
Oleh Pius Lustrilanang: aktivis yang terjun ke dunia politik bersama Partai Gerindra, memperoleh gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Jenderal Soedirman dalam bidang Ilmu Manajemen Pemerintahan Daerah.
Gerakan mahasiswa di Indonesia tidak pernah benar-benar berhenti. Ia terus muncul dalam berbagai bentuk, merespons ketidakadilan, dan mengisi ruang-ruang kritik terhadap kekuasaan.
Namun, jika dibaca dengan jujur, sejarah juga menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar: gerakan itu lebih sering gagal daripada berhasil. Ia hidup sebagai suara moral, tetapi jarang menjadi penentu perubahan.
Selama ini, kegagalan itu sering dijelaskan dengan berbagai alasan—represi negara, soliditas elite, atau kompleksitas masalah. Semua itu benar, tetapi belum menyentuh inti persoalan.
Masalah yang lebih mendasar justru terletak pada cara kita memahami dan membangun gerakan itu sendiri.
Gerakan mahasiswa, secara definisi, adalah gerakan yang berbasis kampus, generasi, dan momentum. Ia memiliki energi besar, tetapi tidak memiliki kontinuitas struktural. Setiap empat atau lima tahun, aktornya berganti.
Pengetahuan tidak selalu diwariskan, jaringan terputus, dan perjuangan kembali dimulai dari awal. Dalam kerangka ini, apa yang sering disebut sebagai “kegagalan” sebenarnya adalah konsekuensi logis dari desain gerakan itu sendiri.
Berkaca dari Sejarah

Di sinilah letak persoalan yang sering dihindari: gerakan mahasiswa memang tak dirancang untuk menang dalam arti politik. Ia dirancang untuk bereaksi, bukan untuk bertahan. Kuat sebagai pemantik, lemah sebagai penggerak perubahan jangka panjang.
Jika kita menerima premis ini, maka arah pembahasan harus berubah secara mendasar. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana memperkuat gerakan mahasiswa, tetapi apakah kita bersedia melampauinya.
Sejarah memberikan petunjuk yang jelas. Keberhasilan 1998 tidak lahir dari gerakan mahasiswa dalam pengertian sempit.
Ia merupakan pertemuan antara krisis negara, perpecahan elite, dan keberadaan organisasi yang telah bekerja jauh sebelum momentum itu muncul.
Dalam konteks ini, kelompok seperti Partai Rakyat Demokratik dan Aliansi Demokrasi Rakyat tidak sekadar mengorganisir aksi, tetapi membangun kader, jaringan, dan arah politik yang berkelanjutan.
Mereka tak mencoba membuat gerakan mahasiswa bertahan. Mereka menciptakan sesuatu yang berbeda: organisasi yang melampaui mahasiswa. Kampus menjadi ruang rekrutmen, bukan batas gerakan. Mahasiswa menjadi fase awal, bukan identitas akhir.
Di titik inilah garis batas itu menjadi jelas. Selama kita masih berbicara tentang gerakan mahasiswa, kita harus menerima keterbatasannya: temporer, fragmentatif, dan berbasis momentum.
Namun, begitu kita berbicara tentang kaderisasi lintas generasi, organisasi jangka panjang, dan strategi kekuasaan, kita sudah keluar dari kategori itu.
Dengan kata lain, pada titik tertentu, kita tidak lagi membangun gerakan mahasiswa. Kita sedang membangun kekuatan politik.
Konsekuensi sebagai Gerakan Politik

Konsekuensi dari pergeseran ini sangat besar. Pertama, gerakan harus dibangun dengan orientasi jangka panjang. Ini berarti kerja-kerja yang tidak selalu terlihat: pendidikan kader, pembentukan jaringan, dan konsolidasi organisasi.
Kedua, gerakan harus memiliki arah yang jelas, bukan sekadar respons terhadap isu. Ia harus mampu memilih titik tekan strategis dan mempertahankannya hingga menghasilkan perubahan.
Ketiga, gerakan harus keluar dari eksklusivitas kampus dan membangun basis sosial yang lebih luas. Mahasiswa tidak pernah cukup untuk mengubah kekuasaan sendirian.
Tanpa keterhubungan dengan masyarakat, gerakan hanya akan menjadi suara yang lantang, tetapi terisolasi.
Keempat, gerakan harus memahami bahwa perubahan tidak hanya terjadi di jalan, tetapi juga dalam dinamika kekuasaan.
Ini menuntut kemampuan untuk membaca celah, memanfaatkan momentum, dan—jika perlu—memasuki arena politik tanpa kehilangan arah.
Baca Juga: Gerakan Mahasiswa (Bagian 4): Dari Moral, Struktur, hingga Kekuasaan
Semua ini membawa kita pada satu kesimpulan yang tidak selalu nyaman. Selama gerakan tetap dipahami dan dibangun sebagai gerakan mahasiswa, ia akan terus berulang dalam siklus yang sama.
Ia akan muncul, membesar, dan menghilang, meninggalkan jejak yang lebih bersifat simbolik daripada struktural.
Namun, jika gerakan itu berani melampaui dirinya—keluar dari batas generasi, keluar dari batas kampus, dan masuk ke wilayah organisasi politik—maka ia memiliki peluang untuk menjadi lebih dari sekadar suara.
Ia dapat menjadi kekuatan yang menentukan arah sejarah.
Pada akhirnya, pilihan itu tidak berada pada struktur semata, tetapi pada kesadaran. Apakah kita ingin terus menjadi bagian dari siklus yang berulang, atau berani membangun sesuatu yang hidup melampaui diri kita sendiri?
Karena sejarah tidak diubah oleh mereka yang paling keras bersuara, tetapi oleh mereka yang mampu membangun kekuatan yang bertahan setelah suara itu mereda. (Selesai)***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.