Bandung, The Stance – Membangun bisnis pakaian bayi dan anak membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman produk dan potensi pasar. Cuit Babywear mempelajari dua hal: resiliensi dan dukungan perbankan yang tepat bisa menjadi penyelamat.

Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga perlu memastikan pengelolaan arus kas berjalan baik, modal kerja tetap tangguh, dan ketersediaan bahan baku terpenuhi agar pertumbuhan bisnis berlangsung berkelanjutan.

Hal inilah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Cuit Babywear, jenama pakaian anak asal Bandung, dalam mengembangkan skala usahanya.

Melalui fasilitas kredit UMKM dan ekosistem pemberdayaan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Cuit Babywear membenahi operasional, memperkuat kapasitas rantai pasok, hingga mencetak lompatan pertumbuhan omzet beberapa tahun terakhir.

UMKM

Direktur sekaligus pemilik Cuit Babywear Hans Saputra mengungkap, dia mulai merintis bisnis pada 2016 berkat kejelian melihat permintaan pakaian bayi yang konsisten tanpa bergantung tren tertentu.

Mengandalkan penjualan daring (online) di awal pendiriannya, Cuit Babywear mengalami pertumbuhan pesat hingga mendorong perusahaan untuk merambah toko fisik secara agresif pada 2021.

Namun, pada 2022 perusahaan sempat mengalami tekanan likuiditas akibat ekspansi terlampau cepat tanpa diimbangi kesiapan tata kelola operasional dan manajemen rantai pasok yang memadai.

“Waktu itu saya terlalu percaya diri dan terburu-buru berekspansi. Untuk itu, kami harus belajar lagi dari awal, mulai dari menata supply chain, strategi pemasaran, sampai pada tata kelola perusahaan yang lebih sehat,” kenang Hans di Bandung, Selasa (13/10).

Raih Ruang Finansial Berkat Dukungan BCA

Cuit Babywear

Di tengah upaya pembenahan fundamental bisnis tersebut, Cuit Babywear mulai memanfaatkan fasilitas pembiayaan UMKM dari BCA pada 2022.

Kucuran kredit kegiatan usaha berkelanjutan ini memberikan ruang finansial bagi Cuit Babywear untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, memperbaiki infrastruktur, hingga memperkuat strategi pemasaran.

“Dengan dukungan kredit usaha dari BCA, kami punya ruang untuk berbenah dengan tenang dan terukur. Kami memilih kredit UMKM BCA karena bunganya kompetitif, kemudahan akses jaringan kantor cabang yang luas, serta kualitas pelayanan BCA yang sudah diakui. Fasilitas ini sangat vital untuk menjaga perputaran bisnis kami,” tambah Hans.

Tidak berhenti pada permodalan, perusahaan juga merasakan manfaat dari program pembinaan BCA, mendapat kesempatan memperluas jejaring dan keikutsertaan dalam gelaran BCA UMKM Fest maupun BCA Bangga Lokal.

Cuit Babywear konsisten menjadi salah satu toko dengan nilai penjualan tertinggi secara online pada perhelatan BCA UMKM Fest 2025 dan 2026.

Berkat manajemen operasional yang semakin matang dan dukungan likuiditas terjaga, perseroan memetik hasil manis dengan mencatat lonjakan omzet sekitar 100% pada 2023, disusul pertumbuhan sekitar 200% secara beruntun pada 2024-2025.

Pada tahun 2026, Cuit Babywear menargetkan pertumbuhan stabil mendekati 100% dengan jaringan distribusi yang kini telah merambah kota-kota besar di Pulau Jawa, utamanya Jabodetabek, hingga ke luar pulau.

Sejalan dengan Komitmen BCA Selaku Kreditur

Hera F. Haryn

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menilai resiliensi Cuit Babywear sejalan dengan komitmen bank swasta terbesar nasional tersebut dalam menjalankan tiga pilar utama pemberdayaan UMKM.

Ketiga pilar tersebut meliputi pembinaan, penyediaan infrastruktur pembayaran, serta solusi kebutuhan pembiayaan bagi pelaku usaha UMKM.

“BCA menyadari bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia.. Kami bersyukur dukungan yang kami berikan dapat menjadi katalisator bagi UMKM untuk naik kelas secara berkelanjutan,” tuturnya dalam pernyataan resmi, Rabu, 21 Oktober 2026.

Komitmen dukungan pembiayaan BCA bagi pelaku UKM tercermin dari angka penyaluran kredit BCA di segmen tersebut, yang per Juli 2026 tumbuh 6,9%, menyentuh angka Rp134 triliun.

Capaian ini melampaui rata-rata pertumbuhan kredit UKM industri perbankan yang mencapai 1,2% YoY berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada waktu yang sama.

Selain penyaluran pembiayaan, BCA menghadirkan dukungan komprehensif bagi pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Selain itu, sebanyak 1.829 UMKM telah mengikuti program pelatihan bisnis yang didukung 43 modul pembelajaran dan 52 jam pelatihan.

Demikian juga program pendampingan seperti pelatihan ekspor, literasi keuangan, dan digitalisasi usaha guna membantu produk lokal menembus pasar yang lebih luas.

Baca Juga: Jelang Usia 70 Tahun, BCA Berhasil Cetak Rekor Penyaluran Kredit Rp1.000 Triliun

BCA merupakan salah satu bank terkemuka di Indonesia yang fokus pada bisnis perbankan transaksi serta menyediakan fasilitas kredit dan solusi keuangan bagi segmen korporasi, komersial, UMKM, dan konsumer.

Pada akhir Juni 2026, BCA melayani 42 juta rekening nasabah dan memproses lebih dari 124 juta transaksi setiap harinya, didukung 1.272 kantor cabang, 20.374 ATM, serta layanan internet & mobile banking dan contact center Halo BCA 24 jam.

Kehadiran BCA didukung oleh sejumlah entitas anak yang berfokus pada pembiayaan kendaraan, perbankan Syariah, sekuritas, asuransi umum dan jiwa, perbankan digital, dan pemodal ventura.

BCA berkomitmen untuk membangun relasi jangka panjang dengan nasabah, mengutamakan kepentingan bersama, dan menciptakan dampak positif pada masyarakat luas.

Dengan lebih dari 27.600 karyawan, visi BCA adalah untuk menjadi bank pilihan utama andalan masyarakat yang berperan sebagai pilar penting perekonomian Indonesia. (adv)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance