Ismail Fahmi

Oleh Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit dan PT Media Kernels Indonesia, yang kini aktif menuangkan gagasan dan pemikirannya di Facebook.

Saya tadi sempat lihat data dari Google Trend. Ternyata setelah terjadi pelaporan, volume pencarian 'Mens Rea' jadi meningkat. Lebih tinggi dibanding saat orang-orang sehabis nonton di Netflix.

Bagaimana analisanya, dan bagaimana dampaknya ke depan?

Pelaporan ke polisi pada 8 Januari bertindak sebagai trigger atensi publik. Isu yang sebelumnya berada di lingkaran penonton stand-up dan komunitas tertentu, tiba-tiba melonjak ke ruang publik luas.

Dalam komunikasi publik, ini dikenal sebagai Efek Streisand: "Upaya membungkam atau menghentikan sesuatu justru membuatnya lebih dikenal."

Data Google Trends menunjukkan:

  • Sebelum pelaporan, pencarian 'mens rea' berada di kisaran rendah–menengah (15-40 poin)

  • Setelah pelaporan, terjadi lonjakan signifikan (57 point)

Artinya, narasi hukum mengalahkan narasi seni, dan publik terdorong mencari tahu:

“Sebenarnya apa isi 'Mens Rea' sampai dilaporkan?”

Bagi karya budaya, kontroversi = distribusi.

Pergeseran Frame: dari “Komedi” ke “Kritik Kekuasaan”

Pandji PragiwaksonoPelaporan mengubah framing publik.

Sebelum pelaporan: Mens Rea = pertunjukan stand-up, kritik sosial dengan gaya satir.

Sesudah pelaporan: Mens Rea = simbol kebebasan berekspresi, kritik terhadap kekuasaan, dan relasi negara–warga.

Begitu masuk ke frame “dikriminalisasi”, publik tidak lagi menilai leluconnya lucu atau tidak, melainkan adil atau tidak. Kalau sudah seperti ini, Mens Rea berhenti menjadi konten hiburan, ia berubah menjadi artefak politik-budaya.

Pelaporan menciptakan relasi asimetris:

Seorang komedian vs Aparat hukum + klaim representasi ormas besar (NU & Muhammadiyah)

Secara psikologis, publik digital cenderung bersimpati pada pihak yang tampak lebih lemah, apalagi jika isunya menyentuh kebebasan berpendapat.

Ketika kemudian muncul pernyataan Anwar Abbas dari Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah (9/1/2026) yang tidak mengakui pelaporan, menyatakan kritik seharusnya didengar--bukan dipidanakan, maka terjadi delegitimasi moral terhadap pelapor.

Hasilnya: pelaporan kehilangan otoritas simbolik sementara Mens Rea justru mendapat validasi moral.

Polarisasi & Amplifikasi Algoritmik

Kontroversi hukum memiliki daya sebar algoritmik lebih kuat dibanding konten seni biasa:

  • Media online mengangkatnya.

  • Talkshow, podcast, X/Twitter, Instagram Reels membahasnya.

  • Komentar pro–kontra memicu engagement tinggi.

Algoritma media sosial membaca ini sebagai “konten bernilai tinggi untuk disebarkan”. Akibatnya, nama Mens Rea muncul lintas platform. Bahkan orang yang tidak pernah nonton stand-up ikut mencari.

Ini menjelaskan kenapa setelah 8 Januari, tren pencarian tidak turun—justru naik.

Dampak jangka pendek: pamor Mens Rea naik, menjadi referensi nasional tentang kritik sosial, kapasitas simbolik bertambah dan bukan sekadar pertunjukan, melainkan “kasus”. Audiens baru tercipta, orang datang bukan karena komedi, tapi karena isu.

Baca Juga: Penolakan Gen Z atas Pilkada DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi

Dampak jangka menengah–panjang:

  1. Untuk Mens Rea & Kreator

    - Karya ini akan terus dirujuk dalam diskursus kebebasan berekspresi.

    - Potensi menjadi tonggak sejarah budaya pop–politik.

    - Kritik berikutnya akan dibaca dengan bobot lebih besar.

  2. Untuk Ormas & Institusi

    - Klaim “mewakili NU/Muhammadiyah” tanpa otorisasi resmi akan makin dipertanyakan.

    - Pernyataan elite seperti Anwar Abbas memperkuat kesan: ormas besar tidak monolitik dan tidak anti-kritik.

  3. Untuk Negara & Aparat

    - Muncul tekanan publik agar hukum tidak dijadikan alat sensor.

    - Kasus ini bisa menjadi rujukan setiap kali seni bersinggungan dengan pasal pidana.

Pelaporan Mens Rea adalah contoh klasik salah strategi komunikasi. Niatnya menghentikan pengaruh tapi hasilnya malah memperluas pengaruh.

Alih-alih meredam kritik, pelaporan justru mengangkat Mens Rea ke level wacana nasional, memberi panggung yang jauh lebih besar, dan mengubahnya dari pertunjukan menjadi simbol.

Dalam ekosistem digital hari ini, kriminalisasi kritik sering kali bukan akhir cerita—melainkan awal amplifikasi.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance