Jakarta, The Stance – Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto, sebuah survei nasional mengungkap fakta yang cukup mengejutkan. Keyakinan masyarakat bahwa 'Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar' turun drastis.
Angka keyakinan publik tersebut anjlok tadi posisi 83% pada Oktober 2024 (saat Prabowo dilantik menjadi presiden), menjadi hanya 47,7% pada Oktober 2026.
Angka ini berasal dari survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 1–10 Oktober 2026 terhadap 1.213 responden di seluruh Indonesia. Margin of error-nya 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.
Menurut hasil survei tersebut, 47,7% responden menilai Indonesia masih menuju arah yang benar.
Sementara itu, 34,3% menilai negara bergerak ke arah yang salah (naik tajam dari hanya 13% pada 2 tahun sebelumnya). Adapun 18% menjawab tidak tahu atau ragu-ragu (naik dari 5%).
Angka 47,7% ini merupakan level terendah sejak SMRC mulai mengukur persepsi arah negara pada Oktober 2010. Saat itu, pada masa pemerintahan kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, angkanya masih 70%.
Penurunan sebesar 35 poin persentase dalam dua tahun pemerintahan Prabowo disebut sebagai yang terbesar dalam 25 tahun terakhir.
Peringatan Dini Agar Direspons dengan Perbaikan

Pendiri SMRC Saiful Mujani menyebut temuan ini sebagai “peringatan dini yang kuat” bagi pemerintahan.
Dia mengingatkan, jika pesimisme publik terus tumbuh dan tidak direspons dengan perbaikan nyata, ia bisa berkembang menjadi ancaman yang lebih serius terhadap stabilitas dan persatuan nasional.
Menurut analisis SMRC, penurunan tajam ini erat kaitannya dengan merosotnya kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo. Masyarakat menilai kondisi sosial-ekonomi, politik, dan penegakan hukum mengalami penurunan.
Beberapa isu yang kerap muncul dalam persepsi publik antara lain harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, dinamika politik, serta kebakaran hutan dan lahan yang masih menjadi masalah regional.
Harapan yang menjulang di awal pemerintahan belum sepenuhnya terpenuhi di mata sebagian masyarakat.
Perlu dicatat bahwa survei lain menunjukkan gambaran yang lebih beragam. Beberapa lembaga mencatat tingkat kepuasan atau kepercayaan terhadap Presiden Prabowo masih relatif tinggi (di kisaran 60–80%).
Namun, indikator khusus “apakah Indonesia menuju arah yang benar” memang menangkap optimisme jangka panjang masyarakat terhadap perjalanan bangsa secara keseluruhan, bukan sekadar popularitas individu pemimpin.
Survei SMRC menekankan bahwa angka di bawah 50% merupakan ambang psikologis penting. Ketika mayoritas publik mulai meragukan arah negara, pemerintah menghadapi tantangan untuk memulihkan kepercayaan.
Baca Juga: Vietnam Melesat, Indonesia Jalan di Tempat
Saiful Mujani menyarankan agar pemerintah fokus memperbaiki kondisi nyata agar opini publik bisa kembali optimistis. Targetnya, dalam beberapa bulan ke depan, angka keyakinan “menuju arah yang benar” bisa naik di atas 50%.
Di sisi lain, pemerintahan Prabowo-Gibran masih memiliki program-program unggulan yang mendapat dukungan, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, survei ini menjadi sinyal bahwa hasil konkret di lapangan—terutama yang dirasakan langsung masyarakat—sangat menentukan persepsi jangka panjang.
Turunnya keyakinan publik bahwa Indonesia menuju arah yang benar mencerminkan harapan, kekhawatiran, dan evaluasi masyarakat terhadap dua tahun perjalanan pemerintahan baru.
Bagi pemerintah, ini menjadi pengingat bahwa popularitas di awal masa jabatan perlu diikuti dengan kinerja yang konsisten dan terasa manfaatnya bagi warga.
Bagi publik, hasil survei ini membuka ruang diskusi tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan agar optimisme bangsa bisa kembali tumbuh. (ipn)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance