Oleh Hamid Basyaib: aktivis Islam Liberal, cendekiawan yang menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional. Kini fokus menulis buku, dan mendorong diskusi berbasis intelektualitas di ruang publik baik secara daring maupun luring.

Publik Amerika Serikat dan dunia setiap hari masih terus dibanjiri dinamit skandal seksual yang melibatkan nama-nama besar di berbagai bidang, berkat peluncuran jutaan dokumen dalam himpunan “The Epstein Files” oleh Departemen Kehakiman (Department of Justice/DOJ).

Ini bagian dari 30 juta dokumen (surat, foto, video, kuitansi dll), yang sebelumnya masih ditahan-tahan atau diredaksi dulu pelepasannya oleh tim Menteri Pam Bondi—suatu pengungkapan yang mengerikan, menjijikkan, memuakkan, dan semua kosa kata negatif yang mungkin kita kenal.

Sebagian besar nama yang terlibat adalah tokoh-tokoh Amerika sendiri. Selebihnya adalah para pemimpin politik atau pesohor kelas berat dari Inggris, Arab Saudi, dan lain-lain.

Keterlibatan mereka dalam kontroversi Jeffrey Epstein terutama terkait pulau miliknya di Kepulauan Virgin—yang kini disebut “pedo island”.

Julukan ini muncul karena pemiliknya, juga beberapa tamu yang sering mampir ke sana, diduga keras melakukan praktik pedofilia. Sangat banyak foto dan video yang mengindikasikan kuat hal ini.

Mengherankan bahwa salah satu remaja perempuan yang pernah hadir di pulau itu disebut-sebut puteri eks perdana menteri Australia, Paul Keating.

Di antara nama-nama mashur itu muncul pula Deepak Chopra, membuat saya mengeja namanya dua kali. Apa yang dilakukan guru spiritual yang buku-bukunya saya baca tiga puluhan tahun lalu itu?

Puluhan Tahun Jajakan Ajaran Spiritualisme

Deepak Chopra

Puncak kejayaannya memang sudah lama berlalu; di masa itu ia, menurut Forbes, berpenghasilan US$15 juta–20 juta per tahun dari ceramah, seminar dan buku-buku larisnya.

Nama Chopra—yang menjajakan ajaran spiritualismenya kepada kalangan elit seperti Madonna dan La Toya Jackson—konon muncul 120-an kali dalam dokumen Epstein.

Dalam korespondensinya dengan Epstein via email, terlihat Chopra mengetahui kekejian pedofilia Epstein—dan ia bukan hanya tak keberatan, tapi cenderung memuji dan mendukungnya.

“Tuhan itu konsep bikinan,” tulisnya dalam sebuah email. “Yang nyata adalah cewek-cewek cakep itu.” Dalam email lain, Chopra mengajak Epstein berkunjung ke Israel, dan memintanya untuk “jangan lupa membawa cewek-cewekmu.”

Dalam semua emailnya, Chopra tampak menjauhi ajaran-ajaran spiritual yang selama ini dijualnya melalui ceramah dan buku-bukunya. Ia bahkan cenderung menertawakan ide-ide yang dipetiknya dari kitab-kitab kuno Hinduisme.

Termasuk metode pengobatan ayurveda, yang dikemasnya dengan gaya baru sambil mengutip—secara selektif—temuan-temuan mutakhir sains untuk membenarkan ajaran-ajaran kuno itu dengan “landasan ilmiah”.

Statusnya sebagai dokter ahli endokrinologi membuat banyak orang percaya akurasi kutipan-kutipan sains yang gemar diumbarnya. Yang juga mengagetkan adalah ledekan-ledekannya terhadap ide-ide dan perilaku Dalai Lama.

Ejekan yang melecehkan ini membuat umat Buddha, terutama dari Tibet, marah kepada Chopra. Dalai Lama adalah tokoh utama dan dianggap titisan Sang Buddha, yang sangat dihormati di seluruh dunia dalam enam dekade terakhir.

Kengawurannya Mulai Terkonfirmasi

Deepak Chopra

Setelah beberapa tahun mengagumi kefasihan Chopra dalam menjual ide-ide spiritualnya—yang dengan cerdik dibungkusnya dengan pseudo-sains—saya sendiri mengonfirmasi kengawurannya setelah menyaksikan video debatnya dengan Richard Dawkins di Spanyol sekian tahun lalu.

