Jakarta, TheStance – Hujan dari langit Jakarta tak lagi sekedar membawa keberkahan, tapi ada "bonus" ancaman. Mikroplastik, serpihan plastik berukuran sangat kecil, turut menyapu bumi Jakarta akibat aktivitas manusia.
Temuan ini memperburuk masalah lingkungan di Jakarta, di mana pencemaran tidak hanya terjadi di daratan dan lautan, melainkan juga di langit atau atmosfer bumi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan temuan mikroplastik dalam sampel hujan di Jakarta dengan ukuran mulai dari 200 mikron, atau 2 mikrometer.
Karena ukuran diameter rambut manusia adalah 100-180 mikron, maka ukuran sampah plastik temuan BRIN itu setara dengan sehelai rambut manusia.
Pengereman Ban Picu Pencemaran Hujan

Profesor riset bidang oseanografi BRIN, Muhammad Reza Cordova, menyebut partikel tersebut berasal dari degradasi limbah plastik yang terangkat ke udara dan kembali ke permukaan bumi melalui air hujan yang tercemar.
“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” kata Reza pada Kamis (17/10/2025).
Menurut Reza, mikroplastik yang ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik. Jenis polimer yang teridentifikasi antara lain poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena yang berasal dari abrasi ban kendaraan.
Dari pengukuran yang dilakukan di kawasan pesisir Jakarta, peneliti menemukan rata-rata sekitar 15 partikel mikroplastik per meter per hari dalam air hujan.
Fenomena ini dikenal sebagai atmospheric microplastic deposition, yaitu proses ketika partikel plastik terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri.
Partikel tersebut kemudian terbawa angin dan akhirnya turun kembali bersama hujan. “Siklus plastik tidak berhenti di laut, tapi naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” tutur Reza.
Tak Hanya di Jakarta
Fenomena air hujan mengandung mikroplastik tak hanya di Jakarta. Tim Microplastic Hunter dari Ecoton Foundation juga menemukan mikroplastik di air hujan Kota Solo dan wilayah penyangga Kabupaten Boyolali.
Mereka mengambil sampel pada 23 November 2025 di sejumlah titik, antara lain Jalan Kemuning dan Jalan Slamet Riyadi di Solo, serta Jalan Tol Ngemplak di Boyolali.
Hasil awal menunjukkan bahwa konsentrasi mikroplastik tertinggi, 125 partikel/liter, ditemukan di Jalan Slamet RIyadi. Konsentrasi kedua tertinggi, 78 partikel/liter, diperoleh dari Jalan Tol Ngemplak di Boyolali.
“Temuan didominasi oleh mikroplastik jenis fiber (serat) dan sebagian kecil film atau filamen,” tutur Koordinator Tim Microplastic Hunter Ecotom, Alaika Rahmatullah pada Kamis (27/11/2025).
Peneliti Ecoton Sofi Azilan Aini menambahkan ada tiga faktor utama yang mendorong tingginya mikroplastik dalam air hujan di Solo. Ketiganya juga terjadi di kasus hujan mikroplastik di Jakarta.
Pertama, praktik pembakaran sampah terbuka yang melepaskan serat plastik ke atmosfer. Kedua, abrasi ban dan sistem pengereman kendaraan bermotor. Dan ketiga, rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah plastik.
Populasi lebih dari 10 juta warga dan volume aktivitas kendaraan yang mencapai 20 juta unit di Jakarta, berkontribusi besar terhadap pelepasan mikroplastik. Pengolahan sampah plastik yang belum sepenuhnya optimal turut memperparah persoalan.
“Sampah plastik sekali pakai masih sangat banyak. Sebagian dibakar secara terbuka atau terbawa air hujan ke sungai,” kata Reza.
Bagaimana Mengatasi Cemaran Mikroplastik?

Dosen Departemen Kesehatan lingkungan Universitas Gadjah Mada, Annisa Utami Rauf, menuturkan pengendalian paparan mikroplastik masih menghadapi tantangan besar, terutama rendahnya kesadaran dan kebiasaan konsumsi masyarakat.
“Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik, dan memilih wadah non-plastik,” tutur Annisa dikutip dalam penjelasannya.
Ia juga menekankan peran pelaku industri dalam pengolahan limbah. Produsen besar dinilai turut andil untuk mengembangkan sistem pengembalian kemasan dan daur ulang produk.
Tak hanya pelaku industri, pemerintah sebagai pemangku kebijakan juga memiliki peran strategis khususnya dalam menentukan kebijakan pengurangan sampah.
“Produsen yang menghasilkan plastik semestinya punya program taking back trash. Pemerintah dan industri harus bekerja sama agar sampah tidak berakhir di tempat pembuangan akhir,” kata Annisa.
Menurut Reza hujan mikroplastik hanya dapat diatasi dengan kolaborasi lintas sektor. Peneliti muda dari BRIN itu menyebut setidaknya ada tiga langkah penting yang dapat meminimalisir air hujan yang bercampur dengan mikroplastik.
Pertama, memperkuat riset, pemantauan kualitas udara dan air hujan secara rutin, terutama di kota besar. Kedua, memperbaiki pengelolaan limbah plastik di hulu dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan meningkatkan fasilitas daur ulang.
Ketiga, mendorong industri tekstil untuk menerapkan filtrasi pada mesin cuci guna menahan pelepasan serat sintetis ke lingkungan.
Baca: Mikroplastik Cemari Hujan Jakarta: Separah Apa & Bagaimana Dampaknya?
Temuan kandungan mikroplastik di air hujan menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah menembus batas-batas ekosistem. Plastik tak hanya mencemari laut dan sungai, tetapi juga bergerak lintas wilayah melalui lapisan atmosfer.
Hal ini dipastikan mempengaruhi kesehatan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, sumber utama mikroplastik berasal dari kemasan makanan dan minuman berbahan plastik, seperti botol air minum sekali pakai dan wadah makanan panas.
Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan, paparan mikroplastik dalam jangka panjang dan jumlah besar berpotensi memicu peradangan pada jaringan tubuh.
Selain itu, bahan kimia berbahaya seperti bisphenol A (BPA) dan phtalates yang menempel pada mikroplastik dapat mengganggu sistem hormon, reproduksi, dan perkembangan janin.
Menurut Reza, mikroplastik dalam air hujan merupakan refleksi dari relasi manusia dengan lingkungan.
“Langit Jakarta memantulkan perilaku manusia di bawahnya. Plastik yang dibuang sembarangan, asap yang dibiarkan mengepul, dan sampah yang dibakar tanpa pengolahan akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lebih halus, lebih senyap, tetapi berpotensi lebih berbahaya,” ujarnya. (mhf)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance