Oleh Airlangga Pribadi, staf pengajar ilmu politik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga, Surabaya.

Kemarin warganet heboh dengan ulah dan kelakuan Permadi Arya yang mengeklaim sebagai pejuang toleransi, namun kemarin kita saksikan bertindak seperti orang tantrum membela Istrahell yang sedang berperang dengan Iran.

Buat saya ulah yang dia tampilkan maupun propaganda naratif yang dia buat bukanlah propaganda. Tepatnya, bukan propaganda yang canggih dalam membela dominasi manuver pemukim kolonialis dari Istrahell.

Hanya kaum-kaum yang akalnya sudah lama enggak di-starter yang manjur termakan propagandanya, sayangnya model begitu banyak di negeri ini.

Propagandis yang baik dan canggih adalah propagandis yang mampu mengikat memori, bisa menggunakan bahasa yang halus atau tajam tapi tidak lupa dibalut dengan narasi yang terlihat membebaskan.

Seperti proyek hegemoni untuk mengikat persetujuan aktif dan sosial, motifnya manipulatif tapi sasarannya tidak sadar kalau sedang dimanipulasi.

Mendeteksi Propaganda Canggih

Saree Makdisi

Di sini saya akan berbagi suatu buku yang ditulis oleh Saree Makdisi (2022) berjudul Tolerance is A Wasteland agar kita semua bisa aware mendeteksi apa itu propaganda yang canggih terkait pembelaan narasi dari colonial settler dari Istrahell.

Makdisi bertujuan untuk membongkar tentang bagaimana propaganda canggih itu dibangun.

Bagaimana tindakan brutal yang dilakukan oleh kaum kolonialis terhadap warga Palestina selama berpuluh-puluh tahun berhasil dikemas dengan frame sebagai ideologi pembebasan, toleransi, multikulturalitas, demokrasi bahkan green ecologist.

Profesor literatur sekaligus aktivis pembebasan Palestina yang terdidik oleh gagasan Edward Said, Frantz Fanon ini menegaskan bahwa yang dilakukan dalam propaganda ini adalah melampaui kemunafikan.

Kemunafikan adalah aksi melakukan suatu tindakan, tapi berbicara dengan narasi yang kontras dari apa yang dilakukan.

Sementara, frame zionis kerap kali ada konsistensi dari apa yang dilakukan dengan yang dinarasikan, tapi semua itu dia lakukan ketika sebelumnya dia hancurkan korban sekaligus sejarahnya, untuk menyeleksi memori publik.

Pendeknya strategi framing ini dilakukan untuk membangun persetujuan culture of denial terhadap publik lebih luas terkait penindasan dan pengusiran yang dilakukan terhadap rakyat Palestina.

Biar enggak panjang-panjang pada contoh, sebenarnya perihal strategi ini sudah dilakukan sejak awal melampaui scope dari buku ini.

Mirip Revolusi Bolshevik, Mengaku Sosialis

Kibbutz

Sejak awal dari migrasi ke Palestina sampai tahun 1948, kaum zionis menegaskan dirinya sebagai organ sosialis. Mereka membangun sistem kibbutz (komunitas komunal bercorak sosialis agraris), dst.

Namun yang hilang dari memori publik, sosialisme ya dibangun melalui eksklusi terhadap kelas pekerja Arab-Palestina, pengusiran terhadap tanah yang dimiliki oleh rakyat Arab Palestina.

Memang ada tanah yang dibeli, tapi pembelian tanah itu pesesentasenya sangat kecil dibanding tanah yang dirampas.

Narasi sosialisme diangkat tinggi-tinggi sehingga berhasil mengelabui banyak tokoh kiri seperti Martin Luther King, W.E.B. Du Bois, bahkan Sartre sampai Foucault.

Selanjutnya strategi zionis adalah: setelah menghancurkan pemukiman Arab Palestina dan kebun-kebunnya, rezim kolonial melakukan reboisasi masif dengan menanam pohon, membentuk taman, hutan dst yang dipropagandakan ke internasional.

Sehingga, setiap anak di banyak negara dipersuasi untuk menyumbang pohon bag tanah Istrahell. Saya merinding ketika membaca bagian ini.

Mereka membuat musium holocaust yang menghadap kampung yang sebelumnya terjadi pengusiran total terhadap komunitas Palestina.

Mereka membangun perumahan multikultural dan keragaman. Isinya adalah para warga Yahudi imigran berbagai negara.

Baca Juga: Memelihara Kebencian; Kisah Abu Jendes dkk

Strategi framing yang terbaru sejak tahun 2000-an adalah menjual gagasan multikultural dan keragaman budaya.

Gerakan keragaman orientasi seksual dikampanyekan besar-besaran bukan untuk inklusi budaya tapi untuk menutupi proyek penghancuran terhadap rakyat Palestina yang hidup terpuruk di sana.

Itulah yang disebut propaganda yang busuk, sekaligus canggih! Strategi melampaui hipokrisi dengan menyebarkan hegemoni untuk menyeleksi memori kolektif.

Ketika penindasan, pengusiran, pembunuhan masif terhadap rakyat dan perempuan serta anak-anak diabaikan untuk menghapus memori publik, bagi membangun narasi baru tentang negeri yang inklusif, toleran, demokratis, dan multikulturalis.

Kelanjutannya narasi-narasi hegemonik seperti ini akan membawa kita mengabaikan isu-isu utama seperti imperialisme untuk mendorong culture of denial kepada proyek-proyek imperialisme.

Sehingga, kita melupakan pentingnya persatuan menghadapi kekuatan imperialis. melupakan summenbandeling von alle revolutionary krahten!

Itu pula yang sedang mereka lakukan dalam propaganda melawan Iran! Mikir kuy! Permadi? Halah. Please stop make stupid people famous.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.