
Oleh Muhammad Fawaid, seorang akademisi pemerhati sosial dan ekonomi, dosen di Institut Sains dan Teknologi NU (STINUBA) Denpasar, yang juga Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali. Kini aktif menciptakan konten melalui akun Tiktok @m..fawaid.al.
Ada orang yang sepanjang hidupnya mengajarkan anak-anak mengeja kata, membaca kalimat, dan menulis cita-cita. Namun malam itu, seorang guru justru mengeja kalimat terakhir dalam hidupnya dengan napas yang semakin pendek.
Namanya Lisna. Usianya baru 29 tahun, seorang guru honorer Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tanjung Pagar 3 Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Sabtu, 27 September 2026, hingga sore Lisna masih terlihat sehat. Tak ada yang menyangka malam itu akan menjadi malam terakhirnya. Sekitar pukul 21.00 Wita, ia tiba-tiba mengeluh kepada ibunya, Marhamah.
"Ma, saya sakit. Napas saya sesak."
Oksigen portabel segera dipasang. Ayahnya, Tasrifin, bahkan mencari oksigen tambahan ke apotek. Namun sesaknya tak kunjung reda.
Keluarga akhirnya berusaha membawa Lisna ke rumah sakit. Sang ayah mencari bantuan tetangga untuk mendapatkan mobil.
Di tengah kepanikan itu, Lisna memeluk ibunya. Dengan napas tersengal, ia menyampaikan pesan yang kelak menjadi kalimat terakhir yang paling membekas di hati keluarganya: "Ma, bilang sama ayah dan kakak, tolong jagakan anak saya."
Bukan tentang dirinya. Bukan tentang rasa sakitnya. Pikirannya justru tertuju kepada putrinya, Hilyah Alma Zuyyina, yang baru berusia lima tahun.
Mobil akhirnya datang. Lisna dibawa menuju rumah sakit. Namun nyawanya tidak tertolong. Marhamah menduga putrinya telah mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan.
Harus Mengajar Meski Menembus Kabut Asap

Lisna diketahui memiliki riwayat asma yang belakangan semakin sering kambuh. Kondisi kabut asap di Banjarmasin disebut semakin parah sekitar sepekan sebelum kepergiannya.
Setiap hari, Lisna menempuh perjalanan sekitar 30 menit menuju sekolah, melewati udara yang menurut ibunya dipenuhi asap. Ketika tubuhnya tak sanggup, ia beberapa kali meminta izin tidak mengajar.
Tetapi kini, yang tersisa di ruang kelas hanyalah papan tulis, bangku-bangku murid, dan kenangan tentang seorang guru yang pernah mengajarkan anak-anak tentang masa depan.
Sementara di rumah, seorang anak kecil harus belajar memahami kehilangan. Hilyah beberapa kali mengajak neneknya berziarah ke makam sang ibu.
"Rumah mama di sana, nanti kita ke rumah mama."
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa bagi seorang anak berusia lima tahun. Namun bagi orang dewasa, rasanya seperti luka yang tak selesai.
Hilyah belum sepenuhnya memahami bahwa ibunya bukan sedang pergi bekerja. Ibunya tidak sedang keluar sebentar. Ibunya tidak akan pulang.
Baca Juga: I Love You Daddy, Teriak Sang Anak Sebelum Dihabisi Ayahnya
Kadang Hilyah menangis sendirian di sudut rumah, dekat lemari. Mungkin ia masih berharap pintu terbuka dan mamanya datang membawa pelukan. Tetapi pintu itu akan terus terbuka tanpa Lisna.
Lisna memang hanya seorang guru honorer. Namun pengabdiannya meninggalkan sesuatu yang tak ternilai: kenangan di hati murid-muridnya.
Ironisnya, perempuan yang mengajarkan anak-anak tentang cita-cita itu tidak sempat melihat masa depan anaknya sendiri. Di tengah kabut asap dan sesak napas, Lisna berjuang hingga akhir.
Dan pada ujung napasnya, ia hanya memikirkan satu hal: anaknya.
"Tolong jagakan anak saya."
Barangkali itulah cinta seorang ibu. Bahkan ketika dirinya hampir pergi, hatinya masih tertinggal pada anak yang harus melanjutkan hidup tanpanya.
Selamat jalan, Bu Lisna. Semoga setiap langkahmu menuju sekolah, setiap ilmu yang kau ajarkan, dan setiap anak yang pernah kau bimbing menjadi amal yang terus mengalir. Dan untuk Hilyah, kelak ketika engkau dewasa, semoga kau tahu: Mamamu adalah seorang guru. Ia mengajarkan banyak anak tentang cita-cita. Dan pada malam terakhir hidupnya, cita-cita terakhirnya hanya satu agar anaknya tetap terjaga.
Al-Fatihah..***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.