Jakarta, The Stance – Timnas Indonesia baru saja menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Gelar itu tentu saja menjadi pelepas dahaga setelah 35 tahun timnas senior Indonesia nirgelar di berbagai ajang sepakbola yang diikuti.
Namun, keberhasilan Timnas Indonesia di laga Fédération Internationale de Football Association (FIFA) ASEAN Cup 2026 ini mendapat sorotan dari media Inggris, The Guardian.
Dalam laporan yang ditulis John Duerden, kesuksesan skuad Garuda bukan hanya menjadi sejarah baru bagi sepak bola Indonesia. Gelar tersebut juga disebut dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi Presiden FIFA Gianni Infantino.
Pasalnya, Infantino sedang berkampanye untuk mendapatkan dukungan di Asia menjelang pemilihan presiden FIFA.
"Jakarta sudah berada di pihaknya dan Indonesia memberikan Infantino sebuah bantuan besar dengan memenangkan turnamen yang sangat merupakan gagasannya," tulis The Guardian.
Sudah Ada Piala AFF, FIFA ASEAN Cup Dipertanyakan

Infantino memang disebut sebagai sosok di balik lahirnya FIFA ASEAN Cup. Turnamen tersebut diperkenalkan dalam pertemuan regional ASEAN di Kuala Lumpur pada Oktober 2025 lalu.
Namun sejak awal kemunculannya, FIFA ASEAN Cup tidak lepas dari kritikan terkait urgensi penyelenggaraannya. Pasalnya, Asia Tenggara sudah memiliki turnamen regional yang digelar tiap 2 tahun sejak 1996, yakni ASEAN Championship (Piala AFF).
Piala AFF telah diadakan setiap dua tahun sekali sejak 1996 dan diikuti seluruh tim di kawasan Asia Tenggara. Terakhir pada Agustus tahun ini, Vietnam mengalahkan Thailand di final untuk mempertahankan gelar juara mereka.
Sementara itu, FIFA ASEAN Cup 2026 baru saja menggelar edisi perdananya dengan menampilkan 14 tim dalam dua divisi. Berbeda dari Piala AFF, turnamen ini menampilkan tim-tim Asia Tenggara dan beberapa tim undangan dari kawasan lain.
Indonesia menjadi tuan rumah untuk Premier Division, Hong Kong menjadi host Challenge Division. Hong Kong menjuarai Challenge Division usai mengalahkan Kamboja 2-0 di final.
Sementara di Premier Division, Indonesia menjadi kampiun dengan mengalahkan Thailand setelah berjuang sampai babak adu tendangan penalti.
FIFA sempat berupaya meningkatkan daya tarik turnamen dengan mengundang China dan India yang memiliki basis penonton besar, tetapi keduanya menolak.
India memilih menjalani sejumlah pertandingan persahabatan, sedangkan China mengalami kekalahan telak 0-5 dari Palestina di kandang sendiri.
FIFA ASEAN Cup Dinilai Lebih Kompetitif

The Guardian menilai keberadaan Piala AFF mempersulit definisi status FIFA ASEAN Cup. Oleh karena itu, media Inggris tersebut menilai kemenangan Indonesia tidak serta merta membuat mereka menjadi raja di Asia Tenggara.
"Bagi sebagian besar orang di luar Indonesia, semuanya bisa dilupakan dengan cepat," tulis Duerden.
Terlepas dari itu, Duerden menilai FIFA ASEAN Cup 2026 memiliki keunggulan dari segi jadwal karena digelar selama jeda internasional. Dus, semua negara peserta dapat menurunkan tim terkuat mereka karena klub diwajibkan melepas pemainnya.
Hal ini berbeda dari Piala AFF, yang berlangsung di luar jadwal resmi FIFA, sehingga pihak klub berhak menolak melepas pemain yang sudah mereka kontrak. Para pemain unggulan tiap negara pun sulit untuk berlaga di Piala AFF.
Timnas Indonesia dianggap sebagai tim yang paling diuntungkan dengan banyaknya pemain Skuad Garuda di Eropa. "Keunggulan utama turnamen baru ini adalah waktunya, karena diselenggarakan selama jeda internasional."
"Dengan semakin banyak pemain dari kawasan ini yang bermain di Eropa, hal itu berarti semua negara peserta dapat menurunkan tim terkuat mereka, terutama Indonesia." tulis The Guardian.
Hal ini juga diakui gelandang Timnas Thailand, Sarach Yooyen yang menyatakan bahwa FIFA ASEAN Cup lebih intens, kompetitif, dan memiliki atmosfer yang lebih tinggi dibandingkan Piala AFF.
Karena semua tim membawa kekuatan penuh, Sarach Yooyen menyebut seluruh tim berfokus menampilkan standar sepak bola berkualitas tinggi sejak fase awal hingga partai puncak.
Baca Juga: Memahami Identitas Keindonesiaan di Tengah Kemenangan Indonesia dalam FIFA Asean Cup 2026
Selain itu, turnamen ini juga memberikan manfaat besar bagi tim-tim ASEAN dari segi kualitas. Sarach lalu mencontohkan hal itu mengacu partai final FIFA ASEAN Cup 2026 yang dimenangi Timnas Indonesia melalui adu penalti.
"Setiap tim berfokus pada permainan sepak bola yang intens dan berkualitas tinggi, baik dari segi teknik maupun keterampilan," tutur pemain BG Pathum itu.
"Hal ini terlihat jelas di final, di mana situasi bisa berubah kapan saja dalam durasi 90 atau 120 menit. Itulah daya tarik sepak bola sekaligus intensitas turnamen ini." tambahnya.
Pertandingan di FIFA ASEAN Cup juga memberikan bobot poin ranking FIFA yang jauh lebih besar karena dimainkan pada jendela resmi internasional.
Nasib FIFA ASEAN Cup dan Infantino

Meski Indonesia sukses menjadi juara, The Guardian mempertanyakan masa depan FIFA ASEAN Cup di kalender sepak bola Asia Tenggara.
Salah satu sorotan adalah tingkat kehadiran penonton dalam pertandingan yang tidak melibatkan Timnas Indonesia. Sejumlah tribun disebut terlihat kosong ketika negara lain bertanding.
Dari sisi penyiaran, perhatian terhadap turnamen tersebut juga disebut belum merata. Thailand bahkan tidak mendaftarkan diri untuk hak siar sehingga penggemar sepak bola di negara tersebut menyaksikan pertandingan final melalui kanal FIFA.
Namun, bagi Infantino, keberhasilan turnamen tersebut tidak hanya dapat diukur melalui jumlah penonton atau tingkat popularitasnya.
"FIFA ASEAN Cup digelar untuk memberikan peluang kompetitif yang bermakna bagi tim-tim nasional dalam kalender pertandingan internasional pria, sekaligus memberikan kesempatan kepada para pemain untuk mewakili negara mereka dalam persaingan regional dengan intensitas tinggi," ujar Infantino, yang dikutip dari situs resmi PSSI.
Lebih dari sekadar kompetisi, Infantino menilai FIFA ASEAN Cup dapat menjadi momentum untuk mempererat hubungan sepakbola antarnegara di Asia Tenggara.
"Selain itu, turnamen ini juga akan memperkuat hubungan sepak bola di Asia Tenggara, sekaligus menghadirkan momen-momen tak terlupakan dan aksi internasional yang luar biasa bagi para penggemar di kawasan tersebut," lanjutnya.
Pemilihan Presiden FIFA

The Guardian lalu mengaitkan masa depan FIFA ASEAN Cup dengan pemilihan Presiden FIFA mendatang. Dukungan dari asosiasi anggota FIFA di Asia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi posisi Infantino untuk mempertahankan jabatan.
Menjelang Kongres Luar Biasa FIFA untuk pemilihan presiden baru, Infantino aktif bersafari. Dia datang ke Makau untuk peresmian kantor baru, ke Uzbekistan untuk membuka FIFA Arena Mini-pitch, dan puncaknya ke final FIFA ASEAN Cup 2026.
Dukungan di kawasan Asia disebut masih terbagi. Sejumlah asosiasi berada di belakang Infantino, sementara yang lain mengambil posisi berbeda atau masih menunggu perkembangan.
Seperti diketahui, Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir memiliki kesepahaman dengan Infantino dalam banyak hal.
Dia membela Infantino ketika ingin menjual saham Piala Dunia ke investor swasta pada Agustus 2026, meski Asosiasi Sepak Bola Eropa menolak keras.
Dalam konteks tersebut, keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 dinilai memberikan momentum positif bagi Infantino. Peluang FIFA ASEAN Cup masuk kalender pertandingan Asia Tenggara semakin terbuka jika Infantino menang.
Sebaliknya, jika dukungan yang diharapkan tidak terbentuk, masa depan turnamen tersebut masih menjadi tanda tanya. "Itu masih harus dilihat. Jika demikian, kita mungkin akan melihat Infantino dan FIFA ASEAN Cup kembali di Asia Tenggara."
"Jika tidak, maka turnamen tersebut kemungkinan akan berakhir seperti penciptanya," tulis Duerden di bagian akhir artikelnya.
Peluang Infantino Kembali Memimpin FIFA

Sementara itu, peluang Gianni Infantino untuk kembali menjabat sebagai Presiden FIFA bertambah besar setelah Victor Montagliani dikabarkan mundur dalam bursa pemilihan mendatang.
Montagliani saat ini menjabat sebagai Presiden CONCACAF, konfederasi sepak bola yang menaungi Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia. Ia sebelumnya dipandang sebagai salah satu calon potensial untuk menantang Infantino.
Namun, menurut BBC Sport, Montagliani telah memberi tahu rekan-rekannya bahwa ia akan berupaya mendapatkan masa jabatan terakhir sebagai Presiden CONCACAF.
Keputusan tersebut membuat pihak yang menginginkan pergantian kepemimpinan FIFA harus mencari kandidat alternatif sebelum batas waktu pencalonan pada 18 November 2026.
Pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027. Untuk memenuhi persyaratan pencalonan, setidaknya harus memperoleh lima surat dukungan yang diperlukan untuk masuk dalam daftar kandidat.
Montagliani sebelumnya dipandang sebagai calon potensial untuk menantang Infantino. Hal itu mencuat setelah rencana FIFA terkait penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta memicu penolakan.
Di tengah dinamika pemilihan Presiden FIFA, UEFA dan 54 asosiasi nasional anggotanya, dengan Azerbaijan sebagai pengecualian, menyepakati arah reformasi tata kelola badan sepak bola dunia tersebut.
UEFA menilai reformasi kelembagaan saja tidak cukup untuk memperbaiki FIFA. Organisasi sepak bola Eropa itu menyoroti perlunya kepemimpinan yang mampu memulihkan kepercayaan dan menjaga integritas. (est)
Simak info publik, kebijakan & geopolitik dunia di kanal Whatsapp dan Telegram The Stance