Oleh Nining Wahyuningsih, aktivis angkatan 1990-an, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang lolos dari penculikan.

FKMY yang terpolarisasi dan terpecah pada 1991 tak menghentikan himne "Darah Juang" untuk menjadi semakin dikenal luas dan populer meski orang yang dikenal sebagai penciptanya mogok menyanyikan.

Dua organ pecahan FKMY yaitu SMY dan DMPY tetap menjadikan himne "Darah Juang" sebagai lagu pergerakan mereka. Himne ini perlahan tapi pasti semakin dikenal oleh lebih banyak aktivis pro demokrasi. Pada awalnya, di lokal Yogya saja.

Namun, seiring aktivitas SMY yang merintis jaringan antar kota dan nasional, lagu itu pun makin dikenal luas, terutama di tengah gerak para aktivisnya dalam kerja merintis, mempelopori, dan memotori terbentuknya organisasi tingkat nasional, dan seiring kerja-kerja berikutnya setelah organisasi ini terbentuk.

Mula-mula, melalui pertemuan tingkat nasional pertama di Cisarua, Bogor, terbentuk SMDI (Solidaritas mahasiswa untuk Demokrasi di Indonesia) pada tahun 1992.

Kemudian, melalui keputusan Konferensi Nasional tahun 1993 di Yogyakarta, nama SMDI diubah menjadi SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi).

Selanjutnya, melalui kongres di Cisarua, Bogor, SMID sebagai organisasi massa mahasiswa tingkat nasional yang terbuka resmi berdiri dan dideklarasikan tahun 1994.

Sebagai gambaran tentang proses makin meluasnya himne "Darah Juang" dikenal dan dinyanyikan para aktivis pro demokrasi di berbagai kota, berikut kami sajikan kesaksian-kesaksian para aktivis yang dipandang dapat mewakili.

Mulai Berkembang di Semarang

Fransisca R. Susanti

Fransisca Ria Susanti memberikan kesaksian bahwa sejak ia masuk SMS (Solidaritas Mahasiswa Semarang) tahun 1993, himne Darah Juang sudah dinyanyikan dalam aksi-aksi mimbar bebas mahasiswa di Undip.

“Aku ingat saat aku belum masuk SMS, masih hanya aktivis pers mahasiswa, aku diajak Awang datang ke sebuah aksi unjuk rasa di PT Damatex. Saat himne Darah Juang dinyanyikan petani ketika digebuk tentara, saat itulah titik balikku memutuskan untuk masuk gerakan. Aku ingat koordinator lapangan (korlap) aksi ke PT Damatex ini Hanif Dhakiri, tapi lupa siapa korlap aksi ke DPRD. Waktu itu Munif tertangkap. Aku dan para ibu petani yang berkain jarik mencoba menarik untuk melepaskan Munif, tapi malah terjengkang jatuh ke atas aspal. Kami pun berbaris pulang bergandeng tangan sambil menangis menyanyikan himne Darah Juang. Itu momen tak terlupakan. Dan demikianlah, saat itu, kuputuskan untuk masuk PRD”.

Aksi unjuk rasa petani Salatiga pada Agustus 1993 tersebut terjadi karena sengketa lahan dengan P.T. Damatex. Terjadi sebelum aksi Ngawi (November 1993), dan sebelum Kongres Persatuan Rakyat Demokratik (Mei 1994) di Jakarta.

Kesaksian Santi bahwa di tahun 1993 himne "Darah Juang" sudah dinyanyikan dalam aksi-aksi mahasiswa di Undip terkonfirmasi oleh keterangan Ari Trismana.

Mahasiswa FISIP Undip jurusan Administrasi Niaga angkatan 1991 ini mengenal lagu itu saat mulai dekat dengan kawan-kawan aktivis Semarang sekitar tahun 1992-1993.

Lagu itu selalu dinyanyikan sebagai lagu penutup saat demonstrasi atau mimbar bebas di kampus, biasa dinyanyikan sambil berdiri melingkar dan mengangkat kepalan tangan kiri.

Karena liriknya sederhana dan menggambarkan realitas yang ada, maka menurutnya, himne "Darah Juang" mudah dihapal tanpa perlu belajar secara khusus.

Berkumandang di Solo Tahun 1993

Kelik Ismunanto

Di Solo, beberapa narasumber memberikan kesaksian yang tak jauh beda dengan di Semarang, bahwa himne "Darah Juang" terdengar di sekitar tahun-tahun 1993-1994.

Kelik Ismunanto, misalnya, menyatakan mendengar lagu itu mulai dinyanyikan dalam aksi-aksi kampus sekitar tahun 1993 pasca ramai-ramai aksi protes terhadap UU Lalu Lintas tahun 1992 dan aksi menolak Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) yang marak tahun 1992-1993.

Sedangkan Lilik menceritakan momen yang begitu mengesankan baginya terkait himne "Darah Juang" yaitu Aksi Petani di Kantor Kabupaten Boyolali tanggal 9 Maret 1994.

Dia ingat persis aksi tersebut berakhir dibubarkan aparat. Tanggal yang tak mungkin terlupakan karena bertepatan dengan usianya genap 20 tahun. Saat itu ia pun berikrar di langit: “Inilah jalan yang kupilih…”

Kesaksian Prijo pun menyatakan bahwa himne "Darah Juang" mulai terdengar di Solo sekitar tahun 1994, dan mulai terdengar merambat ke kelompok-kelompok lain di Solo setelah Peristiwa 27 Juli 1996.

Sedangkan di Surabaya, menurut Heru Kris, himne "Darah Juang" dikenal sejak SMID ada di Surabaya. Heru menyatakan mulai mengenal lagu itu sekitar tahun 1994.

Kader mengenal lagu tersebut lewat aksi-aksi, lewat obrolan di sekretariat atau di kampus yang sering membahas lagu tersebut. Dulu, mereka belum mengenal siapa John Tobing.

Dinyanyikan Artis Pop

Mel Shandy

Lagu itu semakin dikenal luas dan dinyanyikan kelompok-kelompok pro demokrasi selain jaringan SMID-PRD di seputar Reformasi 1998. Sekarang, lagu tersebut banyak dinyanyikan, termasuk oleh Mel Shandy dan Power Metal.

Di Jakarta, sulit dipastikan kapan himne "Darah Juang" mulai dikenal. Namun, beberapa kesaksian memberikan petunjuk tentang persebaran lagu ini dalam peristiwa-peristiwa tertentu.

Menurut Agung Nugroho, saat Aksi Mogok Buruh di PT Great River Industries, Bogor, 18-19 Juni 1995, himne "Darah Juang" sudah dinyanyikan.

Lagu ini semakin ngetren saat PRD ikut Pemilu tahun 1999, bahkan diaransemen dalam genre music rock alternatif dan dinyanyikan oleh para aktivis berpenampilan punk.

Sedangkan menurut Lukas Dwi Hartanto, dalam aksi-aksi aliansi di mana SMID-PRD terlibat seperti aksi-aksi aliansi Oposisi Indonesia, himne "Darah Juang" dinyanyikan.

Saat berkali-kali Aksi Solidaritas terhadap Peristiwa Makassar Berdarah sebelum peristiwa 27 Juli 1996, himne "Darah Juang" juga dinyanyikan.

Dan saat acara Deklarasi PRD pada 22 Juli 1996, selain Mars PRD, himne "Darah Juang" pun dinyanyikan untuk mengiringi Widji Thukul membacakan puisi.

Dinyanyikan Saat Ditangkap Karena Lompat Pagar Kedubes

WIlson Obrigados

Wilson memberi kesaksian bahwa himne "Darah Juang" sudah dinyanyikan saat para aktivis SMID-PRD bersama para aktivis Timor Leste digerebeg kesatuan Brimob saat melakukan Aksi Lompat Pagar di Kedutaan Belanda tahun 1995.

Lagu itu juga dinyanyikan ketika para aktivis tersebut ditahan di Polres Jakarta Selatan karena aksi tersebut. Setau Wilson, lagu itu hanya dinyanyikan para aktivis SMID-PRD dan jaringannya di aksi-aksi mereka saat itu.

Sedangkan di Lampung, menurut kisah Bin Bin, SMID Cabang Lampung baru berdiri pada akhir Desember 1995 bersamaan dengan kedatangan Andi Arif di Lampung.

Maraknya Aksi-aksi Solidaritas atas Peristiwa Makassar Berdarah yang dilakukan bergilir di kampus-kampus mengerucut kepada terbentuknya SMID di sana. Bin Bin sendiri baru tahu soal SMID tak lama sebelum SMID berdiri.

Ia baru mengenal himne "Darah Juang" dari Sadli alias Herman Hendrawan pasca crakdown 27 Juli 1996 saat Herman datang ke Lampung, dan lagu itu memang baru dinyanyikan dalam aksi-aksi di Lampung pasca Peristiwa 27 Juli 1996 tersebut.

Pasca Peristiwa 27 Juli 1996, meski banyak bergerak di bawah tanah, namun jaringan antar kota tidak mati. Ketika dibutuhkan, sebuah aksi bersama antar kota tetap dapat dilakukan.

Lokasi aksi ditentukan sesuai kesepakatan bisa di Yogya, Solo, Semarang, atau lainnya. Dalam aksi bersama itu, himne "Darah Juang" dinyanyikan, menjadi salah satu item acara, maka lagu itu pun tetap dan makin dikenal para aktivis berbagai kota.

Baca Juga: Hymne Darah Juang (1): dari Fakultas Filsafat menuju Jatuhnya Soeharto

Dan kemudian, dalam aksi-aksi unjuk rasa menjelang dan pasca Reformasi 1998, Hymne Darah Juang semakin dikenal di mana-mana. Pada 1999, sudah terdengar himne "Darah Juang" versi “underground”, dinyanyikan para aktivis berpenampilan punk.

Di Bandung, salah satu personil grup Rida-Sita-Dewi pun pernah merekam suaranya menyanyikan lagu itu.

Demikian beberapa kisah tentang himne "Darah Juang" di beberapa kota yang semoga cukup representatif menggambarkan bagaimana proses penyebaran lagu tersebut.

Sedang di kota-kota lain, proses penyebaran dan kepopuleran himne "Darah Juang" berjalan seiring makin naiknya eskalasi gerakan pro demokrasi di seputar, pra dan pasca Reformasi 1998.

Menjelang Mei 1998, aksi-aksi unjuk rasa terus bergulir. Kiri atau kanan sudah tak jadi soal selagi melawan musuh yang sama: Kediktatoran Orde Baru. Gelombang perlawanan rakyat yang dipelopori para mahasiswa tak terbendung.

Himne "Darah Juang" pun berkumandang di mana-mana. Para birokrat dan aparatur negara berbalik sikap. Mereka tak lagi bersedia terus mendukung Soeharto, bahkan menyarankan untuk mengundurkan diri.

Pihak internasional pun menilai bahwa mempertahankan Soeharto tak lagi efektif dan berbiaya tinggi. Puncaknya, pada 21 Mei 1998, Soeharto pun meletakkan jabatan.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.