Sintang, The Stance – Jari-jari Magsima Rupina bergerak telaten mengikat benang demi benang. Di hadapannya, sehelai kain belum selesai dikerjakan. Ada motif yang harus dijaga, ada proses panjang yang tak bisa dilewati begitu saja.

Bagi perempuan berusia 57 tahun itu, menenun bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus bagian dari kehidupan yang telah dijalaninya puluhan tahun sejak remaja.

Magsima mulai belajar menenun ketika berusia 15 tahun. Ia mengenal keterampilan itu dari ibu dan neneknya. Kala itu, proses pembuatan tenun ikat tradisional masih sangat bergantung pada alam.

Kapas ditanam sendiri di ladang, sementara bahan pewarna berasal dari tumbuh-tumbuhan yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka.

“Dulu masih alami semua, enggak ada kimia seperti sekarang,” kenangnya.

Kulit akar mengkudu, daun tarum, dan bahan-bahan alami lainnya digunakan untuk menghasilkan warna pada benang. Bahan pengikat pun harus dicari sendiri di hutan. Daun yang akan digunakan perlu diolah, direbus, lalu dijemur sebelum dimanfaatkan.

Magsima Rupina

Pekerjaan menenun pada masa itu bukanlah perkara sederhana. Sebelum kain terbentuk, benang harus dipersiapkan dan dirapikan terlebih dahulu.

Benang diberi nasi, kemudian digosok menggunakan kulit kelapa agar tidak mudah kusut. Ukuran benang yang tidak seragam juga perlu dibenahi satu per satu.

Semua itu dikerjakan dengan peralatan dan bahan yang tersedia saat itu. Sementara menenun, Magsima dan keluarganya tetap harus mengurus pekerjaan ladang. Kain dibuat ketika ada waktu luang, terlebih karena belum banyak orang yang memesan.

“Dulu karena enggak ada yang membeli, enggak ada yang memesan. (Tenun) Hanya dipakai sendiri,” tuturnya.

Tenun menjadi kain yang digunakan untuk kebutuhan keluarga, pakaian adat, pernikahan, atau acara-acara tertentu.

Karena prosesnya panjang dan pengerjaannya dilakukan sambil menjalankan pekerjaan lain, menghasilkan beberapa helai kain saja bisa memakan waktu berbulan-bulan. Dalam setahun, mereka bisa menghasilkan empat kain dengan ukuran tertentu.

Kini, prosesnya relatif lebih cepat. Bahan untuk mengikat benang lebih mudah diperoleh, sehingga pengrajin tak lagi harus menghabiskan waktu mencari dan mengolahnya sendiri di hutan.

Meski demikian, pembuatan satu kain tetap membutuhkan ketekunan. Untuk pesanan tertentu, pengerjaan bisa berlangsung hingga tiga bulan, bergantung pada ukuran, motif, dan tingkat kerumitannya.

"Sekarang sih mending bisa dipercepat. Paling lama, 3 bulan sekarang," ujarnya.

Warisan Motif, Ketekunan dan Nilai Sebuah Kain

motif tenun sintang

Magsima sehari-hari tinggal di Desa Gembaraya, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Di sanalah ia terus merawat dan menurunkan keterampilan menenun yang dipelajarinya sejak muda bersama Kelompok Tenun Morinda.

Kain yang dibuatnya menghadirkan beragam motif tradisional khas Sintang. Ada motif Leku, Datu Sandung, Anak Jeluh atau Aur, hingga Blangka.

Untuk motif kumbu, ragamnya pun beraneka, di antaranya Merinjan Dandik, Merinjan Bedan, Merinjan Mentali, dan Merinjan Bekurung. Motif khas tenun ikat Dayak Sintang ini sudah lama dikenal dan mendunia.

Tenun ikat Dayak/Sintang bukan sekadar kain, tapi bagian integral dari kehidupan masyarakat Dayak. Kain ini tidak cuma dipakai untuk keseharian, namun juga memiliki fungsi sakral dalam berbagai upacara adat.

Jadi, setiap helai kain ini membawa makna mendalam. Motif-motifnya dengan warna-warna yang kaya, sering menggambarkan cerita-cerita tentang alam, kehidupan sehari-hari, sampai kepercayaan spiritual masyarakat Dayak.

Setiap motif memiliki bentuk dan pengerjaan tersendiri. Karena itu, pengalaman dan ketelitian menjadi bagian penting dalam menghasilkan kain yang sesuai dengan pesanan. Magsima bahkan kerap memilih mengerjakan kain seorang diri.

“Kalau bareng-bareng gitu, maklumlah, tangan kan enggak sama,” ujarnya.

Bukan berarti ia menutup diri dari kerja bersama. Namun, dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi, ia ingin hasil akhirnya sesuai dengan standar yang selama ini dijaganya.

Kain tenun bukan barang yang bisa diselesaikan dengan tergesa-gesa. Waktu, keterampilan, dan ketelitian pengrajin ikut menentukan nilai kain yang dihasilkan.

Nilai Jual Tinggi di Balik Karya Tenun

Tenun Ikat Sintang

Nilai itu pun tercermin dari harga jualnya. Magsima bercerita, salah satu kain berukuran lebih kecil pernah dibeli seorang pelanggan dari Bali dengan harga sekitar Rp1,5 juta. Sementara kain pua yang lebih besar bisa mencapai Rp3,5 juta.

Pelanggan dari luar daerah justru menjadi salah satu sumber pesanan yang penting. Selain Bali, ia menyebut pembeli banyak berasal dari Pontianak dan Sarawak, Malaysia. Selain kain, ada pula pesanan untuk bahan pakaian atau jas.

Sebagian pelanggan tertarik karena penggunaan bahan dan pewarna alami. Menurut Magsima, pembeli dari Bali yang pernah memesan kainnya termasuk mereka yang mencari produk dengan unsur alami.

Namun, pasar yang lebih luas tidak otomatis membuat pemasaran menjadi mudah. Selama ini, pesanan lebih banyak sering datang dari orang-orang yang sudah mengenal hasil tenunannya.

Ia juga pernah menitipkan produk melalui koperasi, tetapi merasa harga yang ditawarkan belum sebanding dengan waktu dan tenaga yang dicurahkan.

“Kalau di koperasi itu termasuk jarang. Harganya enggak memuaskan,” katanya, menegaskan tantangan pengrajin sepertinya. Kain yang dibuat dengan proses panjang harus menemukan pembeli yang bersedia membayar sesuai nilai pengerjaannya.

Pengrajin perlu menjaga kualitas dan tradisi, tetapi di sisi lain juga harus memastikan pekerjaan tersebut memberi hasil yang layak bagi kehidupan mereka. Di tengah tantangan itu, terbuka pula peluang baru melalui akses internet.

Oleh karena itu, Magsima dan rekan-rekan pengrajin tenun ikat Dayak di Sintang begitu antusias mengikuti pelatihan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi terkait pemanfaatan konektivitas digital.

BAKTI Komdigi Gelar Pelatihan Digital bagi UMKM

UMKM - 3T

Kegiatan pemanfaatan infrastruktur digital BAKTI bagi pelaku Usaha Mikro Kecil menengah (UMKM) diselenggarakan secara daring dan luring, pada Kamis 20 Agustus 2026, serentak di sejumlah titik lokasi Akses Internet BAKTI di Kabupaten Sintang.

Melalui program ini, BAKTI Komdigi menyasar pelaku UMKM di daerah 3-T, tertinggal, terdepan dan terluar, di Sintang, Kalimantan Barat, agar semakin melek digital.

Pelatihan ini bertujuan mendorong pelaku UMKM di daerah 3T mampu memanfaatkan teknologi digital dan akses internet BAKTI sekaligus membuka akses pasar agar produk-produk lokal Sintang mampu menembus pasar yang lebih luas.

Materi pelatihan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar bisa go digital mencakup dasar pemasaran online, pembuatan konten, pengelolaan keuangan digital, operasional e-commerce hingga praktik live selling.

Kepala Divisi Layanan Telekomunikasi dan Informasi Masyarakat BAKTI Komdigi Ade Dimijanty Sirait yang membuka kegiatan pelatihan ini melalui daring berharap ilmu yang didapat bisa langsung diterapkan para pelaku UMKM dalam menjalankan usaha.

"Pelatihan ini disesuaikan, mungkin ada yang masih basic, atau intermediate disesuaikan silakan ditanyakan, yang paling penting kami berharap bapak ibu semua ilmu itu bisa diterapkan untuk kawan-kawan UMKM," ujar Ade.

"Untuk akses internet BAKTI yang sudah dibangun itu silahkan dimanfaatkan juga. Silakan datang ke titik-titik AI. Kemudian kalau perlu mungkin mau buka internetnya atau apapun yang mendukung usaha bapak ibu semua silakan." tambahnya.

Berdasarkan data Diskominfo Sintang, pemasangan BTS dan Akses Internet Bakti 3T di Kabupaten Sintang kini sudah mencapai 269 titik. Keberadaan infrastruktur digital ini dinilai semakin penting untuk mendukung UMKM digital ke depannya.

Menjaga Tradisi dan Membuka Jalan Baru Lewat Internet

pelatihan umkm - sintang

Magsima mengakui, perjalanan menuju pemasaran digital masih berada pada tahap awal. Ia belum cukup familiar menggunakan telepon genggam untuk mempromosikan produknya sendiri.

Alhasil, untuk urusan komunikasi dan pesanan, ia masih mengandalkan Maria, sang anak, untuk membantunya menerima informasi dari calon pembeli.

Meski demikian, Magsima mencoba beradaptasi dengan mulai membuka diri terhadap perkembangan digital. Ia mengaku senang dapat mengikuti pelatihan UMKM digital yang digelar BAKTI Komdigi.

"Ilmu yang didapat akan digunakan untuk memasarkan tenun ikat yang dibuatnya sendiri, agar dapat menjangkau pembeli yang lebih luas," ujarnya pada The Stance, Kamis 20 Agustus 2026, di Kantor Desa Gembaraya, Sintang Kalimantan Barat.

Bagi pengrajin yang selama ini mengandalkan pesanan dari pelanggan lama dan jaringan dari mulut ke mulut, internet berpotensi menjadi pintu untuk mengenalkan kain tenun kepada orang-orang yang belum pernah melihatnya secara langsung.

Foto kain, cerita di balik motif, proses pewarnaan alami, hingga lamanya pengerjaan dapat menjadi informasi yang membantu calon pembeli memahami nilai sebuah produk.

Baca Juga: Pemda Jepara Alih-fungsikan Aset untuk Museum Kartini, Apa yang Berbeda?

Konektivitas saja tentu tidak serta-merta mendatangkan pesanan. Pengrajin juga membutuhkan pendampingan untuk membuat materi promosi, berkomunikasi dengan pembeli, menentukan harga, dan mengelola pesanan.

Kualitas jaringan perlu diikuti keterampilan digital yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena itu, akses internet BAKTI dapat menjadi titik awal, bukan akhir dari proses digitalisasi.

Tantangannya adalah bagaimana konektivitas tersebut benar-benar bisa digunakan untuk membantu pengrajin seperti Magsima menjangkau pasar yang lebih luas, tanpa kehilangan kendali atas kualitas dan nilai karyanya.

Internet mungkin belum langsung mengubah cara Magsima bekerja. Namun, setidaknya akses dan pendampingan itu bisa menjadi jembatan bagi karya yang selama ini tumbuh dari ketekunan di Desa Gembaraya untuk dikenal lebih luas.

Di tangan Magsima, benang-benang itu terus diikat menjadi kain. Sementara di luar ruang kerjanya, peluang baru mulai terbuka agar warisan lama tetap hidup dan para penjaganya bisa memperoleh penghidupan yang lebih baik.

"Harapan saya agar produk saya bisa dikenal kemana saja atau sampai keluar negeri," pungkas Magsima. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance