
Oleh Bustami Syukri, seorang sinefil yang pernah menjadi jurnalis di beberapa media. Kini berkiprah sebagai investor saham yang juga pemerhati isu kebangsaan dan wawasan nusantara.
Tiap tahun pesta. Meriah sekali.
Ada Capital Market Summit & Expo (CMSE). Ada Bulan Inklusi Keuangan (BIK). Ada Financial Expo (FinExpo), Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT), sampai Public Expose Live.
Panggungnya megah. Booth-nya gemerlap. Lampu sorot di mana-mana. Targetnya satu: pamer angka.
"Jumlah investor kita naik lagi!" begitu kira-kira soraknya.
Regulator dan bursa gembira. Publik bertepuk tangan. Slogan "literasi keuangan" terus didengungkan sampai langit-langit gedung pameran.
Kontras dengan Literasi Pasar Modal yang Minim

Tapi mari buka data resmi Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Angka literasi pasar modal kita itu cuma 5,11% (berdasarkan survei 2022) atau 10,65% (di survei 2024). Bandingkan dengan literasi sektor perbankan yang sudah di atas 65%. Jauh sekali. Bagai bumi dan langit.
Artinya apa? Dari 100 orang Indonesia yang Anda temui di jalan, paling cuma 5 sampai 10 orang yang paham apa itu pasar modal. Sembilan puluh sisanya? Masih gelap gulita.
Dengan angka se-kerdil itu, harusnya ada rasa keprihatinan yang mendalam. Harus ada kerja keras yang substantif.
Masyarakat terus diimbau. "Jangan cuma beli saham gorengan!" kata mereka. "Harus paham fundamental! Harus tahu sejarah krisis! Pahami risiko!"
Tapi begitu ada orang di tingkat akar rumput yang mau belajar sungguh-sungguh, pintunya justru dikunci dari dalam.
Perpustakaan The Indonesia Capital Market Institute (TICMI) di gedung bursa—tempat yang puluhan tahun menyimpan rekam jejak, buku sejarah, dan riset penting pasar modal—ke mana?
Sudah bubar. Fungsinya berganti. Jadi Tempat Uji Kompetensi (TUK). Jadi ruang ujian sertifikasi. Buku-buku fisiknya? Entah ke mana, yang jelas tak bisa lagi dibaca publik. Mungkin dianggap makan tempat. Tak menghasilkan uang.
Pustaka Digital OJK Bernasib Serupa

Lalu bagaimana dengan e-library milik sang regulator utama, OJK?
Coba cari buku riset rutin atau dokumentasi kebijakan penting di sana. Hasilnya: nihil atau jalannya tertatih-tatih. Sangat beda jauh kalau kita menengok Bank Indonesia (BI) yang merawat perpustakaan dan risetnya dengan amat serius dan profesional.
Pasar modal kita memilih pragmatis: perpustakaan dianggap beban, sementara tempat ujian dianggap bisnis. Maka, terjadilah paradoks yang menggelikan.
Angka literasi masih tiarap di kisaran 5%-10%, tapi fasilitas pustakanya malah digilas. Di atas panggung festival, mereka berteriak-teriak soal pentingnya edukasi. Ribuan webinar digelar. Influencer disewa. Hadiah disebar.
Tapi itu literasi jenis apa?
Itu literasi dangkal. Cuma ngajari cara bikin akun aplikasi dan cara pencet tombol buy atau sell. Itu bukan mengajari orang berpikir, tapi mengajari orang bertransaksi. Tak heran kalau inklusinya naik, tapi literasinya tetap megap-megap.
Begitu ada investor yang mau belajar serius—mau meriset bagaimana bursa kita selamat dari krisis 1998, atau bagaimana perjalanan emiten puluhan tahun lalu—mereka bingung mau cari dokumen ke mana.
Self Regulatory Organization (SRO) dan OJK sanggup sewa convention hall bernilai miliaran rupiah tiap tahun. Tapi tak sanggup merawat ruangan buku dan sistem kearsipan digital mereka sendiri.
Ini seperti orang tua yang mengeluh anaknya tidak suka membaca, tapi perpustakaan di rumahnya sendiri dibongkar lalu disewakan jadi tempat ujian.
Baca Juga: Ketika Kebakaran "Hutan" Juga Melanda SCBD
Edukasi tidak bisa cuma diukur dari berapa juta rekening baru yang berhasil dibuat. Edukasi sejati itu dibangun di atas infrastruktur pengetahuan yang kokoh.
Kalau regulator dan bursa sendiri tidak menghargai perpustakaan dan arsip sejarahnya, jangan heran kalau angka literasi pasar modal kita bakal terus jalan di tempat.
Kembalikan fungsi perpustakaan pasar modal. Buka arsip-arsip digitalnya secara luas. Sebab, tanpa budaya riset dan pencerahan intelektual, slogan "masyarakat melek pasar modal" itu cuma panggung sandiwara.
Panggungnya selesai, lampunya mati, dan publik tetap gelap gulita.***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance