Jakarta, The Stance – Pemerintah tengah menguji coba teknik modifikasi atmosfer menggunakan es kering (dry ice) untuk mengurai kabut asap beracun yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan gambut yang meluas.
Langkah ini menjadi respons terhadap musim kebakaran paling parah dalam satu dekade terakhir, yang diperburuk oleh fenomena El Niño kuat dan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Sejak awal tahun, hampir 900 ribu hektare lahan terbakar di berbagai wilayah, terutama di Sumatra-Kalimantan, menghasilkan asap tebal yang mengganggu penerbangan, menutup sekolah, memicu masalah kesehatan dan ketegangan dengan negeri jiran.
Kabut asap pekat tercipta karena partikel polutan dari api, khususnya di lahan gambut yang sulit dipadamkan karena api dapat membara di bawah permukaan selama berhari-hari. Kondisi atmosfer tertentu memperburuk situasi.
Lapisan inversi suhu, di mana udara hangat berada di atas udara lebih dingin dekat permukaan, bertindak seperti tutup yang mencegah asap naik dan menyebar secara vertikal.
Asap kemudian terperangkap di ketinggian sekitar 6.000 hingga 7.000 kaki, menurunkan jarak pandang hingga ratusan meter, meningkatkan konsentrasi partikel PM2.5, dan membuat kualitas udara sangat tidak sehat bagi penghuni biosfer.
Telah Dikembangkan Sejak Tahun 1940

Teknik es kering diadaptasi dari metode modifikasi cuaca yang dikembangkan pada 1940-an. Es kering, atau karbon dioksida padat, berbentuk butiran berukuran sekitar 3 milimeter dengan suhu sekitar minus 75 derajat Celsius.
Pesawat, biasanya Cessna Caravan atau sejenisnya, menyebarkan butiran tersebut di atas lapisan inversi, di ketinggian 4.500 kaki. Saat es kering menyublim, ia menyerap panas secara cepat dari udara sekitarnya, menyebabkan pendinginan mendadak.
Pendinginan ini diharapkan melemahkan stabilitas lapisan inversi, membuka kembali aliran konveksi, dan memungkinkan asap yang terperangkap naik serta tersebar ke lapisan atmosfer lebih tinggi.
Uji coba awal dilakukan di Sumatra Selatan atas instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto.
Sumatra Selatan dipilih sebagai provinsi pertama karena termasuk enam wilayah prioritas penanganan kebakaran hutan bersama Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Operasi perdana berlangsung pada 15-16 Oktober 2026 di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Tiga sorti penerbangan total selama lebih dari 7 jam menyebarkan 2,4 ton es kering yang dipasok dari Lampung dan pemasok lokal.
Tiap sorti membawa 800 kilogram material, melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kementerian Kehutanan, dan lembaga terkait lainnya.
Penyemaian dilanjutkan hingga akhir Oktober, dengan total operasi yang direncanakan lebih panjang di wilayah tersebut.
Besaran Efektivitas Masih dalam Evaluasi

Namun keefektifan teknik ini masih dalam tahap evaluasi. Pejabat BMKG dan BNPB menekankan bahwa pendekatan ini bersifat mitigasi lokal dan sementara, bukan solusi permanen untuk memadamkan api.
Efeknya bergantung pada kondisi atmosfer setempat dan seberapa cepat asap baru datang dari titik api. Indikator keberhasilan yang dipantau meliputi peningkatan jarak pandang dan penurunan konsentrasi PM2.5.
Meski ada potensi di sekitar area penyemaian, metode ini tak menghilangkan sumber asap dari kebakaran gambut. Perlu evaluasi lebih lanjut untuk membedakan dampak es kering dari faktor cuaca alami.
Hasil awal menunjukkan perbaikan yang terukur. Setelah penyemaian, jarak pandang di sekitar bandara meningkat dari kisaran 650 hingga 1.000 meter menjadi 2.000 hingga 2.800 meter, bahkan sempat mencapai 3.000 meter.
Ada juga laporan penurunan konsentrasi PM2.5 dalam waktu singkat setelah operasi. Perbaikan jarak pandang memperlancar operasional penerbangan dan membuka peluang pesawat water bombing dan penyemaian awan tradisional kembali beroperasi.
Meski demikian, pejabat BNPB mengakui bahwa penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memastikan seberapa besar kontribusi es kering dibandingkan perubahan cuaca alami.
Operasi kemudian diperluas dalam pengawasan di Sumatera Selatan dan dipertimbangkan untuk wilayah lain seperti Kalimantan Tengah jika hasilnya dinilai memadai dan biaya terjangkau.
Baca Juga: Pembatasan Ekspor Gas Natuna: Antara Amankan Industri dan Retorika Geopolitik
Perbedaan mendasar dengan penyemaian awan tradisional terletak pada tujuan dan mekanisme.
Penyemaian awan konvensional di Indonesia biasanya menggunakan garam natrium klorida atau bahan lain yang disebar ke dalam awan potensial untuk mempercepat pembentukan tetesan air dan memicu hujan.
Tujuannya adalah menghasilkan curah hujan yang membantu membasahi lahan dan memadamkan api. Metode tersebut bergantung pada keberadaan awan. Sebaliknya, penyemaian es kering menargetkan stabilitas atmosfer tanpa perlu awan.
Ia dirancang khusus untuk memecah lapisan inversi yang menjebak asap di dekat permukaan, sehingga asap dapat naik dan tersebar, bukan untuk menghasilkan hujan.
Kedua pendekatan dapat dijalankan bersamaan: es kering untuk mengurangi konsentrasi kabut asap di area kritis seperti bandara dan kota, sementara penyemaian awan tradisional tetap dilanjutkan untuk mendorong hujan buatan.
Teknik ini mencerminkan upaya pemerintah untuk mencari alternatif di tengah kondisi kering yang membatasi efektivitas metode lama.
Meski hasil awal memberi harapan, penanganan kebakaran hutan tetap memerlukan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal, pengelolaan lahan gambut yang lebih baik, dan upaya jangka panjang menghadapi dampak perubahan iklim. (ipn)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance