Jakarta, The Stance – Nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) resmi diumumkan di Gedung Perusahaan Film Negara (PFN), Jakarta, Senin 12 Oktober 2026.

Tahun ini, FFI menerima 531 karya, terdiri dari 93 film cerita panjang, 177 film cerita pendek, satu film animasi panjang, 57 film animasi pendek, 20 film dokumenter panjang, 73 film dokumenter pendek, dan 110 karya kritik film.

Penjurian tahap nominasi film cerita panjang melibatkan 85 anggota Akademi Citra dan 38 perwakilan dari 13 asosiasi profesi perfilman. Namun, pengumuman nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2026 menuai protes di media sosial.

Bukan hanya sutradara Ryan Adriandhy yang gagal masuk nominasi Sutradara Terbaik lewat film Na Willa, absennya Irma Rihi juga menuai sorotan.

Sementara itu, lawan mainnya, Luisa Adreena, berhasil masuk nominasi Pemeran Utama Perempuan Terbaik berkat perannya sebagai Willa.

Beberapa netizen menilai pemeran Mak itu layak masuk dalam nominasi Piala Citra bersama Luisa Adreena. Salah satunya, aktor sekaligus sutradara Arie Kriting yang ikut mengkritisi.

Arie Kriting Protes Irma Rihi Tak Masuk Nominasi

Arie Kriting

Melalui unggahan di akun Threads dan Twitter atau X, Arie Kriting mengungkapkan ketidakpuasan terhadap keputusan FFI yang tidak mengizinkan Irma Rihi untuk menjadi kandidat nominasi Festival Film Indonesia 2026.

Menurutnya, sosok tersebut telah dipinggirkan dua kali sebelumnya oleh organisasi penghargaan tersebut. Ia menyebut, film Women From Rote Island layak mendapat empat nominasi, sementara Irma Rihi sendiri tidak terpilih dalam proses seleksi.

“Kenapa akhirnya saya ikut bersuara, karena Irma Rihi itu sudah dua kali dipinggirkan sama FFI.” ujarnya dalam unggahan terbaru di platform Threads.

Arie menyoroti penggambaran karakter Indonesia Timur yang menurutnya masih kerap terjebak dalam stereotip, terutama ketika berkaitan dengan kemiskinan dan penderitaan, yang dipakai untuk menilai kualitas akting artis yang merepresentasikannya.

“Apakah karakternya harus miskin, tersiksa, atau diperkosa dulu baru dianggap? Karena sepertinya hanya itu definisi yang hadir di kepala banyak orang kota ini ketika bicara tentang Orang Timur,” tulis Arie Kriting.

Arie kemudian menyinggung penampilan Irma Rihi dalam film Na Willa. Menurutnya, aktris tersebut mampu menghadirkan sosok ibu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan identitasnya sebagai orang Indonesia Timur.

Arie mengaku sangat menikmati akting Irma dalam film tersebut. Ia pun berharap sang aktris bisa masuk dalam pertimbangan dewan juri FFI 2026.

“Cita rasa Indonesia Timurnya tidak hilang tapi bukan jadi menu utama. Sehingga saya bisa menikmati sekali akting dia sebagai seorang Ibu," ungkap Arie.

Membawakan Aspek Lokalitas

Women from Rote Island

Tak hanya soal penokohan, Arie juga menyoroti perbedaan cara masyarakat mengapresiasi dialek daerah yang ditampilkan para aktor di layar lebar.

Ia menilai keberagaman logat semestinya mendapat penghargaan yang setara, termasuk ketika aktor memerankan karakter dari daerah yang berbeda dengan latar belakang mereka.

“Sebenarnya kami juga sangat sering merasa aneh dengar kalian logat Timur. Kadang syuting di Sumba, dialek di Ambon. Suting di Sulawesi, dialek di Papua. Tapi, harus tetap diapresiasi,” tulis Arie.

Meski menyampaikan kritik, Arie menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menggugat keputusan dewan juri dalam menentukan nominasi FFI 2026. Ia memahami bahwa pemilihan nominee merupakan kewenangan juri.

Namun, ia berharap pihak yang terlibat dalam penjurian dapat menggali lebih jauh perspektif mengenai karakter, khususnya tokoh-tokoh yang merepresentasikan daerah tertentu di Indonesia.

“Jadi dalam kesempatan ini saya sekadar menyarankan saja apa tidak sebaiknya teman-teman yang berkaitan dengan penjurian FFI ini menggali lagi perspektif mengenai karakter, terutama yang juga berkenaan dengan karakter daerah tertentu,” tulisnya.

Melalui kritik tersebut, Arie berharap perfilman Indonesia semakin terbuka terhadap keragaman karakter dan latar belakang masyarakat.

Prilly Latuconsina: Komite FFI Tak Menentukan Nominasi

Prilly Latuconsina

Menanggapi kritik tersebut, Wakil Ketua Komite (FFI) periode 2024-2026, Prilly Latuconsina menjelaskan, Komite FFI tidak menentukan sendiri nama-nama yang masuk nominasi.

Menurutnya, penentuan nominasi dilakukan oleh Akademi Citra dan asosiasi profesi perfilman melalui pemungutan suara.

Ia mengarahkan netizen untuk membaca buku panduan penjurian FFI 2026 yang tersedia di situs resmi penyelenggara dan menegaskan penentuan nominasi dilakukan oleh Akademi Citra dan asosiasi profesi melalui voting, bukan oleh komite FFI.

“Mungkin bisa baca buku panduan penjurian FFI 2026 yang ada di situs resmi kami. Yang menentukan siapa yang masuk nominasi adalah akademi citra dan asosiasi melalui voting,” tulis Prilly melalui akun Threads miliknya, Selasa 13 Oktober 2026.

Aktris pemain film Memburu Pemangsa tersebut kemudian menegaskan bahwa Komite FFI hanya menerima hasil penilaian dan tidak diperbolehkan untuk mengintervensi keputusan tersebut.

“Komite hanya menerima hasil karena kita tidak boleh mengganggu hasil penilaian. So nama-nama yang masuk bukan kita yang menentukan. Thank you,” lanjutnya.

Baca Juga: Dilarang karena Dianggap Propaganda, Masha and The Bear Malah Kian Populer

Sebagai informasi, berdasarkan pedoman pelaksanaan FFI 2026, penentuan nominasi kategori pemeran dalam film cerita panjang melibatkan Akademi Citra dan perwakilan asosiasi profesi perfilman.

Mereka menilai film yang lolos di tahapan seleksi awal sesuai kategori Piala Citra yang sudah ditetapkan Komite Bidang Penjurian FFI lalu memilih masing-masing lima nominasi.

Setiap penilai akan memberikan skor antara 50 hingga 100 dengan kelipatan lima. Seluruh skor kemudian dihitung oleh akuntan publik untuk menentukan lima kandidat dengan peringkat tertinggi di setiap kategorinya.

Lalu, nama-nama tersebut ditetapkan sebagai nominee Piala Citra. Penentuan pemenang dilakukan melalui tahap penjurian terpisah oleh Dewan Juri Akhir. Dewan juri ini bertugas memilih pemenang dari para kandidat yang telah masuk nominasi.

Para nomine FFI 2026 tersebut selanjutnya akan bersaing untuk membawa pulang Piala Citra pada malam puncak penganugerahan yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat 20 November 2026.

Sistem Seleksi Perlu Dievaluasi

Hikmat Darmawan

Pengamat Film Hikmat Darmawan menyoroti sistem seleksi yang perlu dievaluasi. Dia mengatakan sistem seleksi selama ini dilakukan oleh orang-orang industri, mulai dari asosiasi tertentu hingga kelompok rumah produksi film yang dominan.

Menurut Hikmat, seleksi berdasarkan voting memiliki kelemahan, misalnya tidak ada jaminan pemilih menonton semua film. "Akhirnya, memilih berdasarkan proxy (kedekatan) atau familiaritas", ujarnya.

Meski demikian, Hikmat menilai mungkin keadaan yang membuat kelompok tertentu menjadi lebih dominan. "Kita harus mawas pada sistemnya, bukan pada orang per orang atau kelompok per kelompok," ungkapnya.

Hikmat pun berpandangan, adanya kritik dan munculnya gurauan di medsos seperti usulan "ganti aja namanya menjadi Festival Film Internal" harus menjadi mekanisme koreksi atau perbaikan terhadap sistem penilaian FFI.

"Itu harus menjadi bagian dari mekanisme koreksi atau perbaikan terhadap sistem penilaian FFI," ungkapnya. (est)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance