Jakarta, TheStance – Ada tradisi menarik di Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sejak tahun 2023, ribuan orang warga secara rutin mendapat uang Tunjangan Hari Raya (THR).

Menariknya, THR yang diberikan bukan dari donasi atau sumbangan tokoh masyarakat melainkan hasil dari kreativitas warga dalam mengelola objek wisata Umbul Pelem.

Anggaran yang dialokasikan untuk THR warga tahun ini mencapai Rp585.250.000, di mana setiap jiwa menerima sebesar Rp250.000.

Pemerintah Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah membagikan tunjangan hari raya (THR) kepada warganya di Gedung Serbaguna Desa Wunut pada Kamis (5/3/2026).

Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistiya Setiawan, mengatakan, THR yang dibagikan kepada warga Desa Wunut merupakan hasil pendapatan dari pengelolaan objek wisata Umbul Pelem.

Pendapatan objek wisata tersebut pada tahun 2025 tercatat mencapai Rp5,1 miliar, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp4,7 miliar.

"Untuk pendapatan tahun ini (2025) Umbul Pelem Rp5,1 miliar. Dibandingkan tahun 2024 ada kenaikan sekitar Rp400 juta. Jadi yang kita bagikan pendapatan tahun 2025," ujar Iwan dikutip dari Kompas.com.

THR untuk Warga Sejak 2023

kades

Kegiatan ini telah dilakukan pemerintah Desa Wunut sejak 2023 dan nominalnya terus mengalami kenaikan tiap tahunnya.

Iwan menjelaskan, semula warga mendapat THR sebesar Rp300 ribu per keluarga pada 2023.

Jumlah ini naik menjadi Rp400 ribu per keluarga. Per tahun 2025, THR tak lagi dibagikan per keluarga namun per orang dengan nominal Rp250 ribu.

"Tahun kemarin kita memberikan per jiwa per orang Rp 200.000. Untuk tahun ini kita naikkan jadi Rp250.000," kata Iwan.

Selain nominal uang yang bertambah, Pemerintah Desa Wunut juga meningkatkan jumlah warga penerima THR. Jika pada tahun lalu tercatat ada 2.289 jiwa, pada tahun 2026 ini jumlah penerima meningkat menjadi 2.341 jiwa.

Dari mana pemerintah Desa Wunut mendapatkan uang senilai ratusan juta rupiah untuk dibagikan sebagai THR bagi ribuan warganya?

Keberadaan sumber daya alam Umbul Palem merupakan kunci kesejahteraan masyarakat desa setempat.

"Kita punya wisata, punya sumber daya alam ini bagaimana kita bersama-sama dengan warga tetap menjaga Umbul Pelem sehingga bisa bermanfaat, bisa mensejahterakan masyarakat desa," kata Iwan.

Dari Desa Miskin Menjadi Desa Mandiri

umbul pelem

Desa Wunut berjarak 19 kilometer di utara pusat kota Klaten dan berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

"Dulu kami itu desa miskin," kata Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistiya Setiyawan.

Pria yang menjabat sebagai kepala desa sejak 2007 ini menceritakan saat ia pertama kali menjabat desa ini hanya memiliki pendapatan asli desa (PADes) sekitar Rp30-50 juta.

Dengan pendapatan sebesar itu, Iwan mengaku tak bisa berbuat banyak untuk desanya. Bahkan kala itu desanya tak memiliki mesin printer untuk urusan administrasi. Hal itu berimbas pada lambannya pelayanan kepada masyarakat.

Baru ditahun 2015, Iwan mulai bisa melakukan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setelah mendapat bantuan dana desa.

Dana desa senilai sekitar Rp200 juta itu kemudian dia gunakan untuk mengembangkan waterpark, wahana bermain dan wisata keluarga berupa kolam renang dari sumber mata air.

Waterpark ini dinamai Umbul Pelem karena airnya bersumber dari tempat yang tidak jauh dari pohon mangga. Airnya jernih namun alirannya tidak besar.

Di Umbul Pelem ada berbagai wahana air, seperti kolam renang; tempat bermain anak; dan flying fox.

"Jadi airnya bersumber dari umbul, tanpa kaporit. Kolam renang setiap hari kita buang airnya, kita bersihkan. Kemudian setiap hari kemudian diisi lagi. Pagi sudah penuh lagi," kata Iwan.

Pada 2018, Umbul Pelem mulai dibuka untuk umum dan mendapat omzet mencapai Rp700 juta pada Desember 2018. Dari jumlah itu, sebesar Rp200 juta masuk sebagai pendatan asli desa (PADes).

Sejak itu, Desa Wunut memiliki usaha desa berupa Umbul Pelem Waterpark yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sumber Kamulyan.

Usaha wisata Umbul Pelem yang dikelola Bumdes Sumber Kamulyan Desa Wunut, memberikan perubahan drastis.

Pada 2024, tempat wisata ini mampu memberikan PADes sebesar Rp3,1 milyar, berkali-kali lipat dari semula yang sebesar Rp30 juta.

"Sekarang kita kategori desa mandiri dan Bumdes kategori maju," kata Iwan.

Disebut kategori desa mandiri karena Desa Wunut memiliki pendapatan lebih besar dibanding dengan bantuan dari pemerintah.

Iwan mengakui tanpa dana desa tidak mungkin bisa membangun dan mengembangkan Umbul Palem hingga seperti sekarang.

Dia pun mengajak seluruh warga Desa Wunut untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan Umbul Pelem agar objek wisata ini terus memberikan manfaat jangka panjang.

Menurutnya, keberadaan sumber daya alam tersebut merupakan kunci kesejahteraan masyarakat desa setempat.

Mampu Sejahterakan Warga Desa

desa wunut

Sejak 2018 hingga Desember 2024, omzet Umbul Pelem terus meningkat mencapai Rp26 miliar, dengan total pendapatan bersih sekitar Rp20 miliar.

Dari pendapatan tersebut, pemerintah desa mampu memberikan perlindungan sosial kepada perangkat desa.

Menurut Iwan, sejak 2019, pemerintah desa juga membayarkan warganya yang berusia 18-60 tahun untuk mengikuti BPJS-Ketenagakerjaan. Hingga kini, ada sekitar 1500 orang yang terdaftar BPJS-Ketenagakerjaan.

Sedangkan, bagi warganya yang tidak memenuhi syarat ikut program BPJS-Ketenagakerjaan, berusia di bawah 18 atau di atas 70 tahun, mereka mendapatkan dana perlindungan.

"Jadi ketika ada warga kami tidak mempunyai BPJS Ketenagakerjaan, ketika meninggal keluarga kita santuni Rp10 juta," katanya.

Selain BPJS-Ketenagakerjaan, mulai 2022, bagi warganya yang belum terdaftar BPJS Kesehatan oleh pemerintah, Iwan mendaftarkannya masuk program BPJS Kesehatan.

"Kita bayarkan semuanya. Alhamdulillah, terasa sekali manfaatnya bagi masyarakat," kata Iwan.

Desa Berjo Bagikan THR Rp500.000 per rumah

Desa berjo

Selain Desa Wunut di Klaten, pemerintah desa lainnya di Jawa Tengah yang menyalurkan bantuan tunai kepada warganya atau kerap disebut sebagai tunjangan hari raya (THR) adalah Pemerintah Desa Berjo di Kabupaten Karanganyar.

Pemerintah Desa ini telah menyalurkan bantuan tunai kepada warganya pada 2–3 Maret 2026 lalu, dimana setiap rumah menerima bantuan sebesar Rp500.000.

Kepala Desa Berjo Dwi Haryanto mengatakan, bantuan tersebut merupakan bagian dari program 3 SBS yang dijalankan pemerintah desa, yakni Semua Bisa Sejahtera, Semua Bisa Sarjana, dan Semua Bisa Sehat.

"Jadi memang kita memberikan bantuan pangan kepada warga masyarakat, biasa ya berhubung ini bulan puasa mendekati hari Lebaran, namun demikian karena diberikan ini (mendekati Lebaran) rata-rata mereka menamainya dengan tunjangan hari raya," ujar Dwi, Selasa (3/3/2026).

Pada tahun ini, pemerintah desa menyiapkan anggaran sekitar Rp723 juta untuk program tersebut. Total penerima tercatat 1.446 orang yang tersebar di enam dusun. Namun bantuan diberikan per rumah.

Dwi menegaskan, sumber dana program ini tidak berasal dari Dana Desa maupun Koperasi Desa Merah Putih, melainkan dari pendapatan asli desa (PAD). Pemasukan Desa berasal dari pengelolaan dua unit usaha, yakni sektor pariwisata dan simpan pinjam.

"Jadi di situ hasil labanya, setelah laba bersih dilakukan pembagian untuk ke desa maupun untuk pengembangan wisatanya, gitu," ujar Dwi.

Sebelum bantuan disalurkan, pemerintah desa terlebih dahulu melakukan pendataan calon penerima melalui proses verifikasi dari tingkat RT, kepala dusun, hingga desa.

Bantuan disalurkan secara tunai di kantor desa. Warga cukup membawa KTP atau kartu keluarga untuk verifikasi data.

Membantu Kebutuhan Warga Jelang Lebaran

ilustrasi warga belanja

Sejumlah warga mengaku bantuan yang diberikan Pemerintah Desa tersebut sangat membantu kebutuhan warga menjelang Lebaran.

Salah satu warga Desa Wunut, Hesti Mulyani (35), mengaku sangat bersyukur dan senang menerima THR dari pemerintah desa.

Baginya, bantuan tunai ini sangat membantu kebutuhan keluarganya menjelang hari raya Idul Fitri. Rencananya, uang THR tersebut akan digunakan untuk keperluan anak-anaknya.

"Alhamdulillah bisa buat beli baju baru lebaran buat anak-anak besok. Saya dapat Rp 1.250.000 karena di rumah ada lima orang," kata Hesti.

Sementara itu, Warga Desa Berjo, Haryanti (45), mengatakan telah dua kali menerima bantuan serupa sejak program dimulai pada 2024.

"Untuk acara Lebaran nanti sudah dua kali ini (2024) sudah mulai, jumlahnya sama," kata Haryanti.

Kreativitas dan inovasi dari pemerintah desa menjadi kunci bagaimana daerah bisa berkembang sesuai dengan potensi daerahnya. Sampai bisa memberikan bantuan social berupa THR pada warga tiap jelang hari raya Idul Fitri.

Sebagai kepala desa yang sudah menjabat selama tiga periode berturut-turut, Iwan menyebut kunci sukses menjadikan desanya yang dulu miskin dan sekarang mandiri adalah fokus, mengikuti aturan, dan tidak korupsi.

"Juga harus ada keberanian," katanya.

"Kalau kita fokus, mengikuti aturan, dan tidak korupsi, maka negara Indonesia bisa makmur," tambahnya. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance