Jakarta, TheStance - Operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela yang berujung penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya memicu kekhawatiran khusus terkait krisis kesehatan di Amerika Latin dan di dunia.
Tak hanya memiliki konsekuensi negatif di aspek politik dan militer, agresi AS ini dinilai mengancam keamanan kesehatan global (global health security).
Dokter epidemiolog dan pakar keamanan kesehatan global, Dicky Budiman, menegaskan konflik bersenjata ini berpotensi bertindak sebagai "epidemic amplifier" atau penguat penyebaran wabah penyakit.
Menurutnya, aksi militer bukan sekadar peristiwa keamanan, melainkan guncangan besar (major shock) terhadap sistem kesehatan publik di Venezuela. Selama ini, sistem kesehatan Venezuela berada dalam kondisi fragile state (negara rapuh).
Mereka telah lama kekurangan obat-obatan esensial, termasuk terapi human immunodeficiency virus (HIV)/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), stok vaksin yang menipis, dan migrasi besar-besaran tenaga kesehatan akibat krisis ekonomi.
"Intervensi militer menciptakan ketidakstabilan keamanan yang memperburuk akses terhadap obat esensial dan layanan imunisasi. Ini berdampak fatal bagi perawatan penyakit kronis seperti HIV, diabetes, dan malaria," ujar Dicky, kepada TheStance, Rabu (7/1/2026).
Ia menambahkan bahwa kerusakan infrastruktur dasar akibat konflik seperti air bersih, sanitasi, dan listrik akan melipatgandakan risiko wabah (compound risk).
Kota-kota besar seperti Caracas dan Maracaibo yang infrastruktur airnya sudah rapuh kini menghadapi ancaman nyata wabah kolera, diare akut, serta Hepatitis A dan E akibat sanitasi yang memburuk.
Ancaman Penyakit Menular dan Migrasi Paksa

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah kebangkitan kembali Penyakit Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Terhentinya program vaksinasi akibat perang meningkatkan risiko wabah campak dan difteri.
"Difteri sangat sensitif terhadap penurunan cakupan imunisasi dan kepadatan penduduk. Jika kasus difteri meningkat, ini adalah 'bendera merah' atau tanda bahaya serius bagi sistem kesehatan kawasan tersebut," tegas Dicky.
Selain itu, ia juga menyoroti risiko penyakit tular vektor. Konflik diprediksi mendorong migrasi internal ke daerah tambang ilegal di hutan-hutan, yang merupakan sarang nyamuk, serta meningkatkan risiko penyebaran Dengue, Zika, dan Chikungunya.
Gelombang pengungsi yang masif akan membanjiri negara tetangga seperti Kolombia, Peru, dan Brasil. Sebagai catatan, Venezuela pernah menjadi episentrum kebangkitan malaria di Amerika Latin.
"Pengungsi yang membawa penyakit menular, ditambah kondisi kekurangan gizi dan trauma kekerasan, akan membebani sistem kesehatan negara tetangga dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit lintas batas," jelasnya.
Secara global, Dicky memperingatkan dampak sekunder dari ketegangan geopolitik ini. Fokus anggaran negara-negara besar seperti AS dan China dikhawatirkan akan bergeser dari bantuan kesehatan global ke pengeluaran militer.
"Hal ini dapat mengurangi dukungan pendanaan untuk program imunisasi global, penanganan malaria, atau HIV. Selain itu, gangguan rantai pasok akibat blokade atau sanksi dapat menghambat distribusi obat-obatan secara global," paparnya.
Dia menampik kemungkinan Perang Dunia Ketiga, tapi bagaimanapun juga konflik tersebut bisa mengarah pada krisis kemanusiaan intensif.
Tak Hanya Berisiko Memicu Perang Dunia
Dicky mengingatkan adanya risiko kecil namun fatal, yakni spillover patogen baru akibat kontak manusia dengan satwa liar di wilayah hutan selama konflik berlangsung.
"Aksi militer di negara dengan sistem kesehatan rapuh seperti Venezuela bukan hanya menciptakan krisis politik, tetapi berpotensi memicu krisis epidemi regional yang mengancam stabilitas kesehatan dunia,” ujarnya.
Serangan militer dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Caracas menambah daftar panjang pemimpin negara yang ditangkap oleh AS.
Kondisi ini meningkatkan ketegangan secara global dan memungkinkan terjadinya perlawanan terhadap AS dari blok timur. Pasalnya Venezuela berkontribusi besar penyaluran minyak mentah terhadap blok timur,
“Kami tidak bisa mengambil risiko membiarkan orang lain mengambil alih dan melanjutkan apa yang dia tinggalkan. Jadi kami sedang mengambil keputusan itu sekarang,” ujar Presiden AS, Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox.
Profesor Kebijakan Publik di Universitas Hamad Bin Khalifa di Doha Sultan Barakat menilai aksi AS yang memaksakan perubahan rezim berdampak buruk bagi peradaban dunia, menandakan bahwa AS tidak hormat pada hukum internasional.
“Ini mungkin menjadi paku terakhir di peti matu perjanjian internasional apapun, prinsip kedaulatan negara sekarang telah dibongkar. Sejalan dengan beberapa operasi yang telah dilakukan Israel di Lebanon dan Iran bersama dengan AS,” ujarnya kepada Aljazeera.
Baca Juga: Serangan ke Venezuela Dinilai Enggak Ngefek, Harga Emas dan Minyak Terkerek
Ketegangan geopolitik antara AS dan Venezuela, yang mencakup sanksi ekonomi ketat dan isolasi diplomatik diperparah oleh ketidakstabilan politik pasca-intervensi AS saat ini, telah melumpuhkan sistem kesehatan Venezuela secara sistemik.
Runtuhnya infrastruktur medis akibat tekanan ekonomi ini tidak hanya memicu kebangkitan kembali penyakit menular yang sebelumnya terkendali seperti malaria, campak, dan difteri.
Migrasi massal jutaan warga Venezuela, tanpa akses vaksinasi atau pengobatan memadai, berpotensi menjadi vektor penyebaran patogen ke negara tetangga dan lintas benua.
Akibatnya, wilayah ini berubah menjadi "titik buta" epidemiologi di mana wabah dapat berkembang biak tanpa terdeteksi, mengancam ketahanan kesehatan global dengan risiko penyebaran pandemi yang sulit dibendung. (par)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance