
Oleh Airlangga Pribadi, staf pengajar ilmu politik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga, Surabaya.
Tahun 1890, revolusi tembakau ketika rakyat Iran di bawah pimpinan Ayatollah Syirazi memboikot korporasi tembakau Inggris yang memonopoli hasil tembakau Iran.
Pada tahun 1905, revolusi konstitusional untuk membatasi monarki Iran karena otoritas tak terbatas monarki berhubungan dengan imperialisme.
Tahun 1951-1953, pertarungan keras antara Perdana Menteri Mossadeq versus Monarkhi Reza Pahlevi yang dibantu Amerika Serikat (AS) dan Inggris terkait nasionalisasi minyak di Iran.
Tahun 1964, Imam Khomeini melawan Syah Reza Pahlevi, diawali oleh kecaman atas utang luar negeri ke AS dan impunitas tentara AS dan Inggris di Iran.
Tahun 1979, kemenangan revolusi Iran melawan Monarkhi Pahlevi, kekuatan militer nomor 5 di dunia.
Tahun 1980-1988, Perang Iran-Irak. Saddam Husein didukung AS.
Tahun 1990-an, Iran melawan embargo ekonomi dari AS.
Tahun 2000-an, Iran semakin menguatkan aliansi dengan kekuatan anti-imperialisme terutama Hugo Chavez (Venezuela) dan Fidel Castro (Kuba).
Tahun 2010-an, Iran memberikan dukungan total terhadap Axis of Resistence: Hamas, Hizbullah, Houthi menghadapi kaum imperialis.
Tahun 2020, Jenderal Qasem Sulaimani yang menjadi arsitek Axis of Resistence syahid dalam serangan drone AS di Irak.
Tahun 2025, Perang 12 hari melawan Israel dan AS untuk membela rakyat Palestina.
Tahun 2026, Perang dengan Israel dan AS yang ditandai syahid dari Imam Khamenei.
Khamenei Muda Menjelaskan Bung Karno di Penjara

Kekaguman terhadap Sukarno dengan penyebutan namanya dengan hormat banyak saya temukan secara tidak langsung dalam berbagai literatur pemimpin dunia Nelson Mandela, Yasser Arafat, Nehru bahkan Che Guevara!
Iya Che Guevara yang wajahnya menjadi ikon para aktivis kiri menyebutkan Sukarno sebagai pemimpin dunia yang paling dia kagumi dalam buku biografi tentang dirinya!
Namun yang bagi saya luar biasa dan baru saya temukan ketika membaca Memoar Rahbar Imam Ali Khamenei berjudul Cell No.14, sesaat setelah dia dibunuh dengan rudal secara biadab.
Saya menemukan Khamenei menyebut nama Sukarno sebagai pemersatu kekuatan anti-imperialisme dunia! Dalam memoar itu disebutkan oleh Khamenei ketika dirinya dipenjara oleh regime Shah Reza Pahlevi bersama salah seorang aktivis komunis.
Aktivis komunis itu baru saja diseret ke penjara. Khamenei menyaksikan bahwa sepertinya kawan komunis tadi tidak diberi makan, lalu Khamenei memberikan makanannya dari jatah iftarnya, kali pertama kawan komunis itu diam.
Karena melihat kawan satu selnya itu sangat lemas, maka dia agak memaksakan makanan dia suapkan ke mulutnya. Setelah makan sesuap demi sesuap, kawannya itu mulai bertenaga. Khamenei menemani kawan itu terus.
Pada malam hari ketika Khamenei muda hendak sholat, tiba2 kawannya ini bicara: saya adalah seorang komunis dan tidak mempercayai agama apapun.
Oh, Khamenei kemudian menangkap pikiran kawannya, karena dia dengan identitasnya adalah aktivis Islamis (Khamenei memakai turban) sepertinya mungkin dia menganggap sikap halus Khamenei ini sebagai cara dia mengajak kawan satu selnya mendekat dan memeluk Islam.
Menyatukan Kekuatan Anti-imperialisme

Khamenei menunda sebentar sholatnya dan dia berkata: Bung pasti kamu tahu tentang seorang figur pejuang anti Imperialisme namanya Sukarno.
Sukarno dengan pikiran dan tindakannya hendak menyatukan kekuatan anti-imperialisme Asia-Afrika bukan berdasarkan persamaan ras, suku, etnik, agama atau ideologi yang sama.
Namun, karena kita masing-masing memiliki kesatuan kebutuhan dan kesatuan aspirasi untuk merdeka dari penindasan. Kita saat ini disatukan oleh nasib dan takdir ke depan kita sama-sama tidak tahu.
Setelah itu dia melihat kawannya lebih tenang dan Khamenei menyarankan kawannya komunis itu istirahat dan dia bersama kawan lainnya memulai untuk sholat malam. Sukarno telah mencairkan suasana di antara kawan-kawan dipenjara.
Saat ini ketika Khamenei wafat salah seorang anak dari Sukarno, Presiden Kelima Megawati Sukarnoputri mengucapkan belasungkawa dan memberi hormat setinggi-tingginya kepada syahidnya Rahbar Imam Ali Khamenei.
Sukarno, Ali Khamenei dan kawan aktivis kiri satu sel dipersatukan oleh kehendak untuk merdeka!
Baca Juga: Ilmu, Iman dan Perjuangan; Spiritualitas Hidup Mustafa Chamran
Kaum anti-imperialis di berbagai negara dengan kepala tegak meski berlinangan air mata menyampaikan selamat jalan kepada syahidnya Imam Khamenei.
Figur yang berani memegang amanah untuk membela rakyat Palestina ketika para pemimpin lain ketakutan meninggalkannya.
Perjalanan hidup Imam Khamenei adalah suatu litani yang indah. Dia menjadi saksi kebenaran ketika para pemimpin yang lain menghindarinya, bahkan bersama-sama seperti pengecut akan menyerangnya.
Kesyahidan beliau mengingatkan kita pada narasi abadi yang selalu terngiang di jiwa-jiwa kaum revolusioner. Narasi leluhur beliau saat Imam Husein syahid di Karbala!
Imam Khamenei syahid sekarang, syahid esok atau syahid lusa, Matahari akan tetap bersinar pada waktunya!
Seluruh kaum revolusioner anti-imperialisme akan berjalan terus menyaksikan tumbangnya kaum fasis Amerika dan Israel. Selamat jalan Imam Khamenei!
Labbaik Ya Imam Hussein, Labbaik Ya Imam Khamenei!***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.