Oleh Budi Laksono, dikenal sebagai “Dokter Jamban” setelah mencetak rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) atas dedikasinya membangun jamban berkelanjutan terbanyak di Indonesia, melalui yayasannya Wahana Bakti Sejahtera. Dosen Disaster Management Universitas Diponegoro (Undip) ini kerap jadi relawan di daerah bencana.

Hari ini di antara kita ada yang bingung, ikut lebaran model Hisab atau Rukyat. Suatu pertanyaan klasik ratusan tahun.

Ketika pedoman dijelaskan gamblang untuk mengakhiri puasa, menjadi complicated ketika secara politis organisasi atau negara bercampur di tengah alam transparansi global.

Seperti banyak orang bijak bilang, beda berlebaran merupakan gambaran kebesaran hati umat muslim menerima perbedaan.

Walaupun demikian, dalam pandangan global bisa muncul hal negatif karena untuk menentukan tanggal 1 saja orang berdebat berat, menghabiskan energi.

Dalam dakwah, ini sering menjadi sebab negatif persepsi terhadap umat Islam. Dianggapnya umat islam suka saling berbeda dan sulit untuk bersatu. Padahal dalam Islam tak ada perbedaan yang fatal, tentang berapa Tuhannya, siapa Tuhan terbesar dll.

Perbedaan ini ada sejak dahulu ketika kita tak bisa berkomunikasi. Ironisnya ketika komunikasi lancar, kok justru tidak lancar membangun kesamaan persepsi?

Ketika keluarga kami ke Medan, beli pakaian untuk shalat Ied besok Lebaran pada Jumat, ibu-ibu pada bingung. Lha, mereka belum masak rendangnya. Maklum, rendang masaknya bisa lama.

Tidak ada beda fatal dalam Islam tentang konsep dan hakiki beragama.

Ali Khamenei Bangunkan Dunia Islam

Ali Khamenei

Bahkan perang Iran dan kemunculan pidato Ayatollah Ali Khamaeni tentang apa itu Syiah dan perjuangannya membela Islam dan Sunni Palestina membuka pandangan yang selama ini dikuasai oleh Barat tentang beda Syiah Sunni yang tak tersatukan.

Bahkan, bagaimana ada ulama Sunni yang getol mengkafirkan orang Syiah? Posting ulama mengkafirkan Syiah kini banyak ditentang oleh pemuda IsIam di dalam responnya di media sosial.

Lihat di media Ustadz Basalamah yang mengkafirkan Syiah, direspon negatif masyarakat banyak. Apalagi, kini kita tahu, bahwa intelligent Barat membayar orang untuk saling mengkafirkan antar umat Islam agar tak bersatu.

Organisasi teroris Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) dll, sekarang kita pahami sebagai bentukkan Barat yang nyata.

Perbedaan pandangan memang harus jadi kontrol yang membangun. Tetapi beda untuk hal yang sepele, mungkin bisa menghabiskan energi kita yang saat ini dituntut mengefisiensikan energi untuk kemajuan.

Puasa mengajarkan konsep yang mulia. Ibadah pengorbanan besar.

Walau begitu, Tuhan pernah menyebut itu lebih khusus untuk kita sendiri agar sehat. Sehat jasmani, yaitu agar endapan-endapan sisa metabolik terlarutkan lagi sehingga aliran darah sehat kembali.

Puasa membuat kita menguasai nafsu. Nafsu makan yang membuat kesehatan rusak. Nafsu yang ingin membuat kita merasa tak mampu melawan "keinginan" seperti rokok dan adiktif lain.

Baca Juga: Sukses Kelola Ekonomi Desa, Dua Desa di Jawa Tengah Bagi-Bagi THR ke Warga

Puasa membuat kita mampu menguasai nafsu hewani yang kadang kita merasa tak mampu atasi.

Puasa membuat kita memahami bagaimana rasanya menjadi orang miskin, sehingga kita makin sadar bahwa mencuri, maling, merampok, korupsi, gratifikasi akan membuat ekonomi sulit dan orang miskin makin sedih.

Demikian juga mendapat upeti atas kerja profesional yang sudah dibayar gaji, atau mempersulit rejeki dan pekerjaan orang lain karena nafsu ingin diberi, dll.

Esensi filosofi puasa yang menyadarkan perilaku baik inilah yang menjadi kunci utama.

Bukan soal berlebaran Jumat atau Sabtu, melainkan seberapa jauh kita kembali ke fitrah kita, sumpah kita sebagai manusia, pegawai, karyawan, yang baik jujur dan keras ikhtiar.

Maka tidak penting bagi bangsa, dan juga kemanusiaan, Anda akan Lebaran Jumat atau Sabtu. Tetapi sehabis puasa ini apakah kita masih mencuri hak yang bukan untuk kita?

Sudah adilkah pada sesama? Sudah profesional kah kerja kita, sudah lebih sayanglah kita pada sesama dll. Itu yang menjadi ukuran sukses tidaknya kita berpuasa.

Shalat Ied bukan pembeda antara kita. Apalagi itu cuma sunnah, bukan wajib. Semoga kita makin sehat jasmani dan jiwanya.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance