
Oleh Harun Al-Rasyid Lubis. Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung (ITB), dan juga Ketua Dewan Pakar H&UDI (Housing and Urban Development Institute).
Buka brosur pagi ini hati langsung berbunga-bunga
Negeriku tercinta konon sudah makmur tiada tara
Enam puluh dua juta perut terjamin urusan makannya
Delapan komoditas pangan swasembada, katanya kita sudah kaya
Lihat itu di Infografis , isinya sungguh bikin takjub dan heran
Pekerja gaji kecil nanti bebas pajak, oh sungguh idaman
Gaji guru PPPK diambil alih pusat penuh perhatian
Sampai potongan ojol dibatasi delapan persen demi keadilan
Sekolah-sekolah berbaris rapi mengantre direnovasi
Kapal induk pertama di ASEAN siap berlayar gagah berani
Utang krisis masa lalu juga diklaim sudah lunas teratasi
Semua pencapaian tertulis indah, rapi, dan penuh gengsi
Tapi begitu kaki melangkah keluar menuju pasar tradisional
Pemandangan indah di brosur mendadak jadi agak emosional
Beras, bawang, dan ayam potong ternyata sedang ikut festival
Berlomba naik harga demi menjaga gengsi internasional
Dolar dan BBM melompat tinggi bak atlet olimpiade
Meninggalkan IHSG yang tiarap sendirian di sudut pasar modal
Utang negara makin gemuk menolak ikut program diet terpadu
Sementara tensi darah di dada ikut naik tanpa perlu pemandu
Di satu sisi ada klaim bantuan beras puluhan kilo dibagikan gratis
Di sisi lain emak-emak antre berjam-jam wajahnya tampak tragis
Katanya swasembada tapi kok harga di pasar bikin menangis
Mungkin ini taktik baru agar rakyatnya terlatih hidup dinamis
Sungguh hebat pertumbuhan bangsa kita yang tiada tandingannya
Hampir seluruh aspek kehidupan kompak naik bersama-sama
Brosurnya bersinar glowing penuh angka-angka yang mempesona
Sayang dompet kami masih buram, belum sempat baca beritanya.
Namun jangan buru-buru bertepuk tangan merayakan pertumbuhan
Sebab angka yang naik belum tentu membawa kemajuan
Bila ekonomi tumbuh, mengapa daya beli masih jadi keluhan?
Bila investasi melesat, mana kerja layak dan pemerataan?
Katanya pendapatan per kapita terus meningkat setiap tahunnya
Tapi berapa upah riil yang sungguh bertambah di kantong pekerja?
Berapa keluarga keluar dari kemiskinan tanpa bergantung bantuan negara?
Berapa anak makin cerdas, sehat, dan punya harapan masa depannya?
Jika utang terus naik, mana aset produktif yang dihasilkannya?
Jika anggaran membengkak, mana mutu layanan publik yang nyata?
Jika industri berkembang, mana produktivitas dan nilai tambah bangsa?
Jika ekonomi makin besar, mengapa ketimpangan belum juga sirna?
Maka ukurlah kinerja bukan dari brosur yang mempesona
Melainkan kemiskinan, pengangguran, kelas menengah yang terus tergerus, dan ketimpangan yang nyata berkurang jumlahnya
Daya beli, produktivitas, kesehatan, dan pendidikan yang meningkat mutunya
Serta fiskal yang sehat, lingkungan terjaga, dan keadilan bagi semuanya
Jangan biarkan harga pangan berlomba naik tanpa kendali
Perkuat produksi, gudang, distribusi, dan cadangan pangan negeri
Subsidi harus tepat sasaran, bukan sekadar ramai saat seremoni
Jaga upah riil dan daya beli, agar rakyat tak terus mengencangkan ikat pinggang sendiri
Bukalah kerja produktif, bukan hanya lowongan dalam janji investasi
Majukan industri bernilai tambah, UMKM, dan inovasi teknologi
Benahi sekolah, puskesmas, transportasi, dan layanan publik sampai ke pelosok negeri
Ukur hasilnya dari mutu hidup rakyat, bukan banyaknya proyek yang diresmikan di televisi
Tertibkan belanja negara, pangkas pemborosan dan kebocoran anggaran
Utang baru harus menghasilkan manfaat, bukan sekadar menunda beban
Umumkan target dan realisasi secara terbuka untuk diuji masyarakat dan kalangan ilmuwan
Beri ruang kritik dan pengawasan, sebab akuntabilitas bukan ancaman bagi pemerintahan
Sebab pertumbuhan bukanlah tujuan akhir pembangunan bangsa
Apalagi sekadar perlombaan angka yang pandai menghias berita
Negeri benar-benar naik bila rakyat ikut naik derajat hidupnya
Bukan hanya pemerintah yang naik nilai rapornya, sementara rakyat menanggung biayanya.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.