
Oleh Muhamad Akbar, pemerhati transportasi.
Peresmian proyek kerap dirayakan dengan penuh simbol. Pita dipotong, pidato disampaikan, dan visi besar ditegaskan di hadapan publik.
Sebaliknya, keputusan untuk menghentikan proyek hampir selalu berlangsung dalam diam dibicarakan di ruang rapat tertutup, penuh kehati-hatian, bahkan keraguan. Karena itu, pembongkaran tiang monorel Jakarta menjadi pengecualian yang penting.
Keputusan ini diumumkan secara terbuka dan disaksikan bersama: oleh gubernur, mantan gubernur, jajaran penting pemerintah daerah, hingga aparat penegak hukum, serta diliput luas oleh media.
Yang dituntaskan bukan semata beton yang mangkrak, melainkan juga beban psikologis kota.
Momen ini mengajarkan satu hal yang jarang dibicarakan dalam kebijakan publik: keberanian terbesar dalam membangun tidak selalu terletak pada memulai yang baru, melainkan pada kesediaan mengakhiri sesuatu yang perannya telah selesai.
Pembongkaran tiang monorel itu seolah menjadi upacara perpisahan yang tertunda lama.
Struktur beton yang berdiri kaku di tengah lalu lintas Jakarta bukan hanya penanda proyek yang tak pernah rampung, tetapi juga simbol keputusan yang terus digantung.
Ketika akhirnya tiang-tiang itu dibongkar, yang runtuh bukan hanya bangunan fisik, melainkan juga keraguan untuk mengakhiri.
Di sanalah keberanian kebijakan menemukan bentuknya: menutup lembar lama yang telah kehilangan makna, agar kota dapat melangkah tanpa beban masa lalu.
Saat Busway Jadi Andalan, Monorel Tersisih

Selama hampir 2 dekade, tiang-tiang monorel berdiri sebagai penanda ambisi yang terhenti. Ia lahir dari kebutuhan nyata pada masanya, ketika Jakarta belum memiliki sistem angkutan massal berbasis rel, sementara tekanan lalu lintas terus meningkat.
Monorel diproyeksikan sebagai salah satu pilar awal transportasi perkotaan, dengan harapan pendanaannya ditopang investor swasta.
Namun, harapan itu menguap bersama ketiadaan kepastian pembiayaan. Pembangunan terhenti, dan proyek ini terjebak dalam kevakuman panjang.
Di tengah penantian panjang itu, arah pembangunan transportasi Jakarta bergerak ke jalur lain. Sistem busway tumbuh menjadi tulang punggung mobilitas harian.
Mass rapid transit (MRT) dan light rail transportation (LRT) kemudian dibangun dan dioperasikan, membentuk jaringan angkutan massal yang lebih terintegrasi dan berkapasitas besar.
Dalam konteks baru tersebut, monorel kehilangan posisi strategisnya bukan karena gagal sejak awal, melainkan karena kebutuhan kota telah berkembang melampaui desain awalnya.
Yang tertinggal adalah struktur yang tak lagi berfungsi, diam dan janggal di tengah dinamika Jakarta yang terus bergerak. Dalam konteks inilah pembongkaran monorel patut dibaca sebagai keputusan strategis, bukan sekadar pekerjaan lapangan.
Baca Juga: Bias Kebijakan Transportasi di Balik Larangan Angkot Kawasan Puncak
Pemerintah daerah menegaskan bahwa proyek yang tidak lagi selaras dengan kebutuhan sistem transportasi hari ini tidak perlu dipertahankan.
Orientasi kebijakan bergeser: dari membiarkan persoalan lama menggantung, menjadi menyelesaikannya secara tuntas dan bertanggung jawab.
Dari sudut pandang tata kelola, langkah ini menyasar sisa fisik keputusan masa lalu yang membebani ruang kota. Pemerintah memilih untuk tidak terus menoleransi struktur yang kehilangan fungsi hanya karena persoalan hukumnya kompleks.
Tujuannya jelas: mengembalikan fungsi ruang publik dan menutup ruang tafsir bahwa proyek tersebut suatu hari akan dihidupkan kembali.
Pembongkaran Monorel Tanpa Membuka Konflik Baru
Keputusan ini tidak hanya berbicara tentang Jakarta.
Jika ditarik lebih luas, situasi serupa dapat ditemukan di sejumlah daerah: infrastruktur yang berhenti di tengah jalan, lalu bertahan dalam status tak jelas karena persoalan kontrak, aset, atau kehati-hatian hukum.
Dalam kondisi seperti itu, ruang publik menanggung dampak sosial dan spasial yang kerap luput dari penilaian kebijakan mulai dari menurunnya kualitas lanskap kota hingga tumbuhnya sikap permisif terhadap proyek yang tak kunjung selesai.
Pembongkaran monorel menyampaikan pesan tegas: negara memerlukan mekanisme penutupan proyek yang jelas, transparan, dan akuntabel agar setiap kebijakan memiliki akhir yang pasti.
Kehati-hatian yang menyertai proses pembongkaran—dengan melibatkan aparat penegak hukum secara terbuka menunjukkan kesadaran akan risiko lanjutan proyek lama: sengketa aset, sisa kewajiban kontraktual, serta persoalan tata kelola administrasi.
Cara kerja semacam ini penting agar penertiban fisik tidak melahirkan konflik hukum baru. Prosesnya dirancang rapi, terdokumentasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih jauh, pembongkaran monorel memberi pelajaran tentang bagaimana sebuah kota memperlakukan kekeliruan masa lalunya.
Kota yang matang bukan kota yang tanpa salah, melainkan kota yang mampu belajar dari kekeliruannya dan membenahi diri secara institusional.
Yang menentukan bukan sekadar keberanian melahirkan gagasan, tetapi kesanggupan menata ulang arah ketika konteks berubah.
Menyudahi Keraguan, Menata Arah Kebijakan Baru

Pada akhirnya, pembongkaran tiang monorel Jakarta adalah momen ketika sebuah kota berhenti menunda keputusan. Struktur yang selama bertahun-tahun berdiri tanpa fungsi kini tidak lagi menjadi bagian dari keseharian warga.
Bukan karena proyek itu baru disadari keliru, melainkan karena konteks kebijakan dan kebutuhan kota telah berubah.
Pelajaran terpenting yang ditinggalkannya adalah perlunya kejelasan. Kejelasan status aset, kejelasan mekanisme pengambilan keputusan, dan kejelasan prosedur untuk mengakhiri suatu inisiatif ketika ia telah kehilangan relevansi.
Mengakhiri sebuah proyek bukanlah pengakuan kegagalan, melainkan bagian dari disiplin tata kelola yang sehat.
Hanya dengan keberanian untuk menyudahi yang usang, energi dan sumber daya publik dapat dialihkan secara penuh kepada prioritas yang lebih bermakna dan berdampak bagi kehidupan warga.
Jakarta, melalui langkah ini, menunjukkan bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari rencana baru. Terkadang, ia justru dimulai dari kesanggupan merapikan masa lalu.
Dan setelah tiang terakhir runtuh, kota ini mendapat kesempatan untuk menatap ke depan dengan pandangan yang sedikit lebih lapang.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.