Jakarta, TheStance – Setelah musim hujan membasahi wilayah Jakarta dalam beberapa bulan terakhir, hawa panas tiba-tiba muncul.

Bahkan, suhu udara di Jakarta tercatat sempat mencapai 35,6 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir dan membuat situasi cenderung gerah yang dirasakan sejumlah warga Jakarta selama sepekan terakhir. Lantas, apa pemicu kondisi ini?

Ada alasan mengapa cuaca di berbagai daerah termasuk Jakarta terasa lebih panas dari biasanya. Masyarakat mulai merasakan panas terik menusuk pada pagi hari, tetapi pada sore atau malam hari hujan kembali datang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap kondisi tersebut dipicu oleh sejumlah perubahan fenomena atmosfer yang terjadi pada masa peralihan musim.

Kondisi Langit Cerah dan Minimnya Tutupan Awan

cuaca panas

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengonfirmasi terjadinya peningkatan suhu maksimum di wilayah Jakarta pada awal pekan lalu dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

"Data dari Pos Pengamatan Kemayoran, Tanjung Priok, dan Halim Perdana Kusuma menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan suhu maksimum, dari kisaran 29-30 derajat Celcius pada periode 5-8 Maret 2026 menjadi sekitar 31-33 derajat Celcius pada periode 9-11 Maret 2026," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis 12 Maret 2026.

Menurut Andri, kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor dinamika atmosfer, seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sebelumnya berada di sekitar wilayah Indonesia kini bergerak ke arah timur.

Dengan demikian, pengaruh pembentukan awan hujan di wilayah Jakarta berkurang.

Kemudian, Monsun Asia juga disebut cenderung melemah, sehingga suplai massa udara lembap yang memicu pembentukan awan hujan tidak sekuat sebelumnya.

"Akibatnya, pada siang hari radiasi Matahari lebih dominan sehingga suhu terasa lebih panas," terangnya.

Di wilayah perkotaan seperti Jakarta, kondisi panas juga terasa lebih intens akibat fenomena urban heat island, yaitu kecenderungan kawasan kota menyimpan panas lebih lama dibandingkan wilayah sekitarnya.

BMKG mencatat suhu udara maksimum di Jakarta dalam beberapa hari terakhir mencapai 35,4 derajat Celsius, khususnya di wilayah Jakarta Timur.

Baca Juga: WALHI Kritik "Cara Lama" Penanganan Banjir Jakarta, Pramono Lanjutkan Modifikasi Cuaca

Menurut Andi, kondisi atmosfer secara umum saat ini belum mendukung peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Jabodetabek.

"Meskipun demikian, peluang terbentuknya awan dan hujan lokal pada siang hingga sore hari masih tetap ada," ungkapnya.

BMKG memprediksi, cuaca panas pada siang hari masih berpotensi terjadi ke depan, terutama ketika tutupan awan berkurang.

"Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya awal musim kemarau diprakirakan mulai terjadi pada kisaran April hingga Mei 2026, sehingga kondisi cuaca yang lebih cerah pada siang hari berpotensi mulai lebih sering terjadi," imbuhnya.

Paparan UV Capai Level Ekstrem

Guswanto - BMKG

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan suhu panas yang dirasakan masyarakat kemungkinan masih belum akan mereda dan masih berpotensi terjadi hingga menjelang Lebaran 2026.

Menurut Guswanto, cuaca panas ekstrem yang dirasakan di Jakarta beberapa hari terakhir merupakan fenomena yang lazim terjadi pada masa peralihan musim.

"Fenomena ini umum terjadi setiap tahun pada masa transisi musim. Diperkirakan berlangsung beberapa hari ke depan selama kondisi langit tetap cerah dan tutupan awan rendah," terang Guswanto.

Kondisi langit yang cerah dengan sedikit awan menyebabkan sinar matahari langsung menembus atmosfer tanpa banyak hambatan. Hal ini turut diperparah oleh indeks UV yang berada pada kategori ungu, yang menandakan tingkat paparan sinar matahari berada pada level berbahaya, terutama pada siang hari.

"BMKG mencatat suhu maksimum hingga 35,6 derajat Celcius dan indeks UV masuk kategori ungu atau artinya bahaya ekstrem," ujarnya.

Dia pun mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat paparan sinar matahari berada pada tingkat tertinggi, terutama pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB.

Selain itu, masyarakat juga diminta menggunakan pelindung diri seperti topi, payung, kacamata hitam, serta pakaian berlengan panjang saat beraktivitas di luar ruangan.

"Gunakan tabir surya atau sunscreen dengan SPF tinggi untuk melindungi kulit. Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi," jelas Guswanto.

Kemarau Datang Lebih Awal

BMKG

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut awal musim kemarau 2026 di sejumlah daerah Indonesia akan datang lebih cepat dibandingkan rerata klimatologis 30 tahun terakhir (1991-2020).

Menurut BMKG kondisi ini membuat durasi musim kemarau jadi lebih panjang.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, menyampaikan, dari total 699 zona musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 325 zona musim atau 46,5 persen diprediksi mengalami awal musim kemarau yang maju dari normalnya.

"Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau maju, yaitu di 325 zona musim atau 46,5 persen dari keseluruhan zona musim," ujar Faisal, dalam konferensi pers pada 4 Maret lalu.

Sementara itu, sebanyak 173 ZOM atau 24,7 persen diprediksi mengalami awal musim kemarau yang sama dengan periode normalnya. Kemudian, 72 ZOM atau 10,3 persen diperkirakan mengalami kemarau yang mundur dari biasanya atau lebih lambat.

Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026. Fenomena tersebut diperkirakan diawali dari wilayah Nusa Tenggara sebelum meluas ke daerah lainnya.

Kondisi serupa mulai terasa di Pulau Jawa dengan pola cuaca yang didominasi kondisi cerah hingga berawan tebal. Meski begitu, potensi hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi di beberapa wilayah.

Puncak Musim Kemarau Diprediksi Agustus

Modifikasi Cuaca

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa kemajuan awal musim ini berimplikasi pada potensi durasi kemarau yang lebih panjang.

"Kesimpulan umum dari musim kemarau 2026 yang akan kita hadapi ini, kita prediksi maju atau lebih awal. Sehingga pada banyak tempat dia juga menjadi lebih panjang karena awalnya itu maju," jelasnya.

Percepatan awal musim kemarau ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari 2026. Saat ini kondisi iklim global telah beralih ke fase Netral dan berpotensi berkembang menuju El Niño pada pertengahan tahun.

Pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 atau dalam kondisi Netral dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.

Ardhasena menambahkan, 46,5% wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju, meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di 61,4% wilayah Indonesia, dengan sisanya pada Juli (12,6%) dan September (14,3%).

Secara umum, musim kemarau akan bersifat bawah normal atau lebih kering di 64,5% wilayah, hanya 0,4% di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi lebih basah.

BMKG pun mengimbau semua pihak segera mengantisipasi, seperti menyesuaikan jadwal tanam bagi petani, memperkuat manajemen sumber daya air, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko karhutla dan penurunan kualitas udara. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance