Jakarta, TheStance - Sepekan setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, harga emas hitam, alias minyak mentah, justru menguat mengekor harga emas murni. Problem suplai komoditas masih membelit.

Mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia yang juga kaya akan emas, di atas kertas semestinya "kontrol" AS terhadap Venezuela berujung pada limpahan produksi kedua komoditas itu, dan menekan harganya.

Namun faktanya tidaklah demikian.

Sebelum Venezuela diserang, harga minyak dunia (jenis West Texas Intermediate/WTI) berada di level US$57,3/barel (posisi penutupan 2/1/2026) menurut TradingEconomics. Jumat kemarin (9/1/2026), ia malah naik 3% menjadi US$59,1/barel.

Adapun minyak Brent, yang merupakan jenis minyak produksi Venezuela naik 4,45% dari US$60,6/barel menjadi US$63,3/barel. Artinya pasokan minyak diprediksi tak akan berubah

Sementara itu, harga emas dunia naik 2,9% dari US$4.381,9/troy ons menjadi US$4.510,6/troy ons. Harga emas Antam kemarin juga naik 3,9%, dibanderol di Rp2.602.000/gram pada akhir pekan ini, dari Rp2.504.000 sebelum Venezuela diserang.

Apa yang terjadi?

Emas Makin Moncer

emasTepat sehari setelah Venezuela diserang, BBC melaporkan harga emas naik 2,2% menjadi US$4.424/troy ons, posisi tertinggi dalam satu minggu terakhir. Sementara harga perak merangkak naik 3,9%.

Investor kuatir bahwa petualangan Presiden AS Donald Trump akan memicu ketakpastian politik karena hukum rimba menjadi panglima. Mereka pun berburu aset yang dianggap aman. Emas dan perak menjadi jawabannya.

“Peristiwa di Venezuela kembali memicu permintaan terhadap aset lindung nilai, dengan emas dan perak menjadi pihak yang diuntungkan karena investor berupaya melindungi diri dari risiko geopolitik,” tutur Tim Watever, analis KCM Trade.

Situasi global dan ketidakpastian ekonomi ditambah dengan kebijakan penurunan suku bunga, telah memicu aksi buru emas batangan dan produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas, sehingga harganya melonjak hingga 64% sepanjang 2025.

Tercatat pada 26 Desember, emas mencapai titik tertinggi sepanjang masa yaitu di angka $4.549,71. Capaian ini merupakan kinerja tahunan terbaik sejak 1979.

“Investor senang memiliki aset berisiko, tetapi mereka tetap menginginkan ‘asuransi’ di laci mereka. Ini adalah kepercayaan diri dengan lindung nilai, bukan euforia,” kata Stephen Innes dari SPI Asset Management.

Sejalan dengan emas, perak juga menunjukkan tren positif. TradingEconomics menunjukkan harga perak melonjak 3,9% ke $76.75/troy ons, setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah di angka US$83.62 pada 29 Desember 2025.

Harga perak meningkat tajam, yaitu 147% sepanjang 2025 sekaligus menjadi tahun terbaik bagi logam tersebut setelah ditetapkan sebagai mineral kritis di AS, di tengah permintaan yang meningkat sementara pasokan tak banyak berubah.

Harga Minyak Bumi Mengekor

minyak

Agak berbeda dari emas, minyak bergerak fluktuatif. Sempat naik 1% lebih atau sebesar US$1/barel pada Senin, harga Brent anjlok lagi sebesar 1% menjadi US$59,45/barel pada Selasa, lalu menguat hingga Jumat.

Awalnya, pelaku pasar memperkirakan akan terjadi lonjakan pasokan minyak yang pada gilirannya menekan harga dengan asumsi AS memang benar-benar mengendalikan rezim Venezuela.

Maklum saja, dalam konferensi pers Sabtu pasca penangkapan Maduro, Trump bersumpah mengambil lagi minyak Venezuela yang menurut dia "dicuri dari AS."

Namun demikian, beberapa hari selanjutnya investor mulai rasional, setelah para pakar menyebut bahwa perlu miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang mengalami penurunan tajam sejak awal tahun 2000-an.

Vasu Menon, seorang strategis investasi dari bank OCBC menyebutkan bahwa produksi minyak mentah Venezuela telah “lesu” selama bertahun tahun dan saat ini hanya menyumbang sekitar 1% dari total produksi minyak dunia.

Oleh karena itu, membalikkan produksi minyak Venezuela dan mendongkrak pasokan pasar minyak perlu kerja keras, tak seperti membalikkan telapak tangan.

“Terjadi banyak kekacauan dan penjarahan, dan oleh karena itu ada kerusakan yang sangat besar pada peralatan permukaan untuk memproduksi minyak di seluruh negeri,” kata Amy Myers Jaffe, dikutip AP.

Direktur Laboratorium Energi, Keadilan Iklim, dan Keberlanjutan di Universitas New York itu menegaskan ada banyak kerusakan fisik termasuk pipa minyak yang bocor di Venezuela, sehingga perlu pembersihan besar-besaran.

Selain itu, ada problem kekurangan bahan bakar yang besar dan pemadaman listrik yang sering terjadi di seluruh negeri. "Untuk benar-benar memproduksi minyak, Anda perlu memiliki jaringan listrik yang stabil,” kata Jaffe.

Salah Perhitungan Trump?

petrodollarMinyak mentah di Venezuela berjenis berat dan asam (heavy sour), yang merupakan jenis minyak yang diproses oleh kilang-kilang di Pantai Teluk AS, dan hanya ada beberapa negara yang memproduksinya.

Sebaliknya, sebagian besar minyak yang diproduksi di AS adalah minyak mentah ringan dan manis (light sweet). Jika minyak Venezuela mengalir bebas, hal itu berpotensi menurunkan harga minyak dan bensin di AS.

Kilang-kilang AS dapat memperoleh keuntungan finansial dari pengolahan lebih banyak minyak mentah, dan hal itu dapat meningkatkan ketersediaan bahan bakar disel dan jet, kata Kevin Book, Direktur Pelaksana ClearView Energy Partners.

“Tampaknya ada dua tujuan [serangan ke Venezuela]. Pertama adalah menurunkan harga energi secara keseluruhan dengan menambah pasokan global, dan kedua adalah memproduksi lebih banyak minyak mentah berat dan asam,” katanya kepada AP.

Tujuan yang pertama akan menguntungkan pengguna akhir di mana pun di seluruh dunia, karena harga yang lebih rendah mengurangi biaya transportasi dan energi. Sementara itu tujuan kedua akan menguntungkan kilang AS.

Namun faktanya, harga minyak malah meroket sepekan terakhir, dengan pasokan minyak heavy sour tetap tak berubah. Maka, dua tujuan tersebut tentu saja tidak tercapai.

Lain halnya jika tujuan Trump menculik Maduro bukan soal perminyakan, melainkan mengubah geopolitik Venezuela yang saat ini makin dekat dengan Rusia, China, dan Iran.

Atau lebih luas, mengubah geopolitik di Amerika Latin, membangkitkan kembali Doktrin Monroe, di mana negara maju tidak boleh menguasai atau mengooptasi negara di belahan bumi Amerika selain AS saja.

Taipan Minyak AS Tak Minat ke Venezuela

Invasi VenezuelaPerusahaan-perusahaan minyak besar Amerika pada Jumat (9/1/2026) meninggalkan pertemuan dengan Trump di Gedung Putih tanpa menandatangani kesepakatan untuk investasi di Venezuela, menurut laporan Axios.

Di forum tersebut Trump menjanjikan "keamanan" dan "kesepakatan langsung" dengan AS. Namun para eksekutif tetap menjaga jarak.

Chief Executive Officer (CEO) Exxon Darren Woods secara blak-blakan menyebut Venezuela sebagai tempat yang "tidak layak investasi" dalam kondisi hukum dan komersial saat ini.

CEO ConocoPhillips juga Ryan Lance menekankan perlunya berbicara dengan bank—kemungkinan termasuk Bank Ekspor-Impor AS—terkait restrukturisasi utang untuk menyediakan miliaran dolar guna memulihkan infrastruktur energi Venezuela.

Chevron—satu-satunya perusahaan minyak AS yang beroperasi di Venezuela—memilih hati-hati membuat pernyataan, berfokus pada keselamatan karyawan di sana dan "kepatuhan terhadap semua hukum dan peraturan yang berlaku untuk bisnisnya."

Sejumlah perusahaan lain dilaporkan menunjukkan minat, tapi dengan produksi Venezuela sekitar 800.000 barel per hari—jauh di bawah puncak masa lalunya—dan risiko hukum yang besar, para taipan minyak tidak akan terburu-buru ke Venezuela.

Setelah Hugo Chavez menasionalisasi ratusan aset asing pada 2007, termasuk proyek minyak Exxon Mobil dan ConocoPhillips, panel arbitrase internasional memerintahkan Venezuela membayar miliaran dolar kepada kedua perusahaan itu, tapi diabaikan.

Trump menilai hanya perlu investasi sebesar US$100 miliar untuk memulihkan industri minyak Venezuela yang hancur dalam waktu kurang dari 18 bulan.

Baca Juga: Sandiwara Amerika: dari Narkoba, Minyak Venezuela, ke "No Iran, Russia, China"

Lalu sektor apa yang dapat berkah dari agresi Trump ke Venezuela, jawabannya adalah: perusahaan senjata. Saham BAE Systems, perusahaan asal inggris, melonjak 4,5% dan Babcock International naik 3,6%. Di luar itu, saham tak terpengaruh.

“Meskipun penangkapan Maduro oleh pasukan Amerika mendominasi berita utama, pasar keuangan tampaknya tidak terganggu.” ungkap Thomas Matthews dari Capital Economics.

Indeks saham AS meroket sepekan ini, dan sempat menyentuh level tertinggi dalam sejarah. Mayoritas saham di Eropa dan Asia juga menutup pekan dengan penguatan.

Dow Jones menguat 0,48% menjadi 49.504,07, rekor penutupan baru. Sementara itu, indeks S&P 500 melesat 0,65% ke 6.966,28, rekor penutupan tertinggi baru.

Dilansir dari AP, mayoritas indeks bursa saham seluruh dunia juga menguat sepanjang pekan ini termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia yang menguat 0,13% ke level 8.936,75. (mhf/ags)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance