Jakarta, The Stance – Praktik joki di Indonesia banyak ditemui karena tingginya permintaan dari pengguna yang ingin jalan pintas. Bak simbiosis mutualisme, praktik ini justru membuka peluang ekonomi bagi penyedia jasa tertentu.

Setelah sempat ramai Joki Strava, buat mereka yang ingin pamer olahraga lari, kini muncul tren baru di media sosial, yakni layanan joki baca buku.

Ia menawarkan bantuan membaca buku, membuat anotasi, hingga menyiapkan ulasan buku agar terlihat seperti telah dibaca berkali-kali.

Jasa tersebut ditawarkan oleh pengguna Threads @inilindri. Dalam unggahannya, pemilik akun menawarkan diri untuk membaca buku milik klien, baik berbahasa Indonesia maupun Inggris, mulai dari buku fiksi hingga nonfiksi.

"Open jasa Joki Baca Buku. English, Indonesia. Fiksi, non fiksi, siap semua genre," tulis akun tersebut, pada Selasa 6 Oktober 2026.

Tarif yang dipatok pun tidak murah. Untuk buku setebal 100 hingga 800 halaman, ia mencantumkan biaya mulai dari Rp700 ribu hingga Rp1,6 juta.

joki baca buku

Layanan tersebut juga termasuk crochet bookmark atau pembatas buku rajut dan satu set sticky note transparan serta page marker (penanda halaman). Pemilik akun bahkan menawarkan jasa memotret buku jika ingin dikemas jadi konten media sosial.

"Bisa sekalian difoto-fotoin juga kalau mau buat sosmed, kali aja ada yang minat pake jasaku," tulis @inilindri.

Unggahan itu kemudian ramai mendapat perhatian pengguna Threads. Pemilik akun mengaku tidak menyangka tawarannya bakal menarik begitu banyak respons.

"Ya Allahhh, nggak nyangka rameeee, jangan dihujat plisss. Kalau mau order jasanya boleh DM ya," tulisnya.

Tak hanya @inilindri, ada juga pengguna Threads lainnya bernama Amel @amelswrld yang membuka jasa serupa khusus buku bahasa Indonesia. Jasa yang ditawarkannya sudah termasuk sampul buku, anotasi, hingga sticky tabs warna-warni.

Para penyedia jasa ini menawarkan harga yang bervariasi, mulai dari Rp500 ribu, Rp700 ribu, bahkan bisa menyentuh jutaan tergantung buku yang diberikan.

Cara Kerja Joki Baca Buku

buku - joki

Adanya layanan joki membaca buku ini memicu pertanyaan publik seputar cara kerja, tujuan hingga aspek etika dari jasa tersebut. Pemilik akun @inilindri menjelaskan bahwa konsep yang ditawarkannya juga bisa disebut sebagai ghost reader.

Cara kerjanya sederhana: klien bisa mengirimkan bukunya kepada penyedia jasa joki.

Lalu, penyedia jasa akan membacanya, memberikan highlight atau anotasi, memberi catatan tertentu, hingga menyediakan layanan foto estetik dari buku yang sudah dibaca. Setelahnya, buku dan foto-foto akan dikirim kembali kepada klien.

"Kakaknya punya buku tapi males bacanya, kirim ke aku nanti aku baca, buat highlight, kasih penanda, pokoknya dibuat sampe terlihat udah dibaca berkali-kali, nanti aku kirim kembali bukunya ke kakak hehehe," tulisnya menjawab pertanyaan warganet.

Ketika ditanya mengenai siapa yang menjadi sasaran layanan tersebut, pemilik akun secara terbuka mengatakan jasa itu ditujukan kepada orang yang ingin membangun kesan sebagai pencinta buku di media sosial.

"Target market utamanya untuk orang yang mau terlihat seperti bookworm/bookstagram," jawabnya.

Ia juga mengungkapkan jasa semacam ini bukan pertama kali dilakukannya. Pemilik akun mengaku pernah menawarkan layanan serupa ketika masih SMA untuk novel bergenre teenlit dan chicklit.

Baca Juga: Demam Hyrox di Indonesia, Olahraga Kuli Versi Fancy Masyarakat Urban

Namun, ia menyebut baru kembali memulai jasa tersebut. Ia juga mengatakan nominal yang dicantumkan dalam unggahan viral tersebut bukan tarif sebenarnya.

"Aku baru mulai lagi kak, pas SMA pernah in jadul way buat novel (teenlit, chicklit), postingan ini buat narik klien, rate card aslinya enggak segitu," katanya.

Awal mula dirinya membuka jasa ini karena sempat melihat konten bookstagram luar negeri yang berhasil membaca 40 buku sebulan. Ada komentar dari orang lain yang beranggapan bahwa bookstagram tersebut memakai joki.

“Aku sempat mikir ‘Lah emang baca buku bisa dijokiin, dapat apa sih?' Pas aku searching beneran ada yang buka jasa ghost reader bahkan kemarin sempet ada bilang di Etsy ada yang jual jasanya, mana lumayan lagi,” cerita pemilik akun @inilindri tersebut.

Motif Orang Pakai Jasa Joki Baca Buku

buku  sosmed

Kemunculan joki baca buku memicu beragam tanggapan dari pengguna Threads. Ada yang melihatnya sebagai ide bisnis tidak biasa dengan pasar yang ternyata memang tersedia.

"This is weird... But very interesting business. Aku kira kamu bercanda kak, ternyata beneran ada marketnya. Keren sih," komentar salah seorang pengguna Threads.

Bagi penyedia jasa joki baca buku macam @inilindri, ide membuka jasa ini berangkat dari kesadaran bahwa tidak semua orang punya cukup waktu untuk membaca buku atau memahami suatu tulisan seperti jurnal.

Namun ketika ada resume atau sudut pandang yang menarik, akan sangat mungkin memunculkan ketertarikan konsumen untuk membaca buku secara keseluruhan.

Hadirnya jasa joki baca buku bisa membantu orang-orang yang memang butuh bantuan untuk menangkap poin-poin bacaan. Tapi di sisi lain, ia melihat ada kemungkinan seseorang butuh untuk menampilkan citra diri yang baik.

“Akhirnya aku punya ide 'Gimana kalau aku buka juga, buat orang yang dalam tanda kutip haus validasi terlihat intelektual atau buat orang sebenarnya butuh rangkuman buku atau jurnal atau artikel, tapi gak punya banyak waktu',” ujarnya.

Sementara, sebagian warganet juga menilai penyedia jasa memperoleh keuntungan ganda karena mendapatkan bayaran sekaligus kesempatan membaca dan memperoleh pengetahuan dari buku milik klien.

Pro dan Kontra Jasa Joki Baca Buku

ilustrasi baca buku

Meski begitu, fenomena ini tidak serta merta diterima oleh banyak orang. Ada yang menyebut, jasa ini adalah win win solution karena memang ada target dan pasarnya.

Namun, muncul pula pertanyaan mengenai tujuan dan etika layanan tersebut, khususnya jika buku yang telah diberi highlight serta berbagai penanda nantinya digunakan untuk menciptakan kesan bahwa pemiliknya telah membaca buku tersebut sendiri.

"Kamu peduli enggak kalau yang pake jasa pura-pura dia sendiri yang baca, dan jadi bisa ngaku-ngaku ke orang lain? Atau memang marketnya orang-orang ini?" tulis seorang pengguna.

Warganet lainnya masih dapat memahami keberadaan jasa tersebut apabila digunakan untuk membantu seseorang memahami atau merangkum sebuah buku.

Namun, pertanyaan muncul ketika layanan itu hanya digunakan untuk membuat buku tampak telah dibaca sebelum dipamerkan di media sosial.

Pengguna lain juga mempertanyakan manfaat dari aktivitas membaca jika seluruh proses tersebut justru diserahkan kepada orang lain. Pasalnya, membaca dilakukan untuk mendapatkan informasi, wawasan, dan hiburan secara langsung.

Fenomena ini bisa menjadi hal yang positif untuk menarik ketertarikan orang membaca buku.

Tapi jika hanya berhenti pada keinginan untuk terlihat sudah membaca tanpa benar-benar memahami isi buku, justru berpotensi menggeser esensi dari aktivitas membaca itu sendiri.

Kebutuhan akan Validasi

Danti Wulan Manunggal

Psikolog Danti Wulan Manunggal menilai, adanya fenomena joki, mulai dari joki Strava hingga jasa baca dan anotasi buku, sebagai bentuk ekstrem dari konsep psikologi yang dikenal sebagai manajemen impresi, atau impression management.

Ketika kegiatan yang sebenarnya bersifat personal seperti olahraga atau membaca berubah menjadi komoditas visual, fokus seseorang dapat bergeser dari "melakukan" atau doing, menjadi "terlihat melakukan" atau appearing.

"Secara psikologis, fenomena ini memang sangat erat kaitannya dengan kebutuhan akan pengakuan dan tekanan sosial, ditambah dengan beberapa faktor psikologis modern lainnya," kata Danti, dikutip Kompas.

Terdapat sejumlah faktor yang dapat membuat seseorang memalsukan aktivitasnya di media sosial. Salah satunya adalah kebutuhan terhadap validasi dan reward instan.

Saat ini, media sosial menawarkan reward berupa likes, komentar, dan followers. Otak kemudian merespons metrik tersebut dengan melepaskan dopamin yang memunculkan rasa senang.

Ketika pencapaian sebenarnya dianggap kurang menarik untuk menghasilkan respons tersebut, seseorang dapat memilih memanipulasi kenyataan, termasuk menggunakan jasa joki, demi memperoleh validasi.

Faktor berikutnya adalah tekanan sosial dan fear of missing out (FOMO). Menurut Danti, terdapat tekanan tak kasatmata di media sosial yang mendorong seseorang untuk terus menunjukkan kehidupan yang produktif, sehat, dan estetik.

"Melihat teman satu lingkaran rutin mengunggah rute lari 10 km atau tumpukan buku filsafat menciptakan standar baru," ucap lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Jalan Pintas Agar Terlihat Relevan

FOMO

Ketakutan tertinggal dari tren inilah yang kemudian dapat mendorong seseorang mencari jalan pintas agar tetap dianggap relevan dan menjadi bagian dari kelompok sosialnya.

Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui teori perbandingan sosial dari Leon Festinger, dimana manusia memiliki dorongan untuk mengevaluasi dirinya dengan cara membandingkan diri dengan orang lain.

Media sosial dapat mendorong terjadinya perbandingan ke atas, yaitu ketika seseorang terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang terlihat lebih sehat, lebih pintar, atau lebih sukses.

"Ketika kesenjangan antara realitas diri dan orang lain terlalu jauh, manipulasi digital menjadi jalan keluar tercepat untuk menutup kesenjangan tersebut," kata Danti yang juga praktisi psikososial kesehatan mental ini.

Selain itu, hobi di era digital juga dapat berfungsi sebagai identitas. Menjadi pelari atau pembaca buku tidak lagi sebatas melakukan suatu kegiatan, tetapi bisa berkembang menjadi label yang dikaitkan dengan kelas sosial atau tingkat intelektualitas tertentu.

"Membeli jasa joki Strava atau anotasi buku sama halnya dengan membeli barang bermerek palsu, tujuannya adalah membeli simbol statusnya, bukan esensi dari aktivitas tersebut," jelas Danti.

Baca Juga: "Push Your Limits"; Fatamorgana Mematikan di Lintasan Lari Marathon

Ia kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan sindrom "diri palsu" yang dijelaskan psikoanalis Donald Winnicott.

Menurut teori tersebut, ketika seseorang merasa "diri aslinya", atau true self, tidak akan diterima oleh lingkungan, orang tersebut dapat membentuk "diri palsu", atau false self, sebagai mekanisme pertahanan.

"Di media sosial, false self ini dipelihara secara ekstrem, bahkan dengan bantuan pihak ketiga (joki) untuk memastikan mereka tetap dicintai, dihormati, atau setidaknya diperhatikan oleh dunia maya," jelas Danti.

Ia mengungkapkan, orang yang terus berada dalam siklus tersebut kerap berakhir mengalami kelelahan mental atau burnout serta perasaan hampa.

Sebab, pujian yang mereka dapatkan pada akhirnya diberikan kepada sebuah ilusi, bukan kepada diri mereka yang sebenarnya. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance