Oleh Denny JA, pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang kini aktif menulis esai soal filsafat hidup, sastra, agama dan spiritualitas, politik, sejarah dan catatan perjalanannya di Denny JA’s World.

Di bulan Ramadan, malam di Tel Aviv sunyi, lalu sirene meraung. Di Teheran, langit menyala oleh cahaya ledakan. Dikabarkan beberapa pejabat kunci Iran tewas terbunuh.

Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran dan keturunan dinasti Pahlavi, tampil berpidato. Ia menyerukan agar rakyat Iran bangkit melawan rezim Ayatollah Ali Khamenei dan memanfaatkan momen konflik untuk menuntut perubahan politik.

Ia mengatakan Republik Islam Iran akan runtuh. Ia mendorong militer dan rakyat menolak rezim yang ada dan membangun Iran yang lebih bebas dan demokratis.

Namun di balik seruan itu, nama Reza Pahlavi sendiri memecah opini. Bagi sebagian ia simbol harapan transisi. Bagi yang lain ia bayang-bayang lama monarki yang belum sepenuhnya dipertanggungjawabkan.

Di Doha, para diplomat terjaga hingga dini hari. Di Washington, layar peta digital memperlihatkan titik-titik merah yang bergerak. Di Moskow dan Beijing, para analis membaca situasi dengan kalkulasi yang dingin dan sabar.

Di balik setiap kilatan rudal, ada ibu yang memeluk anaknya. Di balik setiap keputusan militer, ada jenderal yang tahu satu salah hitung bisa mengubah abad.

Perang tidak pernah lahir tiba-tiba. Ia adalah akumulasi ketegangan yang lama disimpan, dendam yang dipelihara, dan ketakutan yang diwariskan lintas generasi.

Apa yang Terjadi?

Perang Israel-Iran

Iran dan Israel telah lama saling menatap dalam diam yang tegang. Amerika Serikat berdiri di belakang sekutu utamanya. Rusia dan China mengamati dengan kepentingan masing-masing. Dunia menahan napas.

Namun konflik ini kini memasuki fase yang lebih berbahaya dari sekadar perang biasa. Ini bukan hanya soal wilayah atau pengaruh. Ini tentang ketahanan sistem, legitimasi kekuasaan, dan keseimbangan dunia.

Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan besar-besaran ke Iran. Target utama bukan hanya fasilitas militer, tetapi juga kediaman Ayatollah Ali Khamenei.

Donald Trump mengeklaim Khamenei telah terbunuh. Ini adalah strategi pemenggalan kepemimpinan, sebuah keyakinan lama dalam sejarah perang bahwa dengan memutus kepala, tubuh akan runtuh.

Iran segera membalas. Misil balistik dan drone diluncurkan ke Israel serta pangkalan Amerika di Yordania, Bahrain, Qatar, dan negara-negara Teluk. Selat Hormuz terancam ditutup.

Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur itu. Jika ia tersumbat, dunia bukan hanya menghadapi perang regional, tetapi juga krisis energi global yang mengguncang harga pangan, transportasi, dan stabilitas sosial di berbagai benua.

Secara militer, pertarungan ini timpang. Amerika dan Israel memiliki keunggulan udara, kapal induk, sistem pertahanan berlapis. Iran memiliki sekitar dua ribu misil balistik, tetapi kemampuan membalas dalam skala besar terbatas waktu.

Di atas kertas, kekuatan tidak seimbang. Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa perang tidak selalu dimenangkan oleh yang paling kuat, melainkan oleh yang paling tahan.

Posisi Iran: Krisis Eksistensial

Ali Khamenei

Iran kini berada di titik genting. Ini bukan lagi soal kebijakan luar negeri. Ini soal kelangsungan rezim. Pilihan Teheran sangat terbatas. Membalas untuk menjaga harga diri. Bertahan dari serangan udara yang berulang.

Mengendalikan jalanan agar tidak berubah menjadi gelombang pemberontakan. Mencegah retaknya struktur kekuasaan. Tidak ada rencana invasi darat dari Amerika. Monopoli kekerasan domestik masih di tangan rezim dan Garda Revolusi.

Perubahan hanya mungkin jika terjadi pemberontakan massal disertai pembelotan militer. Tanpa itu, bahkan kematian pemimpin tertinggi tidak otomatis berarti runtuhnya negara.

Khamenei sebelumnya telah menunjuk tiga calon penerus saat perang 12 hari tahun lalu. Laporan terbaru menyebut ia menyiapkan empat lapis suksesi untuk posisi politik dan militer utama demi memastikan kelangsungan rezim.

Suksesi dapat berlangsung cepat melalui Majelis Ahli dengan pengaruh kuat Garda Revolusi. Nama bisa berubah. Struktur bisa tetap.

Sejarah menunjukkan bahwa dalam banyak revolusi, institusi lebih tahan lama daripada individu. Namun legitimasi moral tidak dapat diwariskan semudah jabatan. Ia harus dibangun kembali di tengah krisis.

Penyebab Perang dan Selanjutnya Bagaimana?

Iran

Pertama, ancaman nuklir dan ketakutan eksistensial. Bagi Israel, isu nuklir Iran adalah soal keberadaan. Jika Iran menjadi nuclear threshold state, pilihan Israel menyempit drastis.

Menerima keseimbangan ketakutan baru atau menyerang sebelum ambang itu tercapai. Perang sering lahir bukan dari kebencian, melainkan dari ketakutan kehilangan masa depan.

Kedua, perang bayangan yang lama terpendam. Iran dan Israel telah lama berperang melalui perantara. Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman menjadi papan catur. Kini papan itu berisiko terbakar serentak.

Ketiga, momentum politik dan kalkulasi multipolar. Konflik ini juga dibaca oleh Rusia dan China.

AS menghadapi ujian kredibilitas. Timur Tengah dapat menjadi titik penentuan apakah dunia bergerak menuju keseimbangan multipolar yang stabil atau memasuki era fragmentasi yang lebih tajam.

Selanjutnya ada tiga skenario. Pertama, perang terbatas dan terkendali. Dalam skenario ini, serangan dan balasan berlangsung intens tetapi terukur. Target militer dihantam, fasilitas strategis dilemahkan, tetapi garis merah tidak dilampaui.

AS dan Israel berusaha menghancurkan kapasitas misil dan memperlambat rekonstruksi nuklir Iran tanpa mendorong konflik menjadi perang total.

Iran membalas secukupnya untuk mempertahankan citra daya tangkal, namun menghindari langkah yang dapat memicu kehancuran menyeluruh.

Diplomasi berjalan di belakang layar, dimediasi oleh negara-negara Teluk dan kekuatan Eropa. Pasar energi terguncang tetapi tidak runtuh. Rezim bertahan, meski dalam kondisi lebih lemah dan lebih terisolasi.

Dunia menghela napas, tetapi ketidakpercayaan semakin mengeras dan perdamaian menjadi rapuh seperti kaca tipis.

Baca Juga: Di Ambang Eskalasi: Mengukur Arah Konflik Israel–Iran

Skenario kedua, perang regional yang melebar. Dalam kemungkinan ini, konflik meluas melampaui Iran dan Israel. Hizbullah di Lebanon terlibat penuh. Milisi pro-Iran di Irak dan Suriah bergerak.

Selat Hormuz terganggu atau bahkan ditutup sementara. Harga minyak melonjak tajam, memicu inflasi global dan tekanan sosial di berbagai negara berkembang.

AS memperluas operasi militer untuk melindungi jalur laut dan sekutunya. Serangan siber meningkat, infrastruktur energi dan komunikasi menjadi target. Negara-negara Teluk terpaksa memilih sikap lebih jelas.

Dunia menyaksikan Timur Tengah kembali menjadi pusat gejolak global. Dalam situasi seperti ini, perang tidak lagi sekadar konflik regional, tetapi krisis sistemik yang mengguncang arsitektur ekonomi dan keamanan internasional.

Skenario ketiga, guncangan politik dan perubahan rezim. Jika tekanan militer dan ekonomi terlalu berat, retakan internal dapat muncul. Protes yang sebelumnya terpendam bisa bangkit kembali, terutama jika elite politik terpecah.

Namun perubahan rezim bukanlah jaminan stabilitas. Sejarah Irak dan Libya mengingatkan bahwa kekosongan kekuasaan dapat melahirkan fragmentasi, rivalitas faksi, dan konflik berkepanjangan.

Garda Revolusi mungkin memperketat kontrol, atau justru menjadi aktor utama dalam konfigurasi kekuasaan baru. Transisi yang tergesa dapat memicu kekacauan yang lebih dalam daripada perang itu sendiri.

Dalam skenario ini, pertanyaan bukan hanya siapa yang berkuasa tapi apakah negara dapat tetap utuh sebagai entitas politik yang stabil.

Nama Reza Pahlavi kembali beredar, bukan sebagai nostalgia monarki, melainkan sebagai simbol transisi yang diperebutkan: antara harapan demokrasi, trauma masa lalu, dan kecemasan akan kekosongan.

Indonesia di Persimpangan

Indonesia bukan pemain utama, tetapi dampaknya akan terasa hingga dapur rakyat. Lonjakan harga minyak berarti tekanan pada APBN dan subsidi energi. Inflasi dapat menggerus daya beli.

Indonesia perlu memperkuat diplomasi, menjaga politik bebas aktif, memperbesar cadangan energi, dan mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih mandiri.

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menyerukan kewarasan ketika dunia terjebak dalam logika pembalasan.

Pada akhirnya, perang selalu meninggalkan reruntuhan. Yang paling mahal bukanlah rudal yang diluncurkan, melainkan masa depan yang tertunda dan generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan.

Jika Khamenei telah tiada, dunia sedang menyaksikan bukan hanya pergantian seorang pemimpin, tetapi ujian terhadap daya tahan sistem dan keseimbangan global.

Seperti diingatkan Trita Parsi dan Vali Nasr, di balik jargon ideologis, konflik Iran–Israel digerakkan kalkulasi realpolitik dan persaingan Syiah–Sunni memperebutkan kepemimpinan regional, bukan sekadar permusuhan teologis belaka.

Api dapat dipadamkan. Tetapi luka sejarah sering bertahan jauh lebih lama daripada asap yang mengepul. Pertanyaannya kini bukan siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling bijak menghentikan spiral ketakutan sebelum ia menelan semuanya.

Di tengah puing geopolitik, kemenangan sejati bukan terletak pada keruntuhan lawan, melainkan bersandar pada keberanian para pemimpin dunia untuk menukar ego kekuasaan dengan diplomasi demi menyelamatkan kemanusiaan dari kehampaan, menuju dunia yang nyaman kita tinggali bersama.

Sejarah akan mencatat jawabannya.***

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram TheStance.