Oleh Agus M. Maksum, Chief Executive Officer (CEO) PT Geni Sejahtera Mandiri, yang juga aktif menjadi Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Bidang Teknologi Informasi.

Perang Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran beberapa bulan terakhir membuka satu fakta yang jarang dibicarakan secara terang: perang modern bukan lagi sekadar perang peluru kendali (rudal).

Ia adalah perang sinyal, perang satelit, dan perang data.

Negara yang mampu membaca, mengganggu, dan mengendalikan aliran informasi lawan sering kali memiliki keunggulan yang bahkan lebih menentukan dibanding jumlah pesawat tempur atau kapal induk.

Di balik kemampuan Iran mempertahankan diri dalam perang asimetris ini, ada satu nama yang menarik untuk ditelusuri: Mohammad Reza Aref.

Ia bukan jenderal. Ia bukan komandan pasukan. Ia adalah seorang insinyur jaringan komunikasi.

Dari Stanford ke Teheran: Insinyur yang Menggambar “Sistem Saraf” Negara

Mohammad Reza Aref

Aref lahir di Yazd tahun 1951 dan menempuh pendidikan teknik elektro di Stanford University, tempat ia menyelesaikan program doktoralnya di bidang information theory dan jaringan komunikasi.

Disertasinya pada tahun 1980 meneliti aliran informasi dalam jaringan relai—sebuah konsep yang kemudian dikenal di literatur akademik sebagai 'Aref Network.'

Secara sederhana, teori ini menjelaskan bagaimana data dapat bergerak melalui jaringan yang terdiri dari banyak node relay tanpa harus selalu bergantung pada satu pusat transmisi.

Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami: data dapat “melompat” dari satu titik ke titik lain, seperti pesan yang berpindah dari kurir ke kurir dalam sebuah jaringan.

Konsep ini sangat penting dalam: jaringan komunikasi militer, jaringan sensor, sistem satelit, dan arsitektur 5G/6G modern.

Bagi dunia akademik, ini adalah teori komunikasi jaringan. Bagi negara seperti Iran, ini adalah fondasi strategi bertahan dalam perang digital.

National Information Network: Benteng Digital Iran

NIN

Iran sejak lama membangun proyek besar yang dikenal sebagai: National Information Network (NIN).

Tujuannya sederhana tetapi strategis, yakni membangun internet domestik yang mampu tetap berfungsi meskipun koneksi global diputus.

Program ini dirancang untuk tiga tujuan utama:

  1. Menjaga layanan domestik tetap berjalan

  2. Mengembangkan ekonomi digital nasional

  3. Memperkuat kedaulatan digital negara

Penelitian tentang NIN menunjukkan bahwa sistem ini memungkinkan layanan domestik tetap aktif meskipun akses global dibatasi.

Artinya jika terjadi konflik besar, bank tetap beroperasi, rumah sakit tetap terkoneksi, administrasi negara tetap berjalan.

Dengan kata lain, negara tetap “hidup” secara digital meskipun dunia luar mencoba menekan tombol disconnect. Inilah yang sering disebut para analis sebagai digital resilience.

Dalam perang konvensional, negara mengukur kekuatan dari: jumlah tank, jumlah pesawat tempur, jumlah kapal perang.

Namun di abad ke-21, ada variabel baru yang menentukan: siapa yang menguasai arsitektur informasi. Sistem senjata modern bergantung pada jaringan navigasi satelit, komunikasi data, sensor radar, dan sistem komando digital.

Jika jaringan ini terganggu maka pesawat siluman bisa kehilangan navigasi, drone bisa kehilangan kontrol, kapal induk bisa kehilangan koordinasi.

Dengan kata lain, senjata paling mahal pun bisa menjadi buta.

Perang Sinyal: Mengunci Lawan Tanpa Menembak

perang digital

Dalam banyak laporan militer modern, strategi perang tidak selalu berupa serangan langsung. Sering kali langkah pertama adalah: jamming (mengganggu sinyal), spoofing (memalsukan sinyal), dan interception (menyadap komunikasi).

Jika lawan sudah kehilangan koordinasi jaringan, maka keunggulan teknologi bisa langsung berubah menjadi kerentanan. Iran sejak lama memahami prinsip ini.

Alih-alih menyaingi AS dalam jumlah kapal induk, Iran mengembangkan arsitektur perang asimetris berbasis jaringan. Ini meliputi: radar over-the-horizon, jaringan sensor pesisir, sistem drone swarm, komunikasi militer berbasis relay network.

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran juga memperkuat kolaborasi teknologi dengan negara-negara Eurasia. Salah satu yang sering dibahas dalam analisis geopolitik adalah pemanfaatan sistem navigasi satelit alternatif.

Misalnya BeiDou Navigation Satellite System. Sistem ini merupakan pesaing global positioning system (GPS) milik AS.

Bagi negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada GPS, BeiDou memberi alternatif penting karena: menyediakan navigasi presisi tinggi, mendukung komunikasi militer, dan dapat digunakan untuk panduan rudal dan drone.

Dalam konteks geopolitik, penggunaan sistem navigasi alternatif seperti ini berarti satu hal: negara tidak lagi sepenuhnya bergantung pada infrastruktur satelit milik AS.

Baca Juga: Indonesia Bela Palestina, Tapi Jalin Kerja Sama dengan Perusahaan Intelijen Israel

Konflik di Timur Tengah memberikan pelajaran yang sangat jelas bagi banyak negara. Perang modern semakin ditentukan oleh: jaringan data, kecerdasan buatan, satelit, dan komunikasi digital.

Bahkan strategi militer kini mulai bergeser dari platform-centric warfare ke network-centric warfare.

Artinya, kemenangan tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan satu senjata, tetapi oleh seberapa kuat jaringan informasi yang menghubungkan seluruh sistem.

Dari kisah Mohammad Reza Aref dan proyek digital Iran, ada satu pelajaran geopolitik yang sangat penting: negara yang tidak menguasai arsitektur digitalnya sendiri sebenarnya sedang menumpang pada sistem milik orang lain.

Dan dalam konflik global, sistem yang ditumpangi itu bisa saja dimatikan kapan saja. Karena itu banyak negara kini berlomba membangun satelit navigasi sendiri, pusat data nasional, jaringan komunikasi independen, dan sistem cloud domestik.

Di abad ke-21, kedaulatan digital sama pentingnya dengan kedaulatan wilayah. Dan di Teheran, seorang insinyur bernama Mohammad Reza Aref tampaknya memahami hal itu sejak lama.**

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.