Salah satu isu debat mereka: apa tujuan “penciptaan” alam semesta ini?

Dawkins, yang merujuk sejumlah fisikawan besar, misalnya Pemenang Nobel Fisika Steven Weinberg, menyatakan alam semesta ini tidak bertujuan. Ia hadir begitu saja—tentu melalui proses miliaran tahun—tanpa tujuan.

Setidaknya, sejauh ini tidak ada seorang pun yang mengetahui tujuannya. Chopra membantah keras. Kata dia, tidak mungkin keberadaan alam semesta yang begini agung tanpa punya tujuan.

“Sedangkan setiap sel di dalam tubuh kita ini ada tujuannya!” katanya dengan jengkel. “Masak the universe yang sehebat ini tidak punya tujuan?”

“Untuk sel tubuh, memang benar ada tujuan,” kata Dawkins. “Sebagai pelajar biologi tentu saya sangat paham soal ini.”

Dawkins bukan sekadar pelajar. Ia raksasa di bidang biologi evolusioner. Ia menulis buku-buku penting tentang gen dan teori evolusi (The Selfish Gene, The Greatest Show on Earth, The Magic of Reality), selain dua jilid otobiografi intelektual.

Chopra tetap ngeyel, dan mencatut nama besar Freeman Dyson untuk menopang opininya bahwa alam semesta ini bertujuan. Dawkins mengernyitkan dahi. “Freeman Dyson bicara seperti itu?” tanyanya, dengan nada ragu.

Debat hangat itu berakhir buruk. Chopra mengeluarkan kata-kata makian yang tidak pantas. Belakangan ia membuat video khusus untuk minta maaf, dan menegaskan bahwa ia tidak akan pernah lagi berdebat dengan Dawkins.

Nama Besar, Sikap Ilmiah Kecil

Deepak Chopra

Dari debat itu saya semakin insaf bahwa Chopra adalah guru yang telanjur mendapat nama besar, tapi sikap ilmiahnya kecil—betapa banyak jenis ini. Ia bahkan tak sungkan melakukan kecurangan intelektual, dengan mencatut serampangan nama Freeman Dyson.

Dan emosionalismenya yang tak terkendali di depan seribuan hadirin, sepenuhnya melawan ajaran-ajaran pokoknya sendiri tentang kesabaran dan pengendalian emosi.

Makin terbukti bahwa apa yang dijual dan membuatnya kaya raya hanyalah mumbo-jumbo yang laku di kalangan warga Barat yang kehausan “spiritualisme Timur”.

Pasar besar inilah yang dimanfaatkan Chopra—melanjutkan tradisi panjang penjaja sejenis seperti Maharishi Mahesh Yogi (guru Chopra dan The Beatles), Satya Sai Baba (guru PM India Narendra Modi), Sri Rajneesh, dan lain-lain.

Baca Juga: Yakin, Solahudin Tak Akan Dijewer Tuhan

Begitu menjulang nama Deepak Chopra di masa kejayaannya sampai putranya, Gotham, mencoba ikut memanfaatkan kebesaran itu dengan membuat film dokumenter tentang ayahnya, “Decoding Deepak”.

Meski judulnya menggoda, seolah menjanjikan pembongkaran ide-ide Chopra, film ini lebih banyak menuturkan potret psikologis Deepak sebagaimana dikenal oleh anak dan keluarganya.

Tetapi kritik personal yang terselip di dalamnya cukup “men-decode” sosok Chopra. Misalnya, diungkap sisi kontradiktif antara citra spiritualnya dan kecintaannya pada kenyamanan material, hotel mewah, serta kegemaran berbelanja.

Gotham juga mempertanyakan kesabaran dan corak reaksi ayahnya dalam menanggapi kritik.

Menurutnya, ayahnya tidak pernah mampu dengan tenang merespons komentar semacam itu—bertentangan dengan petuah-petuah spiritual yang menjadi core business-nya.

Sekarang, dengan pengungkapan dokumen Epstein, Deepak Chopra kembali membuktikan apa yang sejak ribuan tahun lalu sering terjadi pada tokoh-tokoh spiritual atau agama seperti dirinya: hidup mereka kerap diwarnai tiga macam skandal—finansial, seksual atau, yang lebih sering, gabungan keduanya.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.