Jakarta, The Stance – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berbalik naik setelah ikut terkoreksi pada Jumat (16/10/2026) akibat kemungkinan perubahan status bursa nasional menjadi Standalone Market di MSCI. Ada aksi korporasi di baliknya.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten berkode BBCA tersebut ditutup pada level Rp5.275 per unit saham pada penutupan perdagangan Rabu kemarin, atau terhitung menguat nyaris 2% dari penutupan Jumat lalu di Rp5.175/unit.

Penguatan ini terjadi setelah bank swasta terbesar nasional tersebut, pada Rabu kemarin, mengumumkan pelaksanaan program pembelian kembali (buyback) saham perseroan di pasar yang akan dijalankan pada 19-23 Oktober 2026.

Aksi korporasi tersebut telah disetujui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan pada tanggal 12 Maret 2026.

"Durasi buyback tersebut telah diperpanjang dari sebelumnya diumumkan hanya dilaksanakan sampai tanggal 21 Oktober 2026," demikian pengumuman manajemen dalam keterangan resminya yang juga diunggah di laman keterbukaan informasi BEI.

Aksi korporasi ini, lanjut BCA, merupakan lanjutan dari realisasi program buyback saham yang sebelumnya dilaksanakan pada April dan Juni 2026 lalu.

Dalam menjalankan program tersebut, perseroan memastikan akan senantiasa mematuhi prinsip Tata Prima Korporasi (Good Corporate Governance/GCG) dan mematuhi segala peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Asing Buru Lagi Saham BBCA

BCA

Dalam catatan Tim Riset The Stance, pasar merespons positif program pembelian kembali saham tersebut. Pelaku pasar menilai koreksi pada Senin, yang sempat melemparkan saham BBCA ke level psikologis 4.000, terlalu berlebihan.

Hal ini menjelaskan kenapa saham BBCA membal dari level penutupan Senin pada Rp4.820/saham menjadi Rp5.200/saham pada penutupan Selasa, dan kemudian menguat lagi ke level Rp5.275/saham pada penutupan Rabu kemarin.

Yang memburu saham perseroan bukan hanya investor domestik, melainkan juga investor asing. Mereka memborong lagi saham BBCA tepat ketika bank yang dikendalikan Grup Djarum tersebut mengumumkan program buyback kemarin.

Data perdagangan Rabu menunjukkan adanya net buy atau pembelian bersih (selisih total nilai beli melampaui total nilai jual) saham BBCA senilai Rp448,1 miliar, yang memposisikannya sebagai saham dengan nilai net buy asing tertinggi kemarin.

Posisi asing ini berbalik dari Senin dan Selasa yang masih membukukan net sell (penjualan bersih) masing-masing sebesar Rp986,9 miliar dan Rp966,1 miliar.

Namun pola pembelian asing terhadap saham BBCA dalam sepekan terakhir menunjukkan bahwa mereka masih percaya pada fundamental perseroan.

Buktinya, ketika bursa efek berdarah-darah pada Jumat lalu, asing justru mencetak net buy di saham BBCA senilai Rp286,1 miliar, menjadi saham dengan nilai net buy asing terbesar pada hari itu yang juga menjadi pengerem utama koreksi IHSG.

Sinyal Optimisme yang Ditangkap Pasar

menara BCA

Kembali masuknya investor asing ke saham BCA sejalan dengan keyakinan manajemen yang berupaya mengirimkan sinyal kepada pelaku pasar melalui program buyback, bahwa mereka percaya akan prospek positif sahamnya.

"Buyback juga menjadi wujud keyakinan BCA atas fundamental bisnis Perseroan, sekaligus untuk mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia," tutur manajemen BCA.

Berdasarkan keputusan RUPST 2025, periode pelaksanaan buyback adalah 12 bulan, yaitu sejak tanggal 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027, kecuali diakhiri lebih cepat oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan.

Pelaksanaan buyback itu tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha perseroan. "Manajemen BCA akan senantiasa memperhatikan dinamika pasar dalam pelaksanaan buyback," demikian disebut dalam siaran pers.

Baca Juga: Sepenting Apa MSCI Indonesia dan Mengapa Bursa Saham Berbalik Menguat?

BCA merupakan salah satu bank terkemuka di Indonesia yang fokus pada bisnis perbankan transaksi serta menyediakan fasilitas kredit dan solusi keuangan bagi segmen korporasi, komersial, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), dan konsumer.

Per Juni 2026, BCA mengelola 42 juta rekening nasabah, memproses lebih dari 124 juta transaksi per hari melalui 1.272 kantor cabang, 20.374 anjungan tunai mandiri (ATM), layanan internet & mobile banking dan contact center selama 24 jam, Halo BCA.

Operasi mereka didukung sejumlah entitas anak yang berfokus pada pembiayaan kendaraan, perbankan syariah, sekuritas, asuransi umum dan jiwa, perbankan digital, dan pemodal ventura.

"BCA berkomitmen untuk membangun relasi jangka panjang dengan nasabah, mengutamakan kepentingan bersama, dan menciptakan dampak positif pada masyarakat luas," tegas perseroan.

Dengan lebih dari 27.600 karyawan, visi BCA adalah untuk menjadi bank pilihan utama andalan masyarakat yang berperan sebagai pilar penting perekonomian Indonesia. (ags)

Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance