seribu orang luka-luka. Angka Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dan Kementerian Kesehatan berbeda karena perbedaan metode pencatatan.

Ribuan hingga puluhan ribu warga terpaksa mengungsi, banyak di antaranya masih bertahan di tenda darurat, halaman sekolah, atau kebun karena rumah mereka rusak atau karena ketakutan akan gempa susulan.

Hingga 19 Agustus pagi, Beden Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 2.700 gempa susulan, dengan yang terbesar mencapai magnitudo 6,2. Aktivitas ini diperkirakan masih fluktuatif dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

Risiko Bencana Tak Merata

gempa NTT - basarnas

Gempa ini adalah cerminan ulang tentang bagaimana Indonesia, sebagai negara kepulauan di Cincin Api Pasifik, terus menghadapi risiko bencana yang tidak merata.

Flores dan wilayah NTT secara keseluruhan memiliki karakteristik yang memperparah dampak: topografi berbukit, infrastruktur yang terbatas, akses jalan yang sering terputus longsor, serta sebaran penduduk di daerah terpencil.

Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi yang paling parah dalam jumlah korban jiwa, sementara Nagekeo, Sikka, Ngada, Ende, dan Manggarai Barat juga merasakan kerusakan signifikan pada rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan tempat ibadah.

Dari sisi penanganan, respons pemerintah menunjukkan pola yang sudah lebih terkoordinasi dibanding bencana sebelumnya di Sumatra dan Aceh. Status tanggap darurat langsung ditetapkan selama 14 hari (hingga 28 Agustus).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuka posko utama di Labuan Bajo dan posko taktikal di Maumere. Tim SAR (Search and Rescue) gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan relawan bergerak cepat.

Listrik di sebagian besar Flores berhasil dipulihkan dalam hitungan hari, jaringan telekomunikasi berangsur normal, dan beberapa ruas jalan nasional kembali dapat dilalui.

Bantuan logistik, tenda, dan paket sembako disalurkan, termasuk melalui udara ke lokasi-lokasi terisolasi. Tidak ada lagi laporan warga hilang, sehingga fokus bergeser ke penyisiran, perawatan korban, dan pemulihan layanan dasar.

Problem Struktural Berulang

tim sar - NTT

Namun, masih ada beberapa persoalan struktural yang berulang. Pertama, kecepatan dan pemerataan bantuan masih menjadi tantangan klasik di wilayah kepulauan dan pegunungan.

Warga di pelosok Manggarai Timur dan kawasan terpencil lainnya sempat menunggu hari-hari pertama tanpa bantuan memadai, sementara gempa susulan terus mengguncang rasa aman.

Kedua, kualitas bangunan. Banyak rumah dan fasilitas publik yang rusak berat mencerminkan standar konstruksi yang belum sepenuhnya tahan gempa, terutama di daerah dengan keterbatasan ekonomi dan pengawasan.

Ketiga, dampak berantai terhadap pendidikan dan kesehatan. Ratusan satuan pendidikan terdampak, termasuk laporan tentang murid dan guru yang menjadi korban. Fasilitas kesehatan yang rusak menambah beban pada sistem yang sudah terbatas.

Secara lebih luas, gempa Flores 2026 mengingatkan kita pada sejarah seismik wilayah ini. Gempa besar 1992 di Flores yang memicu tsunami mematikan masih membekas dalam memori kolektif.

Meski sistem peringatan dini tsunami sudah jauh lebih baik, dan BMKG serta BNPB lebih cepat dalam komunikasi publik, ketahanan komunitas di tingkat lokal masih bergantung pada kesiapsiagaan individu dan modal sosial.

Banyak warga yang memilih mengungsi mandiri ke tempat terbuka atau tenda karena pengalaman dan insting, bukan karena instruksi formal semata.

Dari sudut pandang pembangunan, peristiwa ini menyoroti ketimpangan antara pusat dan daerah pinggiran. NTT seringkali berada di urutan bawah indikator pembangunan nasional.

Baca Juga: Pemerintah Pede Belum Buka Bantuan Internasional untuk Gempa NTT

Ketika bencana datang, kerentanan sosial-ekonomi memperburuk penderitaan: keluarga miskin kehilangan papan dan sumber penghidupan, anak-anak kehilangan akses pendidikan, dan perempuan serta lansia menghadapi beban ekstra di pengungsian.

Program pembangunan infrastruktur, termasuk jembatan, jalan, dan fasilitas publik yang lebih tahan bencana, serta edukasi kebencanaan yang berkelanjutan, menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar reaksi pasca-bencana.

Pemerintah pusat dan daerah kini memasuki fase kritis: dari tanggap darurat menuju pemulihan dini.

Target pemulihan layanan dasar dalam tujuh hari sebagian sudah tercapai, tetapi rehabilitasi rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan akan membutuhkan waktu, anggaran, dan pengawasan yang ketat agar tidak mengulang kesalahan masa lalu.

Transparansi data kerusakan dan penyaluran bantuan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik. Di saat yang sama, masyarakat diingatkan untuk tetap waspada terhadap gempa susulan dan menghindari bangunan yang retak.

Gempa magnitudo 7,7 di NTT adalah pengingat keras bahwa Indonesia hidup di atas lempeng yang aktif, sekaligus ujian bagi kapasitas negara dan masyarakat dalam merespons, beradaptasi, dan membangun kembali dengan lebih baik.

Empat hari setelah guncangan utama, warga masih menunggu kepastian. Beberapa sudah mulai membersihkan reruntuhan, sementara yang lain masih bertahan di tenda di bawah langit yang sesekali diguncang gempa susulan.

Bencana tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menguji seberapa siap kita sebagai bangsa untuk melindungi yang paling rentan dan membangun kembali dengan lebih tangguh. (EDITORIAL)

imak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance