Jakarta, TheStance – Sejumlah pejabat beralih ke sepeda untuk berangkat kerja (bike to work) merespons imbauan efisiensi energi, mengurangi polusi, & memberikan contoh budaya hidup sehat dan ramah lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Salah satunya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pemerintah setempat, yang berangkat bekerja ke kantor dengan naik sepeda dari tempat tinggalnya masing-masing.

Luthfi mengatakan bahwa upaya menghemat energi harus menjadi budaya masyarakat Jawa Tengah. Banyak cara dapat dilakukan, seperti bersepeda ke kantor, naik kendaraan umum, dan lainnya.

"Saya lihat ASN kita ada yang naik sepeda, ada yang naik kendaraan listrik, hingga naik angkot. Itu jangan karena ada surat edaran, tetapi jadikan budaya sehingga menjadi senang dan tidak terasa (berat)," kata Luthfi, dalam keterangan tertulis, Kamis 9 April 2026.

Fenomena ini tidak lepas dari kekhawatiran global terhadap krisis energi pada 2026. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, memicu ketidakpastian pasokan minyak dunia.

Di tengah situasi tersebut, sepeda mulai dilirik sebagai alternatif transportasi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

Belajar dari Belanda

sepeda

Penggunaan sepeda sebagai moda transportasi alternatif pengganti BBM sudah dicontohkan oleh Pemerintah Belanda saat menghadapi krisis bahan bakar minyak di tahun 1972.

Krisis tersebut ditanggapi oleh Pemerintah Belanda untuk memprioritaskan pengembangan penggunaan sepeda dengan memberikan subsidi di berbagai kebijakan persepedaan nasional.

Belanda selama ini dikenal telah menjadi yang terdepan dalam mengembangkan moda transportasi sepeda. Berbeda dengan negara lain, seperti Inggris dan AS, Belanda relatif berhasil dalam membangun iklim bersepeda.

Sejak tahun 1906, Belanda menjadi negara dengan masyarakat pesepeda terbanyak. Jalur sepeda terus dibangun hingga 1930-an. Jalur sepeda itu dibangun demi kenyamanan pesepeda, bukan memisahkannya dari jalur kendaraan bermotor.

Pada 1960-an Belanda membatasi penggunaan kendaraan bermotor. Hal ini dikarenakan sering terjadi kecelakaan. Masyarakat Belanda, terutama para orang tua, mengkhawatirkan keselamatan anak-anak mereka saat di jalan.

Selain angka kecelakaan yang tinggi, sumber publikasi dari "Ducht Cycling Vision" mengungkapkan krisis minyak tahun 1972 jadi satu faktor lain yang menyadarkan masyarakat akan ketergantungan dan risiko yang menguntit dibelakangnya.

Upaya pengembangan infrastruktur sepeda membuat masyarakat Belanda tetap melirik moda transportasi ini. Dengan mengutamakan sepeda, ketergantungan masyarakat akan BBM menjadi sangat rendah.

Baca Juga: Jalan Berlubang Makan Korban, Masyarakat Bisa Gugat Pemerintah

Setelah itu, bermunculan gerakan akar rumput yang mendorong perubahan, gerakan semakin masif terutama cita-cita akan hadirnya kota yang aman. Tekanan publik pun manjur, sehingga melahirkan program pembangunan infrastruktur sepeda.

Kebijakan bersepeda nasional mulai diadopsi pada 1990-an dan jaringan sepeda sekarang ada di setiap kota di Belanda. Saat aktivitas bersepeda di negara lain mulai loyo, pesepeda di Belanda justru melaju.

Dari seluruh negara di dunia, Belanda memiliki tingkat penggunaan sepeda tertinggi yaitu hingga 27% dari total perjalanan yang ada. Jauh unggul di atas Denmark dan Jerman. Bahkan uniknya, jumlah sepeda di Belanda melebihi jumlah penduduknya.

Sebagai gambaran keberhasilan Belanda dalam mengelola iklim bersepeda di negaranya, penulis Carlton Reid dalam Bike Boom: The Unexpected Resurgence of Cycling membuat perbandingan angka pesepeda di kota London dan Rotterdam.

Angka pesepeda di kota London, Inggris, hanya 3 persen. Sementara itu, jumlah pesepeda di kota Rotterdam mencapai 25%.

Untuk menyamai angka pesepeda di Rotterdam, Reid menghitung, London harus bekerja keras menyediakan infrastruktur dan menumbuhkan budaya sepeda hingga 340 tahun.

Kembangkan Inovasi Teknologi Sepeda

Sepeda bus sekolah

Selain menyediakan sepeda dan jalurnya, Belanda juga menjadi pelopor inovasi soal sepeda. Saking cintanya kepada sepeda, banyak sekali inovasi teknologi yang dilakukan oleh Belanda untuk terus mengembangkan moda transportasi sepeda ini.

Di Belanda, ada sepeda yang digunakan sebagai “bus sekolah”. Sepeda unik ini diperuntukan untuk anak-anak sekolah usia 4-12 tahun. Sepeda ini menjadi yang pertama dan satu-satunya di dunia.

Selain itu, Belanda juga mengembangkan teknologi keamanan untuk sepeda di berbagai kondisi salah satunya bersepeda di malam hari.

Di Belanda telah dikembangkan teknologi jalur sepeda “glow in the dark” sehingga bersepeda di malam hari tak menjadi masalah dari segi keamanan. Umumnya, sepeda di Belanda dilengkapi dua pedal rem belakang atau rem kaki.

Akan tetapi, rem ini lebih baik jika pengendara melaju dengan kecepatan tinggi. Hal inilah yang membuat para pengendara sepeda di Belanda merasa aman dan nyaman.

Hal lain yang membuat masyarakat Belanda nyaman ketika bersepeda adalah sepeda-sepeda di Belanda dapat disimpan di luar sepanjang tahun dengan kondisi hujan dan salju tanpa berkarat. Hal ini penting di Belanda, karena keterbatasan ruangan.

Segala inovasi ini berbuah manis, Belanda memiliki tingkat kecelakaan sepeda terendah di dunia, padahal populasi sepedanya paling banyak di dunia.

Jadi Gaya Hidup dan Tuai Banyak Manfaat

sepeda belanda

Kegiatan bersepeda di Belanda sudah menjadi gaya hidup. Bersepeda diibaratkan sama dengan kebiasaan mengosok gigi. Masyarakat melakukan kebiasaan menggosok gigi karena tahu manfaat dan hasilnya.

Pembudayaan karakter bersepeda di Belanda dilakukan melalui pendidikan dan proses pembudayaan sejak usia dini. Hal ini rupanya membantu memperpanjang harapan hidup di Belanda.

Ddampak yang dirasakan dengan penerapan sepeda sebagai moda transportasi utama di sana adalah pertumbuhan populasi lanjut usia madya dan lanjut yang mengalami peningkatan setiap tahun.

Dari sisi ekonomi, penggunaan sepeda sebagai transportasi memangkas biaya akomodasi transportasi. Dari laporan "Ducht Cycling Vision", peseda hanya butuh 3 ribu euro sedangkan kendaraan bermotor bisa menghabiskan dana hingga 85 ribu euro.

Selain itu, bersepeda memiliki manfaat besar bagi lingkungan karena tidak meninggalkan polusi, baik udara ataupun suara.

Menurut beberapa riset, sepeda hanya meninggalkan emisi karbon dalam jumlah yang sangat minimal. Sementara untuk polusi suara, beralihnya dari moda transportasi mobil ke sepeda memangkas polusi suara hingga 65 persen polusi per km perjalanan.

Belanda mampu menunjukkan keunggulannya dalam mencari solusi alternatif krisis minyak dunia ini dengan pengembangan inovasi persepedaan. Dengan mengutamakan sepeda, ketergantungan masyarakat akan BBM menjadi sangat rendah.

Poin tambahannya, tentu saja udara perkotaan menjadi lebih segar dan penduduknya lebih sehat. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance