
Oleh Taufiq Fredrik Pasiak, ilmuwan Otak, yang merupakan penyuka Kopi dan travelling. Kini mengabdi sebagai Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta.
Beberapa waktu lalu, di sebuah rumah duka, saya bertemu Arie Yusuf Amir. Pengacara terkenal yang belakangan menjadi pengacara Nadiem Makarim.
Sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Kami saling mengenal sejak tahun 1990-an, ketika sama-sama masih muda dan sedang keranjingan dengan berbagai pemikiran tentang politik, demokrasi dan masa depan Indonesia.
Melihat Arie, saya langsung teringat Bukittinggi. Entah tahun berapa persisnya, yang jelas masih zaman Orde Baru.
Kami bertemu dalam penerbangan menuju Padang, kemudian bersama-sama ke Bukittinggi mengikuti kegiatan Center for Information and Development Studies (CIDES)-Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Saya waktu itu Ketua CIDES-ICMI Sulawesi Utara. Bang Adi Sasono menjadi penanggung jawab kegiatan. Banyak tokoh besar hadir.
Ada Bang Jumhur Hidayat—kini menteri—yang waktu itu mulai dikenal sebagai anak muda kritis, dalam pusaran Adi Sasono dan Burzah Zarnubi, tokoh MASIKA.
AM Fatwa juga hadir, setelah mengalami pahitnya penjara politik Orde Baru, dan dalam keadaan sakit. Sabam Sirait pun ada. Ayahnya Maruarar Sirait, Menteri Perumahan sekarang.
Kesan di Tengah Perjalanan

Saya kebetulan satu bus dengan Sabam menuju Bukittinggi. Wah, orang ini lucu sekali. Sepanjang perjalanan ada saja ceritanya. Saya masih ingat bagaimana kami tertawa mendengar kelakar-kelakarnya.
Padahal yang sedang bercanda itu seorang tokoh politik yang sudah melewati begitu banyak pergulatan.
Saya, Arie, Kun dan Irman G. Lanti masih unyu-unyu. Bocah ingusan, boleh dibilang. tetiba berada di tengah orang-orang yang nama dan pemikirannya sering kami baca di koran. Senang tentu saja. Sedikit minder juga mungkin. Hahaha.
Irman, entah di mana dia sekarang. Sudah lama sekali kami tidak bertemu. Kalau tulisan ini sampai kepadanya, mudah-mudahan dia masih ingat perjalanan kami ke Bukittinggi itu.
Kami menginap di hotel kecil tempat acara CIDES di jalan turunan depan Novotel Bukittinggi, yang kemudian berganti nama menjadi The Hills Bukittinggi, lalu Triple Tree Hotel & Resort, hingga saat ini dikenal sebagai Monopoli Hotel & Resort Bukittinggi.
Di sela-sela acara, seperti biasa, ada waktu untuk ngupi dan ngobrol ngalor-ngidul.
Suatu ketika saya melihat Kun dan Arie sedang membuka-buka sebuah buku. Saya melirik judulnya. Gelombang Demokratisasi Ketiga. Samuel P. Huntington. Terjemahan Grafiti Pers, 1995. Wah, ini buku yang saya cari!
Saya sudah membaca tentang Huntington di Kompas. Tetapi mendapatkan bukunya di Manado waktu itu tidak gampang. Jangan bayangkan seperti sekarang, ketika orang tinggal membuka telepon genggam dan hampir semua buku bisa dicari.
Saya langsung minta kepada Kun dan Arie. Tidak pakai basa-basi panjang. Entah karena mereka baik hati atau kasihan melihat kawan dari Manado yang begitu bernafsu mendapatkan buku, mereka memberikannya begitu saja.
Pentingnya Buku Huntington

