Oleh Muhammad Qowim, pengajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktif sebagai pengasuh Pondok Pesantren Joglo Alit.

Sungkeman dalam bentuk bersimpuh di depan orang tua baru dikenali di era Mataram Islam. Keraton-keraton Islam menjadikan sungkeman sebagai protokol resmi untuk menyatakan kesetiaan Abdi atau bawahan kepada Raja.

Pada abad ke-18 Masehi, misalnya di era Mangkunegara I, Pangeran Sambernyawa memopulerkan sungkeman kala idul fitri. Fase pertama sungkeman beredar di kalangan keluarga keraton lalu menyebar di kalangan prajurit keraton.

Tentu saja, penerimaan terhadap protokol resmi sungkeman itu bukan serta-merta muncul dari ruang hampa nilai budaya.

Di era masyarakat Vedic yakni pengikut Hindu dan Budhha, nilai-nilai penghormatan pada yang lebih tua, lebih senior ataupun pihak yang lebih berkuasa, ada dalam kegiatan Sembah, Puja atau Pranama. Penghormatan juga ditujukan sebagai bentuk bhakti.

Di masa Majapahit di mana agama sinkretik Syiwa Buddha menjadi dominan kala itu, Tribuana Tunggadewi sebagaimana disebutkan dalam Serat Negarakertagama, melaksanakan sadra untuk melakukan bhakti pada leluhur sekaligus sebagai langkah rekonsiliasi Dinasti Sanjaya dan Dinasti Sailendra.

Sadra yg bersifat elitis dan politis ini digelar dengan melakukan puja pada abu leluhur di Candi.

Merambah ke Masyarakat Bawah

Sebagaimana Sadra elit dan politis yang selanjutnya mewujud menjadi tradisi kelas sosial yang lebih rendah di kalangan rakyat, tradisi sungkeman pada akhirnya juga meluas dari keraton-keraton Islam ke lapis bawah masyarakat.

Dus, ditambah lagi pertambahan para kyai dan pesantren semakin memperkuat tradisi sungkeman di kalangan kyai dan santri.

Dengan demikian, sungkeman bisa dibilang merupakan salah satu bentuk mata rantai keberlanjutan tradisi nusantara dari masa ke masa.

Di era modern, tradisi sungkeman dilaksanakan tanpa melakukan jengkeng atau jalan merunduk yg mana masih lazim dilaksanakan di kalangan keluarga keraton dan pesantren dengan maksud yang berbeda.

Di keraton, sungkeman yang disertai jalan jengkeng lebih sebagai simbol kesetiaan, sementara di pesantren lebih melatih ketangkasan dan penghormatan pada ahli ilmu dan guru/kyai.

Itulah kenapa sungkeman disertai jalan jengkeng di keraton berlaku untuk semua orang dan segenap rakyat, sementara di pesantren jalan jengkeng hanya berlaku untuk santri dan enggak berlaku untuk wali santri dan tetamu lainnya.

Baca Juga: Filsafat Puasa yang Justru Sering Dilupakan

Pada akhirnya, baik sungkeman di keraton dan di pesantren, masing-masing menjadi subkultur unik yang pada saat bersamaan diterima masyarakat sekaligus berbeda dengan sungkeman di kalangan masyarakat luas.

Sungkeman di kalangan masyarakat luas lebih memilih bentuk praktis dari tradisi persahabatan dan kekerabatan, sementara sungkeman di keraton dan pesantren memilih bentuk protokoler dan bermuka resmi.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance