
Oleh Yudi Latif, aktivis dan cendekiawan, Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia serta Direktur Eksekutif Reform Institute. Kini aktif menuangkan ide dan gagasannya di Instagram.
Saudaraku, dulu Indonesia berdiri di panggung dunia dengan penuh percaya diri sebagai pemimpin negara-negara Nonblok. Kita memasuki pergaulan dunia dengan politik bebas aktif yang cerdik mendayung di antara dua karang.
Bebas berarti mampu berdiri di atas kaki sendiri tak tergantung dan tak memihak blok mana pun. Aktif berarti turut terlibat mengupayakan perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan.
Kini, Indonesia berdiri di panggung dunia penuh ambigu sebagai pengekor di barisan negara-negara Goblok. Kita memasuki pergaulan dunia dengan politik terikat-kompulsif.
Terikat artinya tersandera oleh pilihan sendiri menjadi sekutu adidaya pembuli. Kompulsif artinya dorongan obsesif untuk terus tampil di panggung internasional sebagai proyeksi dari perasaan rendah diri.
Akibatnya, kita kehilangan akar kewibawaan di barisan negara-negara Nonblok, tapi juga tak diindahkan oleh rekognisi superioritas negara adidaya--yang tetap memandang kita sebagai representasi negara Goblok.
Mungkin inilah tragedi paling sunyi dari sebuah bangsa: bukan ketika ia kalah perang, melainkan ketika ia perlahan kehilangan akal sehatnya sendiri.
Dulu kita mengaku bebas karena berani berpikir merdeka; kini kita sibuk aktif hanya untuk meniru siapa yang paling lantang menggertak.
Baca Juga: Agresi Israel-AS & Ironi Indonesia: Refleksi Hari Penegakan Kedaulatan
Maka perjalanan kita terasa ganjil: dari Nonblok yang lahir dari keberanian intelektual, menuju Goblok yang dipelihara oleh kemalasan berpikir.
Dan barangkali dunia tidak sedang menertawakan kita—mereka hanya menunggu dengan sabar sampai kita sendiri menyadari betapa seriusnya lelucon yang sedang kita mainkan sebagai sebuah bangsa.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.