Bagi orang lain mungkin cuma buku. Bagi saya waktu itu, buku Huntington jauh lebih menarik daripada oleh-oleh dari Bukittinggi.
Kami memang sedang hidup dalam suasana politik yang menarik sekaligus menyesakkan. Orde Baru masih kuat. Soeharto seperti akan berkuasa selamanya. Demokrasi banyak dibicarakan, tetapi ruang untuk mempraktikkannya sangat terbatas.
Karena itu, buku Huntington terasa penting. Ia membicarakan bagaimana rezim otoriter di berbagai negara akhirnya tumbang, bagaimana demokrasi tumbuh, dan mengapa demokrasi kadang mengalami kemunduran.
Gelombang demokratisasi ketiga yang dimulai dari Portugal pada 1974 kemudian bergerak ke berbagai kawasan dunia. Saya membacanya dengan satu pertanyaan yang waktu itu mungkin juga hidup dalam kepala banyak anak muda.
Kapan Indonesia? Beberapa tahun kemudian Soeharto jatuh. Reformasi datang. Demokrasi yang dahulu menjadi bahan bacaan dan perdebatan berubah menjadi pengalaman politik yang kita jalani sendiri.
Tetapi Huntington rupanya tidak berhenti membuat saya berpikir tentang demokrasi. Ada bukunya yang lain, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, terbit tahun 1996.
Gagasannya lebih dahulu muncul dalam artikel tahun 1993. Buku inilah yang sekarang kembali mengusik pikiran saya ketika melihat dunia yang semakin gaduh.
Huntington mengatakan bahwa setelah Perang Dingin, pertentangan besar dunia akan semakin banyak ditentukan oleh identitas budaya dan peradaban. Bukan lagi terutama kapitalisme melawan komunisme seperti sebelumnya.
Benturan yang Dialasdasari Perbedaan

Dunia, menurut Huntington, terdiri dari sejumlah peradaban besar. Barat, Islam, Tiongkok, Hindu, Ortodoks, Jepang, Amerika Latin dan kemungkinan Afrika.
Masing-masing mempunyai sejarah, kebudayaan dan identitas yang berbeda. Agama menjadi salah satu unsur penting pembentuk identitas tersebut. Saya kira ada satu hal yang ditangkap Huntington dengan sangat baik.
Manusia tidak hanya hidup dengan kepentingan ekonomi. Ia juga hidup dengan ingatan, kebanggaan, rasa memiliki, dan kadang luka sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika identitas itu merasa terancam, manusia bisa melakukan sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan perhitungan untung-rugi. Orang bisa rela mati untuk sesuatu yang disebutnya kehormatan bangsa.
Bisa membenci orang yang tidak pernah dikenalnya hanya karena berbeda agama. Bisa menganggap penderitaan kelompok lain sebagai sesuatu yang pantas diterima. Tetapi apakah dunia benar-benar sedang bertabrakan karena perbedaan peradaban?
Jujur saja, saya ragu.
Anda lihat Rusia dan Ukraina. Mereka memiliki banyak kedekatan sejarah, budaya, bahkan warisan Kekristenan Ortodoks, tetapi perang tetap terjadi. Orang-orang yang mempunyai begitu banyak kesamaan justru saling membunuh.
Israel dan Palestina juga tidak sesederhana pertentangan Yahudi melawan Islam. Ada sejarah panjang perebutan tanah, pendudukan, pengusiran, keamanan dan hak menentukan nasib sendiri.
Baca Juga: Kita Hanya Bisa Membuat Rencana
Mengubah semua persoalan itu menjadi pertarungan agama malah membuat kita kehilangan pemahaman tentang akar konfliknya.
Lalu Amerika Serikat dan China. Dua kekuatan besar yang sedang berebut pengaruh dunia. Mereka bersaing dalam perdagangan, teknologi, kecerdasan buatan, semikonduktor, kekuatan militer dan pengaruh geopolitik.
Apakah ini benturan peradaban Barat dengan Tiongkok seperti yang dibayangkan Huntington? Ada unsur itu. Tetapi kalau kita melihat lebih dekat, kepentingan ekonomi dan kekuasaan terasa begitu kuat.
Jangan-jangan yang sedang bertabrakan sebenarnya bukan peradaban, melainkan kepentingan yang menggunakan pakaian peradaban.
Saya teringat kritik Edward Said, pemikir Palestina-Amerika, terhadap Huntington. Dalam tulisannya The Clash of Ignorance, Said mengingatkan betapa berbahayanya memperlakukan peradaban sebagai kelompok manusia yang seragam.
Seolah-olah semua orang Islam mempunyai pikiran yang sama. Semua orang Barat memiliki kepentingan yang sama. Semua orang China bergerak dengan satu kehendak.
Padahal Anda dan saya tahu, bahkan dalam satu keluarga saja orang bisa berbeda pandangan politik. Apalagi dalam sebuah peradaban yang dihuni ratusan juta manusia.
Saya melihat persoalan yang lebih mengkhawatirkan. Identitas agama dan peradaban bisa menjadi alat yang sangat ampuh di tangan kekuasaan. Ketika pemimpin ingin memperoleh dukungan, ia dapat mengatakan bahwa kelompoknya sedang terancam.
Bahasa Kehormatan dan Peradaban

Ketika negara ingin memperluas pengaruh, persoalan politik dapat diberi bahasa kehormatan bangsa atau pembelaan terhadap peradaban.
Orang yang semula tidak mempunyai persoalan pribadi dengan kelompok lain kemudian merasa mempunyai musuh bersama. Dan musuh itu kadang bahkan belum pernah dilihat wajahnya.
Coba Anda perhatikan bagaimana perang dan konflik dibicarakan di media sosial. Orang bisa begitu bersemangat membela satu kelompok, lalu kehilangan rasa iba ketika melihat penderitaan kelompok lainnya.
Anak-anak yang meninggal pun kadang dinilai berdasarkan identitas orang tuanya. Cara berpikir seperti itu sulit saya terima. Peradaban seharusnya membuat manusia semakin beradab.
Kalau identitas peradaban justru digunakan untuk membenarkan kekejaman, apa sebenarnya yang sedang kita bela? Indonesia perlu berhati-hati. Kita hidup dalam masyarakat dengan banyak agama, suku, bahasa dan sejarah.
Kita juga berada di tengah persaingan kekuatan besar dunia. Sangat mudah bagi kita untuk terseret ke dalam pertentangan yang sebenarnya tidak seluruhnya berkaitan dengan kepentingan bangsa sendiri.
Saya tidak mengatakan Huntington keliru seluruhnya. Justru itulah menariknya buku ini. Ia membantu kita memahami mengapa identitas menjadi begitu penting dalam politik dunia.
Tetapi teorinya juga bisa menjadi berbahaya apabila dipakai untuk menganggap bahwa pertentangan antarperadaban adalah sesuatu yang tak mungkin dihindari.
Penghormatan, Bukan Benturan

Ingatan saya kembali lagi Bukittinggi puluhan tahun lalu. Sabam Sirait yang membuat kami tertawa dalam perjalanan. AM Fatwa dengan pengalaman pahitnya sebagai tahanan politik. Adi Sasono dengan berbagai gagasannya.
Kun, Arie, Irman dan saya yang masih bocah ingusan, sibuk membaca buku dan mendengarkan orang-orang besar berbicara.
Kami datang dari latar belakang yang berbeda. Pandangan politik pun tidak selalu sama. Tetapi kami bisa duduk bersama, berdiskusi, bercanda dan saling belajar.
Bahkan sebuah buku yang berharga bagi saya bisa berpindah tangan begitu saja karena kebaikan dua orang kawan. Saya kira dunia membutuhkan lebih banyak suasana seperti itu.
Huntington membuat saya memahami betapa kuatnya identitas dalam kehidupan manusia. Tapi pengalaman hidup mengajarkan sesuatu yang tidak kalah penting. Manusia tidak harus kehilangan identitasnya untuk dapat menghormati orang lain.
Saya mengenal pemikiran Huntington ketika masih muda dan sedang memikirkan masa depan demokrasi Indonesia. Sekarang, setelah lebih dari tiga puluh tahun, saya kembali kepadanya dengan kegelisahan yang berbeda.
Dulu saya bertanya kapan demokrasi datang ke Indonesia. Sekarang saya bertanya, untuk apa manusia membangun peradaban yang begitu maju, kalau pada akhirnya masih begitu mudah membunuh sesamanya?
Barangkali yang sedang kita hadapi bukan sekadar benturan peradaban. Tetapi manusia yang semakin pandai membangun peradaban, namun belum cukup pandai menjadi manusia yang beradab.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance.