
Oleh Pius Lustrilanang: aktivis yang terjun ke dunia politik bersama Partai Gerindra, memperoleh gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Jenderal Soedirman dalam bidang Ilmu Manajemen Pemerintahan Daerah.
Jika sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia dibaca secara jujur, kita akan menemukan satu pola yang tidak bisa diabaikan. Gerakan itu tidak pernah benar-benar mati, tetapi juga tidak selalu berhasil.
Ia hadir dalam berbagai bentuk—dari masa pergerakan nasional, 1966, 1974, 1978, 1998, hingga gelombang 2019—namun hanya pada momen tertentu ia mampu mengubah arah kekuasaan secara mendasar.
Pertanyaannya kemudian menjadi sangat konkret: bagaimana membangun gerakan yang tidak hanya hidup, tetapi juga efektif?
Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa dilepaskan dari pelajaran sejarah, terutama dari keberhasilan 1998. Dalam banyak narasi populer, keberhasilan itu sering dipahami sebagai hasil dari keberanian mahasiswa turun ke jalan.
Namun, pembacaan seperti itu terlalu dangkal. 1998 berhasil bukan hanya karena keberanian, melainkan karena pertemuan antara krisis struktural dan kesiapan organisasi gerakan.
Di sinilah letak pelajaran pertama: gerakan yang efektif selalu lahir dari kemampuan membaca konteks, bukan sekadar dorongan moral.
Baca Momen dan Bertindak Cepat

Dalam kerangka States and Social Revolutions (1979), Theda Skocpol menekankan bahwa perubahan besar terjadi ketika negara berada dalam krisis yang mendalam.
Gerakan sosial yang berhasil adalah yang mampu membaca momen tersebut dan bertindak secara tepat. Tanpa krisis—baik ekonomi, politik, maupun legitimasi—gerakan sebesar apa pun cenderung hanya menghasilkan tekanan, bukan perubahan.
Artinya, langkah pertama dalam membangun gerakan efektif adalah kemampuan analitis: memahami kapan sistem sedang rapuh, dan kapan ia masih terlalu kuat untuk ditembus.
Namun, membaca konteks saja tidak cukup. Pelajaran kedua dari 1998 adalah pentingnya transformasi gerakan dari moral menjadi politik. Gerakan moral memiliki kekuatan dalam membangun legitimasi, tetapi terbatas dalam mengubah struktur.
Sebaliknya, gerakan politik memiliki kemampuan untuk mengorganisir, merumuskan agenda, dan mengintervensi kekuasaan.
Dalam konteks ini, kemunculan Partai Rakyat Demokratik dan Aliansi Demokrasi Rakyat menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa 1990-an tidak berhenti pada posisi moral.
Ia telah membangun kader, jaringan, dan kesadaran ideologis yang membuatnya mampu bertahan dan terus menekan hingga momen krisis tiba.
Di sinilah letak pelajaran paling mendasar: gerakan yang efektif membutuhkan struktur. Tanpa organisasi, gerakan hanya menjadi kerumunan. Tanpa kaderisasi, ia hanya menjadi momentum sesaat.
Perlu Struktur dan Kaderisasi

Dalam From Mobilization to Revolution (1978), Charles Tilly menjelaskan bahwa keberhasilan gerakan sosial sangat ditentukan oleh kapasitas organisasionalnya—kemampuan untuk mengumpulkan sumber daya, mengoordinasikan aksi, dan mempertahankan keberlanjutan.
Gerakan 1998 berhasil karena tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari kerja panjang yang membangun struktur tersebut.
Pelajaran ketiga adalah kesederhanaan tuntutan. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan yang berhasil selalu memiliki narasi yang jelas dan terfokus.
Tahun 1966 memiliki Tritura, sementara 1998 memiliki tuntutan yang sederhana namun kuat: turunkan Soeharto. Sebaliknya, banyak gerakan pasca-reformasi membawa terlalu banyak isu sekaligus.
Secara moral, tuntutan itu sah, tetapi secara strategis melemahkan fokus tekanan. Gerakan yang efektif tidak berusaha menyelesaikan semua masalah sekaligus, tetapi memilih satu titik tekan yang mampu mengguncang keseluruhan sistem.
Pelajaran keempat adalah membangun aliansi sosial. Mahasiswa tidak pernah cukup untuk mengubah kekuasaan sendirian.
Pada 1998, gerakan mahasiswa berkelindan dengan kemarahan publik yang lebih luas—kelas menengah, pekerja, hingga sebagian elite.
Aliansi Kekuatan Arus Bawah dan Kekuatan Elite

Dalam Social Origins of Dictatorship and Democracy (1966), Barrington Moore Jr. menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali terjadi ketika tekanan dari bawah bertemu dengan perpecahan di tingkat elite.
Tanpa aliansi ini, gerakan akan terisolasi, sekuat apa pun suaranya.
Pelajaran kelima—yang sering dihindari—adalah keharusan masuk ke arena kekuasaan. Gerakan yang hanya berada di luar sistem akan selalu berada dalam posisi menekan, tetapi tidak menentukan.
Gerakan 1998 menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aksi di jalan, tetapi juga oleh kemampuan mempengaruhi dinamika di dalam kekuasaan.
Ini bukan berarti gerakan harus kehilangan independensinya, tetapi ia harus memiliki strategi untuk berinteraksi dengan struktur kekuasaan, baik melalui kaderisasi politik maupun jaringan yang lebih luas.
Namun, semua pelajaran ini mengarah pada satu kesimpulan yang lebih besar. Gerakan yang efektif bukanlah gerakan yang paling keras atau paling besar, tetapi yang paling terstruktur, terarah, dan kontekstual.
Ia mampu menggabungkan legitimasi moral dengan kapasitas politik, mengubah energi menjadi organisasi, dan mengonversi tekanan menjadi perubahan.
Di sinilah tantangan terbesar gerakan mahasiswa hari ini. Energi tidak pernah menjadi masalah. Sejarah menunjukkan bahwa mahasiswa selalu mampu turun ke jalan dengan keberanian yang luar biasa.
Yang sering menjadi masalah adalah kemampuan untuk mempertahankan energi itu dalam bentuk yang lebih terorganisir dan berkelanjutan.
Baca Juga: Gerakan Mahasiswa (Bagian 3): Pelajaran Paling Penting dari 1998
Akhirnya, membangun gerakan yang efektif bukan soal mengulang 1998, tetapi memahami prinsip yang membuatnya berhasil.
Tanpa struktur, gerakan hanya menjadi suara. Tanpa strategi, ia hanya menjadi reaksi. Dan tanpa keberanian untuk masuk ke wilayah politik, ia akan selalu berada di pinggiran sejarah.
Gerakan mahasiswa akan terus hidup—itu hampir pasti.
Tetapi apakah ia akan menjadi penentu sejarah, atau sekadar pengamat yang lantang, sepenuhnya bergantung pada kemampuannya untuk belajar dari masa lalu dan melampaui dirinya sendiri. (Bersambung)***
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.